Bianglala Sastra - Pandangan Simpatik Orang-orang Belanda di Jaman Kolonial - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

cover buku Bianglala Sastra

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 16 Juli 2020 10:23 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Bianglala Sastra - Pandangan Simpatik Orang-orang Belanda di Jaman Kolonial

    Dibaca : 732 kali

    Judul: Bianglala Sastra

    Penulis: Dick Hartoko

    Tahun Terbit: 1985 (cetakan kedua)

    Penerbit: Djambatan                                                                                              

    Tebal: xv + 347

    ISBN:

     

    Seringkali saya berkesempatan, khusus selama saya bertugas di departemen urusan pribumi, memaklumi sebab-musabab yang mendorong mereka untuk memberontak, untuk mengadakan peprangan dengan segala kerugian sebagai akibatnya. Maka dengan rasa menyesal harus saya mengakui, bahwa kesalahan biasanya ada pada fihak atasan, bukan pada fihak bawahan. Demikian disampaikan oleh Roorda van Eysinga, seorang perwira tentara Hindia Timur yang kemudian menekuni bahasa Melayu dan Arab dalam upayanya memahami masyarakat Jawa di abad 19. Kalimat yang saya cuplik dari fragmen karangan Roorda berjudul “Orang Jawa” ini jelas menunjukkan simpati yang besar dari Sang Pemerhati Bahasa ini kepada Bangsa Jawa.

    Selama ini kita diberi gambaran bahwa orang-orang Belanda yang datang ke Nusantara adalah orang-orang yang hanya peduli dengan keuntungan untuk mengeruk hasil bumi di tanah jajahan. Dalam mengumpulkan kekayaan untuk dibawa ke Negeri Belanda, tak segan-segan orang-orang Belanda menindas dan membunuhi rakyat Nusantara. Mereka memandang rendah masyarakat yang tinggal di Nusantara. Pendapat ini benar adanya. Sebab bukti-bukti sejarah memang telah menunjukkan kekejaman penjajah Belanda atas Nusantara.

    Namun, benarkah semua orang Belanda seperti itu? Meski jumlahnya sedikit, namun ada juga orang-orang Belanda yang menaruh simpati dan empati kepada masyarakat Nusantara. Mungkin kita telah mengenal Multatuli atau Eduard Douwes Dekker dan Danudirjo Setiabudi alias Ernest Douwes Dekker. Kakek bercucu Douwes Dekker ini sama-sama berjasa bagi Indonesia. Selain dari dua nama tersebut, kita hampir tidak ada yang tahu orang-orang Belanda lain yang berpihak, atau setidaknya bersimpati kepada Nusantara dan alamnya.

    Jika kita menyukai karya sastra, mungkin sebagian dari kita mengenal nama-nama Tjalie Robinson, Vincent Mahuwai, du Perron, Szekeley-Lulofs dan Johan Fabricus. Nama-nama tersebut karyanya pernah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia dan terbit di tahun 1970-an dan 1980-an oleh Penerbit Djambatan dan Grafiti.

    Buku karya Dick Hartoko ini memberikan banyak informasi tentang orang-orang Belanda yang memandang Nusantara secara positif. Buku ini sesungguhnya adalah saduran dari buku karya Rob Nieuwenhuys yang berjudul “Oost Indische Spiegel.” Dick tentu saja tidak sekadar menterjemahkannya. Dick Hartoko melakukan penyesuaian saat menyadur karya Rob Nieuwinhuys ini. Penyesuaian yang dilakukan diantaranya adalah mengubah cara bertutur untuk menyesuaikan pembacanya. Jika karya aslinya ditujukan untuk pembaca Belanda, maka versi saduran ini diubah menjadi konsumen Indonesia. Untuk itu, Dick Hartoko tidak memuat semua penulis yang tercantum dalam karya Rob.

