Kisah Budaya (1); 13 Juli, Dimulai dari Soetta-Changi-Istanbul Ataturk - Travel - www.indonesiana.id
x

Changi Airport

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 13 Juli 2020 15:49 WIB
  • Travel
  • Berita Utama
  • Kisah Budaya (1); 13 Juli, Dimulai dari Soetta-Changi-Istanbul Ataturk

    Dibaca : 887 kali

    Sejatinya, ini kisah sembilan tahun yang lalu, yang sudah tersimpan dalam buku kecil catatan perjalanan saya. Namun, tidak ada salahnya kisah ini saya bagikan, demi menginsipirasi dan memotivasi saya kembali dalam setiap derap langkah kehidupan menuju “ke depan”. Kisah kecil perjalanan itu, dimulai dari 13 Juli 2011 saat saya harus terlibat dalam kegiatan tim misi budaya Indonesia yang mengikuti “International Folklore Festival Veliko Tarnovo”, Bulgaria”, pada 16 – 23 Juli 2011.

    Menariknya, sebelum saya sampai ke tempat acara di Veliko Tarnovo, kegiatan perjalanan misi budaya yang juga didesain sebagai perjalanan tour Eropa, maka keberangkatannya pun dimulai dari tanggal 13 Juli 2011. Kemudian, setelah kegiatan misi budaya di Bulgaria tuntas, 16-23 Juli 2011, tour Eropa, selain Bulgaria dan Turki, juga menginjakkan kaki di Jerman, Belanda, Prancis, Belgia, Swedia, dan Swiss hingga kembali ke Indonesia pada 2 Agustus  2011. Sehingga, kegiatan perjalanan selama 21 hari tersebut benar-benar sangat membekas dan menjadi catatan kecil yang abadi bagi saya.

    Sementara kegiatan utama dalam misi budaya adalah memperkenalkan, mempromosikan, dan melestarikan seni serta budaya Indonesia dalam bentuk tarian tradisional, musik tradisional, dan makanan khas kepada generasi muda internasional yang diikuti oleh berbagai negara seperti Bulgaria, Turki, Italia, Mexico, Irlandia, Rusia, Macedonia, Columbia dll demi semakin mengenal, saling menghormati serta mencintai budaya dan berikrar bersama-sama melestarikan seni dan budaya masing-masing negara. Kegiatan misi budaya yang diwakili oleh para siswa setara SMA dan kelompok seni dari berbagai negara dan mengangkat budaya khususnya tari dan musik tradisional dari berbagai negara, sangat menggembirakan, sebab pemahaman para peserta khususnya wakil Indonesia terhadap nilai-nilai kearifan budaya lokal masing-masing negara, mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

    Selain itu, kegiatan tersebut juga kental dalam menanam persahabatan antar peserta festival yang berasal dari berbagai negara di dunia  yang memiliki latar belakang yang berbeda dari segi budaya (pertukaran budaya).

    Bandara Soekarno Hatta, Changi Airport, dan Istanbul Ataturk Airport

    Untuk menuju Bulgaria, perjalanan udara harus melalui transit di dua bandara yaitu Changi-Singapura dan Istambul-Turki. Hari Rabu, 13 Juli 2011, dengan pesawat Air Bus A330-200 Turkish Airlines dengan nomor keberangkatan TK 67 pukul 19.15 WIB, pun dimulai.

    Sebelumnya dengan persiapan standar, yaitu perlengkapan perjalanan yang sudah menyesuaikan peraturan penerbangan dan berbagai situasi dan kondisi di tempat yang akan dituju, serta dan beberapa lembar mata uang Euro (1 Euro=Rp13.000), membuat saya yakin perjalanan dan kegiatan akan berjalan lancar.

    Pesawat pun mengudara menuju Singapura. Beberapa saat kemudian seorang pramugari mendorong kereta berisi minuman dan makanan. Sepotong roti dan segelas teh hangat cukup memenemani perut hingga sampai ke Bandara Changi. Sekitar pukul 21.00 WIB, pesawat pun mendarat di Bandara Changi.

    Sambil menunggu, kegiatan yang saya lakukan hanyalah duduk, membaca, dan ke toliet. Sebab, memang oleh pemimpin perjalanan kami dilarang ke area lain selain tetap di ruang tunggu. Meski saya menangkap sebuah tulisan di sudut ruangan, “Free Drinking Water” lengkap dengan keran air minum dibawah tulisan itu, dan saya lihat banyak penumpang yang memanfaatkan layanan air minum gratis itu, saya tetap lebih asyik membaca berita aktual dari ponsel.

