Pemimpin (Aji) Mumpung - Analisis - www.indonesiana.id
x

Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay

Rusmin Sopian

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 24 Juli 2020 06:59 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Pemimpin (Aji) Mumpung

    Artikel tentang kepemimpinan seorang pemimpin bertipe aji mumpung yang berujung menyusahkan rakyatnya.

    Dibaca : 1.214 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Pemimpin (Aji) Mumpung

    Apa yang akan anda dapatkan sebagai rakyat yang merupakan pemegang tertinggi di negeri ini, ketika bangsa dan daerah anda dipimpin oleh pemimpin berkarakter aji mumpung? Tentunya, sebagai rakyat yang merupakan pemilik dan penguasa di negeri ini, anda tidak akan pernah mendapatkan sesuatu yang bisa membahagiakan anda dan mensejahterakan seluruh penduduk negeri. Tidak akan pernah. Bak mimpi di siang bolong.

    Penyebabnya sangat jelas, karena seorang pemimpin aji mumpung tidak akan pernah memikirkan dan mengurus anda sebagai rakyatnya. Dalam otak besarnya, seorang pemimpin aji mumpung adalah bagaimana dengan jabatan dan kekuasaannya,  sang pemimpin bertipe aji mumpung bisa mendapatkan sebanyak-banyaknya kekayaan dan kehormatan untuk dirinya pribadi, keluarga dan kroninya. Soal apakah rakyat susah atau senang tidak ada dalam kamus kepemimpinanya.

    Sebuah negara atau daerah kalau dipimpin oleh pemimpin bertipe aji mumpung, maka itu adalah sebuah kecelakaan besar. Karena pemimpin bertipe aji mumpung tidak akan pernah mengurus rakyat yang telah memberinya amanah saat di TPS.

    Tetapi bagaimana dirinya, berusaha sebaik mungkin dengan kekuasaan yang dipegangnya, mampu meraup sesuatu dari kekuasaannya sebanyak mungkin. Soal apakah dirinya, mampu mewariskan prestasi bagi rakyat yang dipimpinnya, sehingga dikenang hingga akhir zaman, bagi pemimpin aji mumpung itu tidak ada dalam kamus kepemimpinanya.

    Ketika sebuah negara atau daerah dipimpin oleh pemimpin berkarakter aji mumpung, maka kreativitas rakyat tidak akan pernah dieskalasi sesuai dengan kreativitas rakyat. Sebab bagi pemimpin berkarakter aji mumpung rakyat hanya pelengkap penderita dan bukan faktor kardinal (penting) yang harus dipikirkan dan dimartabatkan sesuai dengan kemampuan dan kreativitas rakyatnya. Bahkan pemimpin aji mumpung sangat khawatir dengan kreativitas tinggi warganya yang dapat mengganggu kekuasaannya yang sepi dari prestasi dan minim kreativitas prestasi.

    Yang makin memperparah kekuasaan pemimpin aji mumpung adalah bawahan yang diberinya amanah justru bukan pegawai yang memiliki prestasi dan mampu berpikir untuk kepentingan rakyat banyak. Namun mereka adalah bagian inheren dari pemimpin aji mumpung yang ikut menikmati kekuasaan dari gaya kepemimpinan pemimpin aji mumpung. 

    Mereka, para pegawai yang diangkat pemimpin aji mumpung selalu berasumsi bahwa jabatan dan kekuasaan yang mereka terima adalah kekuasaan yang diberikan dan diamanahkan pemimpin aji mumpung untuk mereka sehingga mereka berdalih dengan segudang diksi dan narasi, bahwa tanggungjawab mereka kepada pemimpin aji mumpung dan bukan kepada rakyat yang dalam negara demokrasi merupakan pemilik negeri, bangsa dan daerah ini.

    Ketika sebuah negara atau daerah dipimpin oleh seorang pemimpin berkarakter aji mumpung, maka rakyat sebuah negara atau daerah tersebut, tidak akan pernah merasakan " apa-apa " dari kehadiran seorang pemimpin yang telah mereka pilih di TPS. Rakyat mengurus dirinya sendiri. Ketika rakyat miskin mengalami kesusahan dalam menyekolahkan anaknya, sedikit sekali perhatian dan atensi yang diberikan pemerintah daerah. Bahkan rakyat terpaksa kesana kemari untuk bisa mengurus anaknya bersekolah. 

    Demikian pula ketika rakyat miskin mengalami kesusahan masalah kesehatan maka hampir dipastikan perhatian pemerintah daerah dibawah kepemimpinan pemimpin aji mumpung tak ada sama sekali. Rakyat hidup dengan caranya sendiri, seolah-olah tanpa pemerintah dan tanpa pemimpin.Rakyat berjuang sendiri untuk hidup dan berkehidupan. Bisa dikatakan tanpa pemimpin pun rakyat bisa hidup dan tetap eksis menatap kehidupan. 

    Kedepan sebagai pemilik negeri dan daerah ini, kita sebagai rakyat memang harus super hati-hati dalam menentukan pemimpin negeri ini yang akan kita amanahkan sebagai pemimpin. Jangan sampai kehadiran pemimpin dan pemerintah tidak memberikan dampak apa-apa bagi kita sebagai rakyat yang notabene merupakan pemilik negeri dan daerah ini. 

    Sudah waktunya kita cerdas dan cerdas dalam meilih pemimpin kita. Sudah saatnya kita selektif dan menjadikan prestasi sebagai panglima dalam menentukan pilihan kita di TPS-TPS. Toh keledai pun tidak akan mau jatuh dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya.

    Kedepan kita sebagai pemilik bangsa dan daerah ini memang dituntut untuk mampu melahirkan pemimpin yang memang memperhatikan rakyat sebagai bagian inheren dari pemerintah dengan menjadikan seorang pemimpin yang dipilih rakyat secara demokratis dan pemerintah sebagai pelayan dan mengurus segala macam hak hidup kita sebagai penguasa dinegeri ini. 

    Bukan pemimpin yang dengan kekuasaannya yang diamanahkan rakyat justru minta kita layani dan dengan kekuasaannya mengekploitasi bangsa atau daerah ini untuk kepentingan pribadinya, keluarganya dan kroninya. 

    Dan itulah tugas dan tanggungjawab kita sebagai rakyat untuk bersama-sama dalam kurun waktu mendatang ini. Saatnya kita sebagai rakyat melahirkan pemimpin yang betul-betul melayani dan mengurus kita sebagai rakyat. Bukan melahirkan pemimpin aji mumpung. Dan saatnya kita sebagai rakyat cerdas dalam memilih Pemimpin.

    Toboali, 23 Juli 2020

    Ikuti tulisan menarik Rusmin Sopian lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.