Idul Adha 1441 H di Tengah Corona - Analisa - www.indonesiana.id
x

Idul Adha

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 31 Juli 2020 12:01 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Idul Adha 1441 H di Tengah Corona

    Semoga saja, pelaksanaan Idul Adha 1441 H. di seluruh pelosok Indonesia, tidak semakin manambah klaster baru penyebaran virus corona.

    Dibaca : 492 kali


    Hari ini, sehari sebelum lebaran Idul Adha 1441 Hijriah, 2020, kasus corona di Indonesia sesuai laporan situs Covid19.go.id, per Kamis sore, 30 Juli 2020 total kasus sudah mencapai 106.336 orang, pasalnya hari ini ada penambahan pasien positif 1.904  orang.

    Di tengah kasus yang terus signifikan tinggi, kehidupan masyarakat pun seolah memang dibiarkan bebas oleh pemerintah. Faktanya, mudik pun sudah tidak ada larangan, meski para pemudik berasal dari daerah yang terdata sebagai zone merah penularan corona.

    Memang berbagai protokol kesehatan masih ketat diberlakukan, termasuk adanya hukuman denda bagi warga yang tidak memakai masker. Namun, ada Masjid yang tadinya jarak saf antara jamaah sekitar satu meter, kini jaraknya sudah dipepet hingga setengah meter.

    Di tengah masyarakat yang nampaknya sudah tak peduli corona, meski faktanya corona memang ada dan laporan kasusmya apa rekayasa atau nyata terus bertambah, setali tiga uang, pemerintah juga lebih fokus kepada penyelamatan ekonomi dari pada nyawa, namun dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama dan Muhamaddiyah tetap mendukung himbauan Majelis Ulama Indonesia (MUI) agar salat Idul Adha berjamaah di masjid-masjid di kawasan dalam kategori zona merah ditiadakan.

    Walau demikian, ternyata, semisal beberapa masjid di Jakarta - dengan lima wilayah masuk kategori merah - tetap berencana menggelar salat Idul Adha berjamaah. Pun, masjid-masjid di daerah lain, tetap akan menyelenggarakan salat Idul Adha.

    Atas kondisi ini, PBNU juga menghimbau agar masyarakat muslim sebaiknya mengutamakan menjaga kesehatan diri dan masyarakat, yang sifatnya wajib dalam agama Islam, daripada melaksanakan salat Idul Adha berjamaah yang hukumnya "sunah muakad'.

    Terlebih bagi masyarakat Muslim yang tinggal di tempat atau wilayah yang memiliki otoritas untuk menetapkan zona, misalnya kategori zonanya merah. Maka sesuai dengan kaidah agar mendahulukan untuk mencegah potensi mudharat datangnya penyakit, harus diutamakan daripada mengejar hal yang sifatnya sunah. Maka sebaiknya menyelenggarakan salat Idul Adha di rumah

    Sementara, saya kutip dari suara.com Kamis (30/7/2020)
    Pakar epidemiologi dari Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyono mengatakan potensi kerumunan orang saat penyelenggaraan ibadah Idul Adha, baik ketika salat dan penyembelihan hewan kurban, menciptakan "kemungkinan penularan."

    "Sebaiknya kalau di zona merah dan oranye itu ditutup, tidak dilaksanakan salat Id dan [penyembelihan hewan] kurbannya kalau bisa tidak dihadiri oleh yang akan mendapat kurban, dan sebaiknya diantar [ke rumah-rumah penerima] di zona oranye. Pada zona kuning dan hijau boleh dihadiri asal jaga jarak pake masker.

    "Di zona merah pasti berisiko besar, pasti akan menambah kasusnya," ujar Tri.

    Lebih tegas, protokol salat Idul Adha yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama jauh-jauh hari, sebulan sebelum hari raya Idul Adha, juga sudah terpublikasi dan tersosialisasi di berbagai media massa, sesuai Surat Edaran no. 18 tahun 2020 tentang penyelenggaraan salat Idul Adha tahun ini, di mana isinya mencakup soal pengawasan ibadah di masjid-masjid, lapangan, dan tempat salat lainnya.

