Melestasrikan Olah Raga Jemparingan - Travel - www.indonesiana.id
x

wahyu sinangsih

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Juli 2020

Sabtu, 25 Juli 2020 07:52 WIB
  • Travel
  • Berita Utama
  • Melestasrikan Olah Raga Jemparingan

    Dibaca : 598 kali

    memanah

    Jemparingan istilah jawa atau di dalam masyarakat lebih dikenal dengan memanah. Olahraga yang satu kini mulai menggeliat kembali khususnya di Indonesia.

    Olahraga raga jemparingan atau memanah ini memang olahraga yang bisa dilakukan oleh semua kalangan, baik anak anak maupun orang dewasa.
    Memanah kalau dilihat dalam sejarah Islam khususnya di jaman Rasulullah sangat dianjurkan untuk melatih kesabaran dan ketekunan.

    Selain itu olahraga memanah juga bermanfaat bagi tubuh kita. Mata dan tangan menjadi lebih kuat, kebugaran tubuh meningkat. Disisi lain konsentrasi fokus arah tujuan menjadi meningkat pula. jemparingan atau memanah juga sudah dikenalkan nenek moyang kita dahulu, melestarikan budaya leluhur bangsa dengan ikut jemparingan.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.









    Oleh: Supartono JW

    Senin, 27 Juli 2020 18:56 WIB

    Kisah Perjalanan (4) 27 Juli, Sehari di La Vallee dan Disneyland-Paris

    Dibaca : 531 kali

    Hari ini, Rabu, 27 Juli 2011 setelah sarapan pagi, sesuai agenda kami akan bertandang ke La Valee Outlet Shooping Village dan lanjut ke Paris-Disneyland. Sebenarnya, masih ingin badan ini rebahan di kamar hotel, namun apa boleh buat, saya harus mengikuti agenda perjalanan wisata yang memang sudah sangat tertata. Jadi, tidak boleh ada waktu yang meleset dari jadwal yang telah ditentukan. Kemarin, setengah hari ada di Brussel-Belgia, dan setengah harinya lagi berada di bus baik dari Amsterdam menuju Brussel, maupun Brussel menuju Paris, memang tidak begitu banyak menguras tenaga, karena semua perjalanan di tempuh pada siang hari. Nyamannya bus yang membawa kami dan pemandangan indah antara Brussel-Paris, menjadikan kami tak merasakan bahwa kami harus menempuh perjalanan selama kurang lebih 4 jam 40 menit. Bahkan, saat bus harus rehat di rest area pun, kami sebenarnya ingin bus tak perlu berhenti, karena semangatnya kami. Malah saat bus masuk ke Paris, kami pun tak menyadari bahwa kini kami sudah ada di negera Prancis. Bila di sebelumnya kami sudah bercengkerama di Istanbul-Turki selama sehari. Lalu, di Sofia, Veliko Tarnovo, dan Razgrad-Bulgaria selama delapan hari. Berikutnya, singgah di Koln, Duseldorf-Jerman sekitar tiga jam, dan di Volendam, Amsterdam-Belanda selama dua malam satu hari. Kemudian, di Brussel-Belgia setengah hari, maka di Paris-Prancis ini, kami menginap selama empat malam dan bercengkerama selama tiga hari penuh.