Kisah Budaya (3); Bercengkerama di KBRI Sofia Bulgaria dan Menuju Veliko Tarnovo - Travel - www.indonesiana.id
x

supartono jw bulgaria

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 15 Juli 2020 16:21 WIB
  • Travel
  • Berita Utama
  • Kisah Budaya (3); Bercengkerama di KBRI Sofia Bulgaria dan Menuju Veliko Tarnovo

    Dibaca : 846 kali

    Tanggal 15 Juli 2011 pagi, sembilan tahun yang lalu, saya dan rombongan Tim Misi Budaya Indonesia (TMBI) masih berkesempatan bercengkerama dengan Dubes, beserta keluarga besar Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), menikmati sarapan pagi di tengah udara yang sejuk di kota Sofia, Bulgaria.

    Sumber: Supartono JW (Bus Sofia Airport)

    Kendati sudah di Eropa, namun kami merasakan bahwa perbedaan cuaca pada saat itu masih belum signifikan berbeda, bahkan situasi cuaca dan hawanya masih sembelas-duabelas dengan kondisi di Jakarta.

    Sumber: Supartono JW (Sofia Airport)

    Saat kami bertolak dari Istanbul Airport pada 14 Juli sekitar pukul 16.00 waktu setempat, pesawat yang menerbangkan kami hanya butuh waktu sekitar satu jam hingga sampai mendarat di Sofia Airport, Bulgaria, sebab jarak tempuhnya hanya 592 an km, sehingga pukul 17.10, kami sudah ada di negeri tujuan.

    Namun, ada hal yang buat saya unik. Belum lagi kita sampai tempat tujuan utama berfestival, saya dan rombongan malah sudah menambah beban bawaan di kopor kami masing-masing. Pasalnya, saat kami diberikan kebebasan waktu menyusuri pasar tradisonal (Grand Bazaar) di Istanbul Turki, tak ada satu pun dari rombongan yang tak membeli souvenir maupun cindera mata khas Istanbul.

    Memang, setelah usai acara festival, lalu menyinggahi negara-negara lain di daratan Eropa, kami juga akan kembali lagi ke Istanbul Airport sebelum kembali ke Indonesia via Changi Airport dan tiba kembali di Bandara Soetta pada 2 Agustus 2011.

    Meski kami sudah menyiapkan uang Euro secukupnya sebagai pegangan selama di Eropa, ternyata meski Turki juga bagian dari Eropa, namun berbelanja di Turki masih menggunakan mata uang asli Turki yaitu Lira, yang jatuhnya memang lebih murah dibanding Euro. Dan, ternyata, Bulgaria pun sama, lebih banyak menggunakan mata uang negaranya yaitu Lev. Asyiknya 1 Lira dan 1 Liv adalah sama-sama Rp7.000, sementara 1 Euro=Rp13.000 (saat 2011). Jadi, setiap kami membeli 1 botol air mineral, rata-rata harganya pun 1 Lira/1Lev.

    Sumber: Supartono JW (KBRI Sofia Bulgaria)

    Kami datang ke Bulgaria dalam rangka sebagai perwakilan dari Indonesai untuk mengikuti undangan kegiatan Festival Budaya bernama “International Folklore Festival Veliko Tarnovo” (IFFVT), Bulgaria”, pada 16 – 23 Juli 2011, maka kewajiban kami adalah hadir, singgah dan bercengkerama dengan Dubes dan keluarga besar KBRI Bulgaria yang secara teknis dan non teknis akan mendukung keberadaan kami di Bulgaria selama kurang lebih delapan hari.

    Adalah Cioff  (International Council of Organizations of Folklore Festivals and Folk Arts) atau Dewan Internasional Organisasi Festival Rakyat dan Seni Rakyat, yang memberikan kesempatan kami menjadi wakil Indonesia. Cioff adalah organisasi nonpemerintah internasional dalam Kemitraan Resmi dengan UNESCO dan diakreditasi untuk memberikan layanan konsultasi kepada Komite Konvensi UNESCO untuk Perlindungan Warisan Budaya Takbenda. Sementara bila berbicara menyoal folklore, maka di dalamnya adalah kegiatan yang meliputi legenda, musik, sejarah lisan, pepatah, lelucon, takhayul, dongeng, dan kebiasaan yang menjadi tradisi dalam suatu budaya, subkultur, atau kelompok. Folklor juga merupakan serangkaian praktik yang menjadi sarana penyebaran berbagai tradisi budaya.

    Sehingga acara IFFVT memang sudah merupakan agenda Cioff yang tempat penyelenggaraannya akan berpindah dari negara ke negara, benua ke benua, dan diikuti oleh negara-negara di seluruh dunia dalam rangka perlindungan warisan budaya takbenda dan penyebaran tradisi budaya dari berbagai negara di dunia agar segenap generasi muda dapat terus mewarisi dan mempertahankan tradisi budaya dari masing-masing negaranya. Mengapa acaranya menjadi IFFVT? Karena tempat penyelenggaraan atau tuan rumahnya ada di kota Veliko Tarnovo, Bulgaria.

