Dari Masalah Corona sampai Gibran, Cermin Takut Kehilangan yang Bukan Milik - Analisa - www.indonesiana.id
x

takut

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 20 Juli 2020 08:03 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Dari Masalah Corona sampai Gibran, Cermin Takut Kehilangan yang Bukan Milik

    Dibaca : 456 kali

    Corona, RUU, Kabinet, Djoko Tjandra, Gibran, dll; Semua takut kehilangan yang bukan milik.

    Menyepi, tak buka medsos, tak buka berita-berita dari media online, tak membaca berita dari media cetak, tak menyimak berita dan acara televisi dan anggap saja sedang berada di tempat yang jauh dari ingar-bingar rekayasa, kepalsuan, dan sandiwara dunia, rasanya memang membikin pikiran dan hati menjadi plong. Sayang, meski pikiran menjadi plong, tetap saja pikiran dan hati ini terus mengorek-orek liku-liku luka-luka yang dirasakan rakyat di negeri ini.

    Bagaimana tidak, saat coba menyepi dan menepi, terus terbayang gambaran manusia-manusia yang seolah dan secara fisik terlihat mati rasa, tetapi sejatinya, mati rasa itu hanyalah sebuah adegan yang menggunakan pikiran cerdas.

    Sebab, manusia-manusia di dunia tak terkecuali di Indonesia, yang hidup hanya mengejar duniawi dan menghalalkan segala cara demi mewujudkan keinginannya, memang harus kebal dan harus tak punya hati, harus mati rasa.

    Bila manusia-manusia semacam ini sampai punya kesadaran dan punya hati, maka tuntaslah perjuangan manusia-manusia lain yang terus membela kebenaran dan keadilan demi kesejahteraan rakyatnya.

    Karenanya, ketika saya mencoba menyepi barang sehari, tak ikut campur dan mewarnai manajemen kekacauan yang terskenario secara sistematis dan terukur, maka rasanya lega.

    Saat saya coba menyepi dari deru dan langkah para perebut hak-hak rakyat, selalu saya berpikir, mengapa manusia-manusia yang seharusnya menjadi pelindung, pengayom, pembuat rakyat sejatera, justru menjadi perebut kebahagiaan masyarakat?

    Hebatnya, manusia-manusia semacam ini adalah golongan yang takut kehilangan bukan milik. Karena takut kehilangan yang bukan milik, maka melanggengkan trah kekuasaan keluarga, partai, dan wewenang.

    Karena takut kehilangan yang bukan milik, maka memasang koleganya dalam bagi-bagi kursi jabatan.

    Karena takut kehilangan yang bukan milik, maka mengambil bunga bank dari anggaran yang seharusmya dibelanjakan atau direalisasikan, namun terhindar dari delik korupsi.

    Karena takut kehilangan yang bukan milik, maka meski setiap manusia wajah mukanya tetap di tempat, tetap saja banyak yang "mencari muka".

    Manusia-manusia macam begini tahu bila masyarakat menyoroti setiap gerak dan langkahnya, tapi mereka asyik-masyuk saja, tanpa ada beban dan malu, karena jalan takdirnya bukan pemilik semesta yang menentukan, tapi tangan mereka sendiri, dan itulah pikiran mereka.

    Jadi, meski dalam menyepi sehari coba tak peduli, tetap saja ganjalan pikiran tentang manusia-manusia di negeri ini yang terus melanggengkan budaya dan tradisi "takut kehilangan yang bukan milik".

    Yang bukan miliknya saja, takut kehilangan. Apalagi kalau miliknya? Yah, meski sehari coba menyepi dan menepi, tetap saja gelisah itu ada saat saya berpikir akan manusia-manusia yang takut kehilangan yang bukan milik.

     

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.