Cerita Pilu Karyawan Swasta Dihantam Covid-19, Di-PHK dan Tidak Punya Program Pensiun - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Senin, 13 Juli 2020 10:49 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Cerita Pilu Karyawan Swasta Dihantam Covid-19, Di-PHK dan Tidak Punya Program Pensiun

    Dibaca : 688 kali

    Elegi Karyawan Swasta Dihantam Covid-19, Di-PHK dan Tidak Punya Program Pensiun

     

    Ini hanya cerita pilu seorang karyawan swasta di masa Covid-19. Agar bisa jadi pelajaran. Dicky, bukan nama sebenarnya. Ia selevel manajer dan bekerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta. Sejak Juli 2020 ini, ia jadi salah satu karyawan swasta yang merasakan pedihnya guncangan ekonomi akibat wabah corona.

    Sangat tidak terduga. Ia bertutur, sejak muncul virus corona Maret 2020 lalu, aktivitas kantornya masih berjalan normal. Lalu di bulan April, tempatnya bekerja mulai ada penyesuaian secara bertahap. Jam dan hari kerja mulai dikurangi, tentu dengan dengan konsekuensi pengurangan gaji.

    Seiring menguatnya wabah Covid-19 dan pemberlakuan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), kantornya mengumumkan jumlah hari kerja dipangkas 50%. Otomatis, gajinya pun hanya dibayarkan hanya separuh dari biasanya. THR bulan Mei lalu pun hanya diberikan 50% kepada semua karywan. Wabah Covid-19 memang menghentak semua orang. Bukan hanya pasien positif yang bertambah, korban yang meninggal dunia pun terus bertambah. Banyak orang hanya bisa pasrah.

    Di bulan Juni, kantor tempat bekerja Dicky pun tetap memangkas 50% jam dan hari kerja. Pemberitahuan kepada karyawan hanya dapat dilakukan via WhatsApp secara berantai. Dan karena perusahaan tempat ia bekerja di sektor ritel, keadaan kian sulit untuk membangun bisnis normal kembali. Mau tidak mau, perusahaannya pun mulai melakukan PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Dan Dicky menjadi salah satu karyawan yang di-PHK.

    Hari ini Dicky sudah tidak bekerja lagi. Karier yang dijalani lebih dari 8 tahun pun sirna. Berkarier dari staf, supervisor hingga manajer. Kini, tidak berbekas lali. Virus corona telah mengubah segalanya. Mungkin, cerita pilu ini pun menghantui banyak karyawan swasta lainnya di antero nusantara.

    Apakah cukup sampai di situ? Tidak, cerita pilu Dicky dan keluarga kecilnya berubah jadi elegi kehidupan. Pesangonnya belum tahu akan dibayarkan atau tidak. Program pensiun selama bekerja pun tidak punya. Sementara sejak jadi manajer, gaya hidup dan kebutuhan hidupnya pun meningkat. Maklum, menyesuaikan dengan pangkat seorang manajer. Dan kini, Dicky berada di titik ketidakpastian. Ada nelangsa yang harus dirasa. Dicky itu bukan pekerja di kalangan bawah, bukan pula pekerja informal. Ia di manajerial level, entry middle employee. Elegi seorang karyawan swasta di Jakarta, sudah jatuh tertimpa tangga pula.

    Sungguh, cerita pilu Dicky ini bukan satu-satunya. Masih banyak lagi karyawan level menengah yang mengalami nasib seperti Dikcy. Bahkan ribuan karyawan swasta level menengah di banyak kantor pun kini dihantui keadaan takut seperti Dicky. Lalu, apa yang bisa diambil hikmahnya dari cerita pilu seorang karyawan swasta?

    Hikmahnya adalah banyak karyawan swasta “gagah” di saat bekerja. Tapi sayang, sebagian besar dari mereka justru “loyo” di masa pensiun, di saat tidak bekerja lagi. Akibat lupa mempersiapkan masa tidak bekerja. Tidak mau menyisihkan sebagian gajinya untuk masa pensiun atau hari tua. Maka survei membuktikan, 7 dari 10 pensiunan di Indonesia mengalami masalah keuangan. Bahkan hari ini, 9 dari 10 pekerja yang ada sama sekali tidak siap untuk berhenti bekerja, apalagi pensiun atau di-PHK.