    Ketika kembali harus berangkat, ada yang menarik dan tak akan terlupakan. Saat melintasi pintu metal detektor, ternyata tas kecil saya yang berisi perlengkapan pribadi ternyata di ambil oleh petugas, dan dibuka, lalu isinya gunting cukur jenggot pun diambil oleh petugas dan dimasukkan ke tempat penyitaan. Selanjutnya petugas menyerahkan kembali tas kecil itu dan mempersilakan saya masuk. Seketika saya heran. Padahal saat melintas pintu metal detektor Bandara Soekarno Hatta, gunting cukur jenggot itu juga tetap berada di sana dan lolos. Tapi, sudahlah. Minimal ini menjadi pembelajaran saja.

    Kini, tibalah saya bersiap menempuh perjalanan sekitar dua belas jam menuju Istambul. Sambil mengisi waktu, karena saya tidak mengantuk, saya pun menonton beberapa film dari layar TV mungil yang ada didepanku, bukan mendengar musik, atau main game. Saya juga menyempatkan membaca berbagai info pariwisata di Turki, atau melihat pemandangan di depan pesawat yang sedang terbang karena di bagian depan pesawat dipasangi camera yang menangkap gambar sehingga setiap penumpang bisa melihat awan, dan pemandangan dari atas.

    Sekitar pukul 24.00, para pramugara-pramugari mendorong kereta makanan menyusuri lorong-lorong antar penumpang. Ternyata menu yang dibagikan masakan Turki. Makanan ini disediakan oleh T urkish Do & Co Catering Service, antara lain ada roti dan cake kacang, pure kentang, ikan salmon steam, salad udang, acar timun, roti+keju putih lembut. Karena kenyang, saya pun dapat tertidur.

    Sampai pada saatnya, para pramugara-pramugari datang dengan kereta makanannya. Menunya kali ini Omelet tebal, kentang steam dengan minyak zaitun, ada daun seperti lalapan, buah zaitun, potongan buah, slice beef dengan keju tebal dan salted butter, roti, selai strawberry dan butter.

    Ringkas cerita, saya dan rombongan pun akhirnya tiba di Bandara Istanbul Ataturk Airport Turki, sekitar pukul 06.15 pagi waktu Turki, dan jam di tangan saya menunjukkan pukul 10.15. kami pun ke  luar dari pesawat, dengan disambut udara dingin. Selanjutnya kisah di Istambul Turki dari pukul 08.30-17.10 pada 14 Juli dalam judul satu hari tour di Turki akan ada dalam catatan berikut...

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.









    Oleh: Supartono JW

    Senin, 27 Juli 2020 18:56 WIB

    Kisah Perjalanan (4) 27 Juli, Sehari di La Vallee dan Disneyland-Paris

    Dibaca : 544 kali

    Hari ini, Rabu, 27 Juli 2011 setelah sarapan pagi, sesuai agenda kami akan bertandang ke La Valee Outlet Shooping Village dan lanjut ke Paris-Disneyland. Sebenarnya, masih ingin badan ini rebahan di kamar hotel, namun apa boleh buat, saya harus mengikuti agenda perjalanan wisata yang memang sudah sangat tertata. Jadi, tidak boleh ada waktu yang meleset dari jadwal yang telah ditentukan. Kemarin, setengah hari ada di Brussel-Belgia, dan setengah harinya lagi berada di bus baik dari Amsterdam menuju Brussel, maupun Brussel menuju Paris, memang tidak begitu banyak menguras tenaga, karena semua perjalanan di tempuh pada siang hari. Nyamannya bus yang membawa kami dan pemandangan indah antara Brussel-Paris, menjadikan kami tak merasakan bahwa kami harus menempuh perjalanan selama kurang lebih 4 jam 40 menit. Bahkan, saat bus harus rehat di rest area pun, kami sebenarnya ingin bus tak perlu berhenti, karena semangatnya kami. Malah saat bus masuk ke Paris, kami pun tak menyadari bahwa kini kami sudah ada di negera Prancis. Bila di sebelumnya kami sudah bercengkerama di Istanbul-Turki selama sehari. Lalu, di Sofia, Veliko Tarnovo, dan Razgrad-Bulgaria selama delapan hari. Berikutnya, singgah di Koln, Duseldorf-Jerman sekitar tiga jam, dan di Volendam, Amsterdam-Belanda selama dua malam satu hari. Kemudian, di Brussel-Belgia setengah hari, maka di Paris-Prancis ini, kami menginap selama empat malam dan bercengkerama selama tiga hari penuh.