Kasus Anji dan Jerinx, Kinerja Menteri Dua Minggu ke Depan, dan Peluru Perak WHO - Analisa - www.indonesiana.id
x

corona

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 4 Agustus 2020 10:56 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Kasus Anji dan Jerinx, Kinerja Menteri Dua Minggu ke Depan, dan Peluru Perak WHO

    Bila Pak Presiden memberikan waktu dua minggu kepada para menteri untuk kerja keras dalam PAPC-19, lalu Anji dan Hadi Pranoto bahkan sudah dilaporkan ke polisi karena perbuatannya yang dianggap menyesatkan, bagaimana dengan Jerinx? Ingat, WHO bahkan sudah seperti pasrah karena mengungkap corona masih akan ada dibumi ini bertahun-tahun dan tidak akan ada peluru perak yang dapat diartikan masih akan sulit menemukan obat atau vaksin untuk menyingkirkan corona. Mari kita tunggu pergerakan para menteri Jokowi dalam dua minggu ke depan, kita tunggu perkembangan kasus Anji dan sang profesor, dan bagaimana dengan sikap Jerinx yang masih "dibiarkan" di tengah corona yang terus menggerus Indonesia. Bila WHO juga masih banyak dianggap oleh dunia ada konspirasi di balik corona, maka rakyat Indonesia juga tahu, ada pihak di Indonesia malah menjadikan corona sebagai kendaraan untuk mencari keuntungan. Bingungkan?

    Dibaca : 480 kali


    Tidak seperti di negara lain di dunia ini, menyoal pandemi Covid-19 di Indonesia memang paling menarik dan unik. Menarik dan uniknya, karena selain pemerintah Indonesia yang sejak awal kehadiran wabah corona ini tak tegas dalam hal pencegahan, antisipasi, dan penanganan Covid-19 (PAPC-19), bahkan cenderung oleh masyarakat dibilang "compang-camping" hingga kasus pun sampai melampaui jumlah negara asli produsen corona, China karena Presiden pun tetap kukuh pada penyelamatan ekonomi, bukan nyawa.

    Lalu, tak percayanya masyarakat kepada cara PAPC-19 pemerintah dan menyebabkan menjadi abai, cuek, skeptis (kurang percaya; ragu-ragu terhadap keberhasilan), di tambah pula ada kelompok masyarakat yang sangat vokal menentang corona sebagai buah dari konspirasi.

    Untuk pemerintah sendiri, menarik dan uniknya adalah Presiden Jokowi sampai dalam rapat terbatas (ratas) dihadapan para menterinya jengkel dalam dua eposede, pasalnya anggaran untuk PAPC-19 yang telah disiapkan hingga sekarang baru terserap 20 persen. Padahal masyarakat sudah sangat kesusahan dan menderita.

    Sehingga, banyak pihak terus mengungkapkan bahwa dalam kondisi seperti ini, negara tidak hadir. Negara tidak memihak kepada rakyat. Sejak awal corona, negara lebih memilih nyawa rakyat melayang karena yang diprioritaskan ekonomi, pun tak mau menggelontorkan dana/bantuan untuk rakyat.

    Untuk masyarakat, menarik dan uniknya adalah baik masyarakat yang sudah terdidik maupun belum terdidik, dalam kehidupan sehari-hari, sejak corona hadir, tetap saja menjalani kehidupan normal seperti sedang tidak ada virus corona dan mengabaikan protokol kesehatan hampir di semua tempat umum, pasalnya masyarakat harus tetap makan, sementara kehadiran negara untuk makan masyarakat ini jauh dari amanah.

    Padahal corona telah akibatkan PHK massal, pemotongan gaji, matinya usaha di berbagai sektor formal dan informal, yang membikin masyarakat semakin hidup dalam tekanan ekonomi, sosial, dan kesulitan yang berkepanjangan, serta polemik pendidikan.

    Menarik dan unik lainnya, adanya musisi bernama Jerinx, yang sejak awal corona juga tetap konsisten menyuarakan bahwa virus corona adalah hasil dari konspirasi. Bahkan, di dunia maya, media sosial, hingga menjadi konsumsi media massa, Jerinx banyak terlibat berkonfrontasi dengan berbagai pihak yang kurang simpatik kepadanya.

