Sungguh Berani Orang yang Memilih Jadi Hakim...

Jumat, 17 Juli 2020 20:22 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sungguh berani orang yang memilih untuk menjadi hakim, sebab ia merasa mampu memenuhi tuntutan kebenaran dan keadilan masyarakatnya. Dan sungguh berani seorang hakim yang memilih untuk mengingkari kebenaran dan keadilan, padahal ia telah mengetahuinya.

Sebagian orang barangkali lebih memandang posisi hakim sebagai karir ketimbang sebagai panggilan hati untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Dibandingkan profesi hukum lain, seperti jaksa yang tugasnya menuntut terdakwa, pembela yang mendampingi terdakwa, hakim merupakan posisi yang paling mulia, sebab dialah yang memutus suatu perkara. Orang datang ke pengadilan untuk mencari keadilan kepada para hakim. Jadi, jika keputusannya benar dan adil, kemuliaan itu memang layak disandang seorang hakim.

Namun, apakah setiap hakim pernah merenungkan kemuliaan itu—mulia karena menegakkan yang benar secara adil? Ataukah ia lebih memikirkan kelanggenggan karirnya hingga mencapai puncak sebagai ‘hakim agung’? Banyak tantangan yang dihadapi orang yang memilih jadi hakim. Semakin dekat dengan posisi hakim agung, semakin besar pula tantangannya.

Tantangan terbesar yang dihadapi hakim ialah godaan untuk menyerahkan nuraninya untuk ditukar dengan kepentingan lain apapun yang menyimpang dari jalan menuju kebenaran dan keadilan. Sebagian hakim mungkin saja tiba di puncak karirnya dengan menghadapi tantangan yang terjal, namun ia terus mempertahankan nuraninya. Barangkali ia sempat melewati pengalaman seperti Sisipus, yang mendorong batu kebenaran ke puncak bukit, namun batu itu menggelinding kembali ke bawah. Ia mengulanginya berkali-kali, hingga akhirnya—tak seperti Sisipus—ia berhasil meletakkan batu kebenaran dan keadilan itu di puncak bukit. Di situlah kemuliaan seorang hakim.  

Sebagian lainnya bisa saja sampai di puncak tapi dengan mengompromikan suara hatinya. Lantaran memandang kursi hakim sebagai karir semata, ia rela mengompromikan suara nuraninya dengan kepentingan lain, terutama kekuasaan dan ekonomi. Mungkin juga karena tidak berdaya. Andaikan saja mereka tahu bahwa daya dan kekuatan itu bersumber pada kesetiaan pada nurani, dan nurani adalah sumber kebenaran dan keadilan.

Sungguh berani orang yang memilih untuk menjadi hakim, sebab ia merasa mampu memenuhi tuntutan kebenaran dan keadilan masyarakatnya. Dan sungguh berani seorang hakim yang memilih untuk mengingkari kebenaran dan keadilan, padahal ia telah mengetahuinya.

Entahlah, apakah setelah membuat putusan yang mengingari kebenaran dan keadilan, ia ‘sang hakim’ masih sanggup tidur nyenyak. Barangkali saja, dalam mimpinya ia melihat sosok muda dirinya memulai hari pertama di faultas hukum dengan penuh semangat dan berteriak lantang: “Fiat justitia ruat caelum.” [“Tegakkan keadilan meski langit akan runtuh.”] Ketika terbangun, ia tertegun mendapati dirinya sungguh tidak berdaya. >>

Bagikan Artikel Ini
img-content
dian basuki

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler