Kisah Perjalanan (6) 29 Juli, Jelajahi Kota Paris, La Défense, dan Arc de Triophe - Travel - www.indonesiana.id
x

Supartono JW (Arc de Triomph)

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 30 Juli 2020 10:22 WIB
  • Travel
  • Berita Utama
  • Kisah Perjalanan (6) 29 Juli, Jelajahi Kota Paris, La Défense, dan Arc de Triophe

    Dibaca : 454 kali

    Pagi ini adalah hari ketiga kami berada di kota Paris, Jumat, 29 Juli 2011. Selama dua hari kemarin, sudah ada delapan destinasi besar di kota ini yang kami kunjungi, dan banyak sekali sisi lain dari setiap destinasi tersebut, terutama yang dapat dijadikan contoh baik untuk pemerintah dan masyarakat Indonesia, mengapa setiap destinasi tersebut menjadi daya tarik wisatawan dunia dan menjadikan Paris adalah kota wisata impian bagi setiap insan di jagat raya ini.

    Setelah sarapan pagi di resto Hotel Residhome ini, saya intip catatan agenda wisata hari ketiga:

    FRIDAY 29/JUL/11
    PARIS            HOT BUFFET/FULL BREAKFAST AT HOTEL
    09:00 FULL DAY FREE PROGRAM

    12:00 LUNCH AT: SICHUAN RESTAURANT
    MENU: CHICKEN & SWEETCORN SOUP/SZECHUAN STYLE
    SPICY BEEF / GONG BAO CHICKEN/SLICED FISH WITH
    GINGER & SPRING ONION/SCRAMBLED EGG WITH TOMATO /
    STIR FIRED CHINESE LEAF/RICE / FRUITS / TEA
    18:30 DINNER AT: FONTAINE DE JADE
    MENU: PEKING SOUP (NO PORK)/FISH FILLET IN SPICY
    SAUCE/DEEP FRIED CHICKEN WITH 5 SPICES/SATAY BEEF
    / CHICKEN WITH ONIONS/FRIED SEASONAL VEGETABLES/
    RICE / FRUIT / TEA

    HOTEL - RESIDHOME PARC DU MILLENAIRE

    Dari catatan agenda tersebut, hari ini kami semua diberikan waktu satu hari untuk program destinasi bebas, meski makan siang dan makan malam tetap harus bersama. Setelah sarapan pagi, sebelum kami terpisah menjadi beberapa kelompok, bus mengantar kami La Défense, stasiun kereta api pinggiran kota Transilien, RER, Paris Métro, dan trem. Stasiun berada di berada di bawah gedung Grande Arche di La Défense, kawasan bisnis di barat Paris.

    Sumber: Supartono JW

    Sumber: Supartono JW

    Sementara La Défense sendiri merupakan sebuah distrik bisnis besar untuk kota Paris (Ville de Paris) dan merupakan yang terbesar di Eropa, membatasi Neuilly-sur-Seine, bagian barat kota. Distrik ini merupakan salah satu distrik bisnis utama di Eropa. Begitu bus sampai ke stasiun, kami pun langsung menuju lorong bawah tanah dan mengantre kereta tak beda dengan masuk ke stasiun MRT Duku Atas di Jakarta sekarang (2020).

    Sumber: Supartono JW

    Sumber: Supartono JW

    Sumber: Supartono JW

    Sumber: Supartono JW

    Sumber: Supartono JW

    Untuk tujuan pertama, kami masih dalam satu rombongan, yaitu menuju Stasiun Charles de Gaule Etoile untuk menyambangi Arc de Triomphe de l’Étoile atau biasa dikenal sebagai Arc de Triomphe  (gapura kemenangan). Arc de Triophe lebih tepatnya terletak di tengah bundaran Place Charles de Gaule, ujung barat jalan Champ-Elysees, Paris.