    Osst Indische Spiegel sendiri adalah buku tentang sejarah sastra Hindia Timur yang ditujukan kepada para pembaca Belanda. Oost Indische Spiegel terbit pertama kali di Belanda pada tahun 1972. Meski disebut sebagai sejarah sastra Hindia Timur, namun sesungguhnya buku tersebut juga memuat hal-hal yang kurang berhubungan dengan sastra. Tulisan tentang kekayaan flora dan fauna Maluku yang ditulis oleh Rumphius dan Kina yang ditulis oleh Junghuhn masuk ke dalam buku ini. Ada juga beberapa laporan perjalanan pejabat Belanda yang bertugas di Hindia Timur, seperti karya van Goen, Baron van der Capellen dan Brumund.

    Siapakah sebenarnya Rob Nieuwenhuys sehingga ia bisa menyusun sebuah karya yang menghimpun data penulis dan karyanya tentang sastra Hindia Timur? Di bagian akhir buku ini, Dick Hartoko memasukkan sosok Rob dengan karya-karyanya. Rob lahir di Semarang pada tahun 1908. Ia dibesarkan oleh seorang pengasuh pribumi bernama Cidah. Dari sang pengasuh inilah Rob mengenal budaya dan cerita-cerita Jawa. Rupanya cerita-cerita yang disampaikan oleh sang pengasuh merasuk dalam benak Rob, sehingga ia bersimpati terhadap orang Jawa. Rob sempat belajar sastra di Belanda. Saat kembali ke Hindia Timur ia berkenalan dengan Djojopuspito, Eddy du Perron, Beb Vuyk dan lainnya, sehingga ia akrab dengan karya-karya sastrawan Belanda yang ada di Nusantara. Saat kembali ke Belanda, ia mempelajari berbagai karya orang Belanda dan beberapa karya orang Indonesia, seperti Kartini dan menyusunnya menjadi buku “Oost Indische Spiegel.” Rob beruntung karena sistem arsip di Negeri Belanda sangat bagus, sehingga ia bisa membaca karya-karya tersebut dengan cukup mudah.

    Membaca buku ini membuat saya memahami mengapa para sastrawan dan beberapa pejabat Belanda mempunyai simpati kepada masyarakat Nusantara. Rupanya pandangan Fajar Budi yang mulai melanda Negeri Belanda di awal abad 19 sangat berpengaruh kepada para penulis tersebut. Pandangan romantis tentang masyarakat merdeka yang tidak terikat pada aturan-aturan seperti di Eropa, menarik banyak pemikir Eropa saat itu. Aliran ini membuat mereka tidak lagi memandang masyarakat di luar Eropa sebagai masyarakat terbelakang, tetapi masyarakat yang perlu dipelajari karena kemerdekaan dan kebahagiaan hidupnya. Pandangan tersebut membuka pikiran para penulis untuk melihat masyarakat Nusantara dan alamnya dengan cara yang berbeda.

    Dalam buku ini disajikan penjelasan tentang sang penulis dan nukilan karya-karya mereka. Apa saja yang mereka tulis? Ada yang menulis cerita rakyat, ada yang menulis tentang sejarah yang diromankan, ada juga yang menulis tentang cerita-cerita rakyat yang tentu saja disesuaikan dengan konsumennya, yaitu masyarakat Belanda.

    Saya sungguh berterima kasih kepada Rob dan Dick Hartoko. Melalui buku ini saya menjadi kenal dengan para penulis seperti Tjalie Robinson atau sering memakai nama samara Vincent Maheu (“CIS” dan “CUK”), du Perron, Szekeley-Lulofs (“Beradu Nasip di Kebun Karet” dan “Koeli”) dan Johan Fabricus (“Suara Burung Kakatua”), kisah hidup Multatuli dan prosesnya sampai menjadi pengarang hebat. Dulu saya hanya memiliki buku-bukunya. Sekarang saya mengetahui latar belakang sang penulis tersebut sehingga saya bisa lebih menghayati karya-karyanya.

    Mereka-mereka yang ditulis dalam buku ini adalah orang-orang yang memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi, melebihi dari minatnya kepada kekayaan dan kemasyhuran.

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.