Kritisme Lokalitas Dalam Puisi - Urban - www.indonesiana.id
x

Ranang Aji SP

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 14 Juli 2020 13:57 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Kritisme Lokalitas Dalam Puisi

    Buku kumpulan sajak bersama ini diterbitkan dengan semangat lokalitas oleh lima penyair yang hidup di sekitar Gunung Muria. Lima penyair tersebut adalah Asa Jatmiko, Asyari Muhammad, Arif Khliwa, Aloeth Pati dan Salim Sabendino. Lokalitas pada akhir-akhir ini menjadi kesadaran bagi sebagian besar sastrawan di Indonesia. Kesadaran ini tak saja dipantik oleh pikiran besar pascamodern sejak 1970-an yang menghilangkan jarak sentral dan pinggiran, rasionalitas dan irasionalitas. Tetapi juga kesadaran akan kebutuhan realisasi diri demi mempertahankan sesuatu yang ada pada lingkungan sekitarnya.

    Dibaca : 1.492 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul Buku: Sajak Lereng Muria
    Penulis: Asa Jatmiko, Asyari Muhammad dll.
    Tahun Terbit: November 2019
    Tebal Hal: xxxiv + 106
    Penerbit: IniIbuBudi
    ISBN: 978-602-70232-4-6

    Buku kumpulan sajak bersama ini diterbitkan dengan semangat lokalitas oleh lima penyair yang hidup di sekitar Gunung Muria. Lima penyair tersebut adalah Asa Jatmiko, Asyari Muhammad, Arif Khliwa, Aloeth Pati dan Salim Sabendino. Lokalitas pada akhir-akhir ini menjadi kesadaran bagi sebagian besar sastrawan di Indonesia. Kesadaran ini tak saja dipantik oleh gelombang besar pascamodern sejak 1970-an yang menghilangkan jarak sentral dan pinggiran, rasionalitas dan irasionalitas. Tetapi juga kesadaran akan kebutuhan realisasi diri demi mempertahankan sesuatu yang ada pada lingkungan sekitarnya.

    Semangat kontekstual demikian menjadi kesadaran holistik yang menempatkan persoalan ruang lokal sebagai pijakan –yang juga berimplikasi pada keseimbangan lingkungan lain yang lebih luas dan besar. Rusak atau terawatnya lingkungan Gunung Muria dan Gunung Kendeng, misalnya, jelas mempengaruhi kehidupan masyarakat baik di tingkat lokal, nasional bahkan dunia. Maka, penyair, adalah semacam penjaga –yang melihat persoalan kehidupan dan menampilkannya melalui ekspresi citra bahasa. Sajak menjadi alat kritis bagi kehidupan. Menjadi potret untuk dlihat, dirasakan dan pada akhirnya meletupkan kesadaran bersama untuk menjaga.

    Maka, kesadaran lokalitas pada dasarnya adalah upaya manusia melihat secara kritis baik secara personal pun sosial apa yang menjadi ancaman bagi kehidupan. Lokalitas bukan perkara semangat primodial yang secara sempit memandang dunianya lebih baik dari yang lain. Ia juga bukan sekadar tentang pemberontakan atas terpusatnya kontrol ekonomi, politik dan budaya.Tetapi ia adalah kesadaran bahwa seluruh kehidupan baik di kota atau di desa, di tengah atau di pinggiran merupakan jalinan relasi khidupan yang saling mempengaruhi. Maka, ia haruslah memberikan kesadaran dan rasa keadilan bagi seluruh kehidupan.

    Puisi atau sajak, pada dasarnya juga merupakan produk kreatif yang bersifat kritis. Penyair melihat persoalan kehidupan yang diabaikan oleh kebanyakan orang. Penyair atau sastrawan selalu memiliki kepekaan melihat sesuatu yang tak terlihat dari yang terlihat. Mereka mengkritisi situasi tanpa membuat orang menjadi marah. Penyair membuat jalinan kata-kata dengan kelembutan, dengan keindahan, meskipun dalam kemarahan.

    Frank A. Clark, misalnya, seorang politisi Amerika di abad 19 mengatakan bahwa kritik, seperti hujan, harus cukup lembut untuk menyuburkan pertumbuhan orang tanpa merusak akarnya. Dan itu bisa dilakukan oleh penyair atau sastrawan. W.S. Rendra misalnya, begitu indah mengkritik kondisi sosial yang dilihatnya. Meskipun puisinya dikritik oleh Subagyo Sastrowardoyo sebagai pamflet ketimbang puisi. dalam bait terakhir Sajak Sebatang Lisong, Rendra menulis: Inilah sajakku//Pamplet masa darurat.//Apakah artinya kesenian,//bila terpisah dari derita //lingkungan.//Apakah artinya berpikir,//bila terpisah dari masalah kehidupan.

    Maka, bila kita membaca sekitar 90 sajak dalam Sajak Lereng Muria, kita juga melihat bahwa ke lima penyair tersebut dalam upaya kritis memperkarakan atau memperihatinkan kondisi alam lingkungannya. Hampir seluruhnya merupakan sajak atau puisi bebas dan kritis menapak pada isu lokal, lingkungan dan beberapa lainnya bersifat liris dan soaial-universal.

    Sajak Aloeth Pati, misalnya, berjudul “Nyanyian Lereng Muria” berisi keresahan lingkungan di sekitar Gunung Muria yang berubah. “...Lembah berhias flora fauna//sarang lebah madu di sulur batang pohon//legenda macan muria penjaga gunung//rumah hutan teduh margasatwa// ...menjaga kearifan lokal//akankah semua tinggal cerita?” [hal:7].

    Demikian pula Arif Khilwa sajaknya berjudul Banjir: rintik hujan tersesat//mencari jalan pulang//pohon-pohon tak lagi menyapa//tumbang//berganti gedung bertingkat//sungai tak mampu mengantar//terjajah sampah dan limbah//tersumpal//selasela bangunan tesisa//jadi kalan kembali ke muara//tinggalkan duka di rumah-rumah terendam. [hal:18]

    Sajak “Kali Gelis” milik Asa Jatmiko pun demikian pula berisi keresahannya melihat perubaham alam yang ia tinggali di Kudus mulai berubah dari fungsi alamnya. Kini ibu berlepotan tangantangan kita//di atasnya berlayar bertonton sampah//...arusnya melemah//nyaris tak bersuara//matairnya menjelma air mata.

    Buku ini, meskipun tak memperlihatkan hal-hal baru dalam bentuk, namun memiliki isi yang memberikan kita wawasan tentang persoalan lokal di Indonesia. Baik isu lingkungan sosial yang saling berkelindan dengan persoalan interlokal –hingga membangun kesadaran kita secara nasional bahwa ada persoalan besar pada isu-isu lingkungan di tingkat lokal. Mungkin demikian. []

    Ikuti tulisan menarik Ranang Aji SP lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.