    Monumen ini dibangun dengan ukuran sebesar 45 x 22 x 50 m, selain ukurannya yang begitu besar monument ini dihiasi dengan banyak patung, ukiran dan relief-relief yang menggambarkan perang Napoleon Bonaparte pada masa itu. Saat ini Arc de Triomphe merupakan salah satu monumen paling terkenal di kota Paris yang menjadi latar belakang ansambel perkotaan di Paris.

    Persimpangan jalan yang ada di Arc de Triomphe sendiri membentuk bintang lima. Bagi para wisatawan, tentu akan dapat memahami kisah yang lengkap menyoal gapura kemenangan ini, dengan membaca sejarah selengkapnya di berbagai sumber. Yang pasti, karena gapura kemanangan ini ada di kota Paris, maka siapa pun yang berfoto di depan gapura, akan sangat mudah dikenali bahwa itu adalah Arc de Triomphe  (gapura kemenangan) yang tingkat popularitasnya juga setara dengan Menara Eiffel dan lainnya.

    Ketika berkunjung ke monumen ini alangkah baiknya jika mempersiapkan fisik terlebih dahulu karena para pengunjung akan dibawa menikmati keindahannya dengan berjalan kaki.

    Sumber: Supartono JW

    Mengakrabi Arc de Triomphe  pun usai. Berikutnya, saya dan beberapa anggota perjalanan lainnya, memilih kunjungan ke pusat pertokoan di Paris. Salah satu toko yang kami kunjungi adalah Oscar Music Librairie Musicale. Selanjutnya setiap toko pun kami singgahi dengan maksud mencari barang-barang untuk souvenir.

    Sumber: Supartono JW

    Sumber: Supartono JW

    Saat kami terus menyusuri pertokoan yang tidak jauh dari restoran tempat makan siang kami nanti, saya pun berhenti ketika sedang ada petugas yang mengganti ban sepeda di tempat parkir pinggir jalan (halte sepeda). Setelah petugas itu selesai mengganti ban sepeda, saya pun mencoba mencari tahu tentang masalah sepeda di Paris.

    Petugas itu sangat senang atas kunjungan kami, dan saya pun diberikan tanda mata, ban dalam sepeda yang bentuknya lain dari yang biasa ada di Indonesia. Katanya, silakan simpan ban dalam sepeda ini untuk saya sebagai oleh-oleh dari Paris.

    Sumber: Supartono JW

    Dari obrolan itu saya pun memahami bahwa pemerintah pusat paris menyediakan sarana transportasi yang nyaman baik untuk warganya maupun untuk wisatawan asing yang sedang berwisata menikmati keindahan kota paris dengan sepeda. Namanya Velib, ini merupakan sistem penyewaan sepeda kota yang dibuat pemerintah daerah paris untuk menjakau tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh transportasi umum.

    Jadi halte sepeda itu namanya, Halte velib yang dipasang setiap 300m di setiap distrik di Paris. Total terdapat kurang lebih 23,600 halte velib di Paris. Berkeliling kota Paris menggunakan sepeda velib, perjalanan lebih mudah dan nyaman bagi siapa saja yang menggunakannya dengan terlebih dahulu mendownload mobile aplikasi nya, bernama Velib.

    Aplikasi Velib ini penting jika Anda ingin dengan mudah menemukan lokasi stasiun parkir velib, baik untuk mengambil sepeda atau pun mengembalikannya. Anda hanya akan membayar 1,7 euro untuk pemakaian seharian, dengan catatan sekali pakai tidak lebih dari 30 menit. Jika anda tidak mengembalikan sepeda ke stasiun terdekat dalam waktu setengah jam, akan dikenakan biaya lebih. Dengan sepeda velib, 30 menit merupakan waktu yang cukup untuk sampai dari tempat wisata yang satu dengan yang lain.

    Sepeda valib di Paris ini diluncurkan sejak 15 Juli 2007. Bayangkan, saat corona datang, Indonesia baru latah gaya hidup dengan sepeda, sementara di Eropa, terutama Amsterdam, sepeda adalah alat transportasi utama sejak puluhan tahun yang lalu.