    Aturannya, penyelenggaraan salat Idul Adha berjamaah diperbolehkan dengan syarat di antaranya: menyiapkan petugas untuk mengawasi penerapan protokol kesehatan di area tempat pelaksanaan, melakukan disinfeksi di area pelaksanaan, membatasi jumlah pintu keluar masuk guna memudahkan penerapan dan pengawasan protokol kesehatan, menyediakan fasilitas cuci tangan atau hand sanitizer, menyediakan alat pengecekan suhu di pintu atau jalur masuk, dan jika jamaah bersuhu di atas 37,5 derajat Celcius tidak diijinkan masuk area, menerapkan pembatasan jarak minimal 1 meter, mempersingkat pelaksanaan salat dan kotbah Idul Adha, dan tidak menjalankan kotak sumbangan.

    Kendati dua organisasi Islam terbesar di Indonesia telah mengeluarkan imbauan, pakar epidemiologi telah memberikan pengingatan, dan kementerian agama juga telah mengeluarkan edaran menyoal salat Idul Adha di tengah pandemi corona, namun pemerintah justru sebaliknya terkesan membiarkan, maka dapat dipastikan, esok pagi salat Idul Adha di seluruh pelosok negeri ini akan normal-normal saja.

    Yang lebih mengherankan, banyaknya masyarakat yang semakin abai dan tidak percaya akan adanya virus corona karena masalah utamanya tidak percaya kepada pemerintah. Hingga saat ini, belum ada upaya nyata dari pemerintah mengembalikan kepercayaan rakyat kepada mereka.

    Pemerintah justru cuek saja. Malah berbagai kebijakan kini semakin memudahkan masyarakat untuk bepergian dari satu daerah ke daerah lain, di tengah kasus yang juga mereka laporkan terus meningkat.

    Naik kereta api, ada kemudahan, naik pesawat ada kemudahan, naik bus atau angkutan umum lainnya sangat mudah, dan mudik pun bebas.

    Jadi, meski dua dua organisasi Islam terbesar di Indonesia telah mengeluarkan imbauan, pakar epidemiologi telah memberikan pengingatan, dan kementerian agama juga telah mengeluarkan edaran menyoal salat Idul Adha di tengah pandemi corona, semua itu percuma, karena justru tidak sejalan dengan kebijakan pemerintah.

    Pemerintah sendiri yang membuat semua imbauan dan surat edaran menjadi rancu, karena pemerintah sendiri ingkar pada kebijakan yang mereka buat sendiri, sementara kasus corona di Indonesia masih sangat gawat.

    Semoga saja, pelaksanaan Idul Adha 1441 H. di seluruh pelosok Indonesia, tidak semakin manambah klaster baru penyebaran virus corona.

    Pertanyaannya, kira-kira program apa yang akan diluncurkan oleh Bapak Presiden Jokowi, agar rakyat Indonesia percaya virus corona ada, kasus yang setiap hari dilaporkan juga bukan angka rekayasa.

    Tidak usah berpikir rakyat nanti takut atau jadi panik. Sebab, "cara" yang selama ini sudah dijalankan, juga tak pernah membikin masyarakat jadi panik atau takut. Dan, yang paling utama, pemerintah memang sudah saatnya harus jujur dan terbuka tentang corona kepada rakyat.

    Sudah 106 ribu kasus lebih, lho. Melampaui rekor China dan negara-negara Asia. Mau sampai berapa ratus ribu, baru nanti pemerintah jujur dan terbuka, tidak ada data rekayasa?

    Semoga Idul Adha 1441 H. berjalan lancar dan penuh berkah. Tidak ada penambahan klaster baru akibat ibadah salat dan pelaksanaan penyembelihan kurban. Aamiin.

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.