    Sikap Jerinx ini, memang hingga sekarang masih tetap dibiarkan oleh pemerintah tetap "mengudara". Meski, bisa jadi, dari sikap Jerinx ini, juga memiliki andil mempengaruhi pikiran masyarakat yang jadi semakin abai terhadap upaya PAPC-19 dan protokol kesehatan.

    Belum usai persoalan Jerinx yang terus menambah daftar tantangannya kepada berbagai pihak bahwa apa yang dipikirnya adalah benar tentang bukti corona hasil konspirasi, kini masalah bertambah lagi dengan kasus musisi bernama Anji.

    Berbeda dengan Jerinx, Anji yang kini malah sudah dilaporkan ke polisi, juga mencoba menggiring opini kepada masyarakat bahwa corona ini tidak menakutkan dan dalam siaran di chanel youtube nya, memberikan informasi bahwa obat Covid telah ditemukan.

    Memang sangat menarik dan unik untuk kisah dua musisi Indonesia ini yang mencoba ikut masuk ke ranah yang bukan bidangnya, namun terlihat sudah seperti praktisi dan pakar. Apakah ada musisi lain di dunia ini yang bersikap seperti Jerinx dan Anji? Sepertinya, untuk model kasusnya, saya belum pernah menonton atau membaca kisahnya dari belahan dunia lain.

    Di saat kemenarikan dan keunikan terjadi di Indonesia baik dari pihak pemerintah, rakyat, hingga dua musisi, dari Kompas.com, Senin (3/8/2020), Badan Kesehatan Dunia ( WHO) pada Senin (3/8/2020) justru memperingatkan, mungkin tidak akan pernah ada "peluru perak" untuk Covid-19, meski pembuatan vaksin terus dikejar.

    WHO lalu mendesak para pemerintah dan warga negara untuk fokus melakukan langkah-langkah dasar yang sudah diketahui, seperti pengujian, pelacakan kontak, social distancing, dan mengenakan masker, karena masyarakat justru telah membentuk tatanan hidup baru (new normal) di tengah mencuatnya krisis ekonomi, meski corona terus mengganas.

    Kini, di tengah permasalahan para menteri Jokowi yang masih tidak memiliki sense of crisis di tengah pandemi dan malah mengendapkan anggaran PAPC-19 yang baru cair 20 persen meski corona sudah mewabah di bulan kelima, lalu masyarakat yang tetap "ndableg" tidak memperhatikan dan tak peduli pada corona, ditambah dua musisi yang menambah keruh suasana, maka lengkaplah kemenarikan dan keunikan itu.

    Jadi, apakah ungkapan WHO tentang tidak akan ada peluru perak ini tak membawa dampak pada para menteri, masyarakat Indonesia dan dua musisi ini?

    Bila Pak Presiden memberikan waktu dua minggu kepada para menteri untuk kerja keras dalam PAPC-19, lalu Anji dan Hadi Pranoto bahkan sudah dilaporkan ke polisi karena perbuatannya yang dianggap menyesatkan, bagaimana dengan Jerinx?

    Ingat, WHO bahkan sudah seperti pasrah karena mengungkap corona masih akan ada dibumi ini bertahun-tahun dan tidak akan ada peluru perak yang dapat diartikan masih akan sulit menemukan obat atau vaksin untuk menyingkirkan corona.

    Mari kita tunggu pergerakan para menteri Jokowi dalam dua minggu ke depan, kita tunggu perkembangan kasus Anji dan sang profesor, dan bagaimana dengan sikap Jerinx yang masih "dibiarkan" di tengah corona yang terus menggerus Indonesia.

    Bila WHO juga masih banyak dianggap oleh dunia ada konspirasi di balik corona, maka rakyat Indonesia juga tahu, ada pihak di Indonesia malah menjadikan corona sebagai kendaraan untuk mencari keuntungan. Bingungkan?





    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.