    Sumber: Supartono JW

    Tanpa terasa, ternyata waktu makan siang sudah tiba, saya pun bergegas menuju Sichuan Restauarant. Di sana sudah disiapkan menu: MENU: CHICKEN & SWEETCORN SOUP/SZECHUAN STYLE SPICY BEEF / GONG BAO CHICKEN/SLICED FISH WITH GINGER & SPRING ONION/SCRAMBLED EGG WITH TOMATO / STIR FIRED CHINESE LEAF/RICE / FRUITS / TEA.

    Begitu usai makan siang dan istirahat, ternyata kami semua kompak kembali ke Galeries Laffayette. Ada yang memang masih ingin melanjutkan belanja, ada yang ingin sekadar jalan-jalan, dan lain sebagainya.

    Menjelang Magrib, kami pun sudah tertib menuju La Fontaine de Jade, yang menyajikan masakan Thailand. Malam itu pun kami menyantap menu PEKING SOUP (NO PORK)/FISH FILLET IN SPICY SAUCE/DEEP FRIED CHICKEN WITH 5 SPICES/SATAY BEE/ CHICKEN WITH ONIONS/FRIED SEASONAL VEGETABLES/ RICE / FRUIT / TEA.

    Sumber: Supartono JW

    Sebab hari ini kami lebih banyak menjelajahi kota Paris dengan naik kereta bawah tanah dan berjalan kaki, maka kaki memang terasa lebih lelah dibanding dua hari kemarin. Namun, lelah itu tak sebanding dengan apa yang telah saya dapat dari kota ini. Bahkan, sehari ini, saya bebas jalan-jalan di kota Paris seperti sedang jalan-jalan di Jakarta saja. Luar bisa tiga hari empat malam di Paris, rasanya hanya satu jam. Malam itu, rasanya saya tidur lebih nyenyak dari hari-hari sebelumnya di Hotel Holiday Inn sebelum esok menuju Swiss.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.









    Oleh: Supartono JW

    Senin, 27 Juli 2020 18:56 WIB

    Kisah Perjalanan (4) 27 Juli, Sehari di La Vallee dan Disneyland-Paris

    Dibaca : 508 kali

    Hari ini, Rabu, 27 Juli 2011 setelah sarapan pagi, sesuai agenda kami akan bertandang ke La Valee Outlet Shooping Village dan lanjut ke Paris-Disneyland. Sebenarnya, masih ingin badan ini rebahan di kamar hotel, namun apa boleh buat, saya harus mengikuti agenda perjalanan wisata yang memang sudah sangat tertata. Jadi, tidak boleh ada waktu yang meleset dari jadwal yang telah ditentukan. Kemarin, setengah hari ada di Brussel-Belgia, dan setengah harinya lagi berada di bus baik dari Amsterdam menuju Brussel, maupun Brussel menuju Paris, memang tidak begitu banyak menguras tenaga, karena semua perjalanan di tempuh pada siang hari. Nyamannya bus yang membawa kami dan pemandangan indah antara Brussel-Paris, menjadikan kami tak merasakan bahwa kami harus menempuh perjalanan selama kurang lebih 4 jam 40 menit. Bahkan, saat bus harus rehat di rest area pun, kami sebenarnya ingin bus tak perlu berhenti, karena semangatnya kami. Malah saat bus masuk ke Paris, kami pun tak menyadari bahwa kini kami sudah ada di negera Prancis. Bila di sebelumnya kami sudah bercengkerama di Istanbul-Turki selama sehari. Lalu, di Sofia, Veliko Tarnovo, dan Razgrad-Bulgaria selama delapan hari. Berikutnya, singgah di Koln, Duseldorf-Jerman sekitar tiga jam, dan di Volendam, Amsterdam-Belanda selama dua malam satu hari. Kemudian, di Brussel-Belgia setengah hari, maka di Paris-Prancis ini, kami menginap selama empat malam dan bercengkerama selama tiga hari penuh.