    Sumber: Supartono JW (Rileks di ruang tamu KBRI)

    Selepas bercengkerama dan sarapan pagi, ternyata bus penjemput dari panitia IFFVT sudah tiba di halaman KBRI. Saya dan rombongan pun bergegas menaikkan semua barang bawaan dan perlengkapan untuk festival. Sesuai agenda acara, selepas makan siang, setelah nanti kami semua chek-in di Hotel Veliko Tarnovo, sebagai tempat menginap seluruh rombongan negara peserta, maka semua tim misi budaya dari seluruh negara peserta akan melakukan gladi bersih di panggung utama IFFVT hingga usai, sebelum acara IFFVT secara resmi dibuka pada 16 Juli 2011.

    Sumber: Supartono JW (Bus Panitia)

    Pada akhirnya, kami semua sudah berada dalam bus menuju Veliko Tarnovo. Jarak antara KBRI Sofia ke Veliko sekitar 221, 4 km, sehingga butuh waktu tempuh sekitar 2,5 hingga 3 jam. Saat melintasi jalan tol, jalan kota, hingga jalan desa menuju Veliko, seharunya menjadi membosankan, namun karena sambil menikmati pemandangan dan suasana Bulgaria, maka mata justru terus memandang ke arah kiri dan kanan bus, menyantap keindahan Bulgaria dari atas bus.

    Sumber: Supartono JW (Rest Area, duduk dan antri)

    Di tengah perjalanan, saat bus harus menepi ke rest area, maka semua anggota rombongan pun turut turun demi melepas lelah, ada yang ke kamar kecil, ada yang minum kopi. Ternyata, di rest area, kita juga menemukan warung-warung modern yang tidak berbeda dengan yang sudah menjamur di Indonesia yaitu yang bernama akhir ...mart. Bedanya, setiap kami masuk ke toilet, tidak ada anggaran untuk kita membayar seperti di Indonesia.

    Begitu pun setiap kita masuk ke warung-warung modern, sejak dari Istanbul hingga kini di tengah perjalanan menuju Veliko, kita sudah dapat menakar, bila mau beli air mineral/softdrink dan makanan ringan/snack, maka berapa Lira/Lev yang harus disiapkan.

    Sambil istirahat dan menikmati minuman ringan dan cemilan di rest area, saat itu saya beberapa kali melihat beberapa orang yang berdiri di pinggir jalan, dan mencoba menyetop kendaraan yang lewat. Saat saya tanyakan kepada kru bus, saya mendapat penjelasan bahwa, budaya menumpang mobil orang di sini sudah biasa. Bila beruntung, orang yang ingin menumpang itu saat menyetop mobil akan berhenti dan akan mempersilakan naik, terpenting tujuannya searah.

    Sumber: Supartono JW (Perjalanan)

    Sumber: Supartono JW (Pemandangan Bulgaria)

    Sumber: Supartono JW (Sampai hotel)

    Setelah dirasa cukup melepas lelah, perjalanan pun dilanjutkan dan akhirnya kami sampai ke Hotel Veliko Tarnovo. Terbayang akan masuk kamar hotel, bersih diri, salat, makan siang, lalu menuju panggung utama festival. ...

     

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.









    Oleh: Supartono JW

    Senin, 27 Juli 2020 18:56 WIB

    Kisah Perjalanan (4) 27 Juli, Sehari di La Vallee dan Disneyland-Paris

    Dibaca : 542 kali

    Hari ini, Rabu, 27 Juli 2011 setelah sarapan pagi, sesuai agenda kami akan bertandang ke La Valee Outlet Shooping Village dan lanjut ke Paris-Disneyland. Sebenarnya, masih ingin badan ini rebahan di kamar hotel, namun apa boleh buat, saya harus mengikuti agenda perjalanan wisata yang memang sudah sangat tertata. Jadi, tidak boleh ada waktu yang meleset dari jadwal yang telah ditentukan. Kemarin, setengah hari ada di Brussel-Belgia, dan setengah harinya lagi berada di bus baik dari Amsterdam menuju Brussel, maupun Brussel menuju Paris, memang tidak begitu banyak menguras tenaga, karena semua perjalanan di tempuh pada siang hari. Nyamannya bus yang membawa kami dan pemandangan indah antara Brussel-Paris, menjadikan kami tak merasakan bahwa kami harus menempuh perjalanan selama kurang lebih 4 jam 40 menit. Bahkan, saat bus harus rehat di rest area pun, kami sebenarnya ingin bus tak perlu berhenti, karena semangatnya kami. Malah saat bus masuk ke Paris, kami pun tak menyadari bahwa kini kami sudah ada di negera Prancis. Bila di sebelumnya kami sudah bercengkerama di Istanbul-Turki selama sehari. Lalu, di Sofia, Veliko Tarnovo, dan Razgrad-Bulgaria selama delapan hari. Berikutnya, singgah di Koln, Duseldorf-Jerman sekitar tiga jam, dan di Volendam, Amsterdam-Belanda selama dua malam satu hari. Kemudian, di Brussel-Belgia setengah hari, maka di Paris-Prancis ini, kami menginap selama empat malam dan bercengkerama selama tiga hari penuh.