    Saat bekerja, banyak karyawan bisa “membeli” segalanya. Punya gaya hidup yang mentereng. Lebih gemar pada keinginan bukan kebutuhan. Bahkan untuk sebuah eksistensi pun rela merogoh kocek yang tidak kecil. Atas nama gaya hidup.

    Karyawan sering lupa. Masa pensiun sejahtera itu harus diciptakan, perlu diupayakan. Pensiun yang sejahtera bukan nasib. Maka, tidak akan ada karyawan yang pensiun sejahtera bila tidak berani menabung dari sekarang. Menyisihkan Sebagian gaji untuk program pensiun, dan hanya bisa diambil saat masa pensiun tiba.

    Bercermin dari cerita pilu Dicky. Maka siapapun selagi masih karyawan, siapkanlah masa pensiun, menabunglah untuk hari tua. Sejahtera atu tidaknya karyawan di mas apensiun, bukan tanggung jawab kantornya bukan pula tanggung jawab negara. Tapi tanggung jawab dirinya sendiri. Karena pensiun, bukan “gimana nanti” tapi “nanti gimana”. Jangan terlambat untuk mempersiapkan masa pensiun yang nyaman.

    Sungguh, tidak ada jalan pintas untuk meraih masa pensiun yang sejahtera. Masa tidak bekerja lagi itu harus dipersiapkan dari sekarang. Nah, salah satu cara untuk memulainya adalah berani menabung untuk masa pensiun dan hari tua. Melalui program pensiun yang disebut DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan).

    Kenapa DPLK?

    Karena DPLK merupakan program pensiun yang dirancang untuk mempersiapkan masa pensiun yang sejahtera. Agar tiap karyawan dapat memenuhi kebutuhan hidup saat tidak bekerja lagi. Di samping sedikit mampu mempertahankan gaya hidupnya.  Setidaknya, ada 6 (enam) alasan agar karyawan swasta mulai menyiapkan masa pensiun melalui DPLK karena:

    1. Adanya pendanaan yang bersifat “pasti” untuk masa pensiun atau masa tidak bekerja lagi. Agar gaji tidak hanya habis untuk keperluan hidup dan perilaku konsumtif.
    2. Adanya kesinambungan penghasilan saat pensiun. Karena dana yang terkumpul dapat dibayarkan sekaligus atau dibayarkan secara bulanan saat masa pensiun tiba.
    3. Adanya fasilitas perpajakan. Karena setiap iuran yang disetor untuk program pensiun mendapat insentif pajak, hanya 5% pajaknya.
    4. Adanya hasil investasi yang optimal. Karena dana selama menjadi peserta program pensiun akan diinvestasikan dan berpotensi memperoleh imbal hasil yang optimal, apalagi dalam jangka waktu yang panjang.
    5. Ada kepastian untuk karyawan. Karena iuran yang disetor untuk program pensiun secara prinsip dibukukan langsung atas nama karyawan. Artinya, seluruh dana yang tersedia menjadi hak karyawan dan siap dibayarkan saat masa pensiun tiba.
    6. Ada uang di saat tidak bekerja lagi. Karena karyawan jadi lebih disiplin menabung untuk hari tua. Program pensiun prinsipnya hanya dicairkan saat pensiun tiba.

    Maka jangan lagi terbuai gaya hidup. Apalagi di masa Covid-19 seperti sekarang. Ada banyak pelajaran yang bisa diambil. Agar kisah pilu Dicky tidak terulang lagi. Selagi masih karywan, harus ada keberanian untuk menyisihkan sebagian gaji untuk masa pensiun. Dan langkah yang bisa ditempuah adalah menjadi peserta program pensiun DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) yang ada di pasaran.

    Ketahuilah, tidak satupun dari karyawan yang akan bekerja terus-menerus. Cepat atau lambat masa pensiun pasti tiba. Bahkan keadaan tidak bekerja lagi bisa datang kapan saja, dan atas sebab apapun. Maka persiapkanlah masa pensiun diri sendiri. Agar jangan ada kisah pilu seorang karyawan di masa pensiunnya, di masa tidak bekerja lagi.

    Mau seperti apa di masa pensiun, kini pilihannya ada di tangan Anda sendiri …. #EdukasiPensiun #LiterasiPensiun #PDPLK #YukSiapkanPensiun


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.