Covid dan Selebritas yang Mencuri Waktu Kita - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Kepemimpinan. Pixabay.com

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 4 Agustus 2020 17:46 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Covid dan Selebritas yang Mencuri Waktu Kita

    Kebebasan berpendapat penting. Pandangan alternatif penting. Namun keduanya penting pula untuk dilandasi oleh fundamen data-fakta dan argumentasi yang selayaknya. Para selebritas mestinya mau membuka mata tentang hal ini, dan bukan sekedar berpendapat. Betapapun, popularitas punya tanggungjawabnya sendiri.

    Dibaca : 1.613 kali

    Popularitas atau ketenaran itu nagih alias adiktif. Ketika orang-orang tenar kehilangan panggungnya, sebagian mereka cenderung mencari panggung lain untuk menarik perhatian publik. Tujuannya sederhana: agar ketenarannya tidak pudar seratus persen. Ia ingin tetap dikenal sekalipun tidak sedang berada di habitat aslinya. Ia rindu akan tepuk tangan dan keriuhan sambutan.

    Sayangnya, tidak setiap orang populer atau selebritas menyadari bahwa panggung lain tempatnya ia ingin tetap dikenal bukanlah habitat aslinya. Tidaklah heran bila kemudian sebagian selebritas ini ‘bermain’ tanpa membekali diri dengan pengetahuan yang memadai agar permainannya di panggung baru ini tidak menciptakan kegaduhan yang tak perlu di masyarakat.

    Ketika seorang selebritas, misalnya pemusik, menyuarakan pandangan tertentu di muka umum mengenai isu pandemi, maka semestinya ia membekali diri dengan pengetahuan yang memadai tentang isu tersebut. Ia memiliki kebebasan untuk menyuarakan pandangannya, tapi kebebasan itu juga mesti disertai tanggung jawab terhadap kemaslahatan masyarakat. Terlebih jika seorang selebritas dengan jutaan follower.

    Namun kebebasan berpendapat akan menimbulkan kegaduhan manakala tidak disertai dengan pengetahuan yang memadai. Pernyataan pandangan atas nama kebebasan berpendapat tidak cukup hanya dengan didasarkan prasangka atau kecondongan hati ataupun keyakinan tanpa dasar. “Pokoknya saya yakin bahwa wabah ini buah konspirasi elite global. Banyak hal yang terkesan kebetulan, padahal tidak. Itu rekayasa,” adalah hal yang sering diungkap ketika sebuah pandangan dinyatakan tanpa argumen dan dukungan data-fakta yang layak dipercaya.

    Karena pandangan itu disampaikan oleh selebritas, gema suaranya menyentuh ribuan telinga. Media massa online memberitakan, sebab ia selebritas. Media sosial memviralkannya, karena ia selebritas. Maka, di satu sisi ketenaran tetap terjaga walau ia tidak sedang berada di panggung habitatnya. Namun, di sisi lain timbul kegaduhan karena ia tidak menguasai benar panggung barunya.

    Selebritas-selebritas ini agaknya memang ingin menyampaikan pandangan yang berbeda, tapi pandangan itu tidak didasari oleh bukti objektif. Misalnya saja, ketika ada orang—profesor sekalipun—mengatakan sebuah ramuan mujarab, seharusnya penerimaannya didasari oleh pemahaman yang cukup, atau setidaknya ia tidak membuang jauh-jauh sikap kritisnya hanya karena orang itu mengaku seorang guru besar.

    Kegaduhan itu telah mencuri waktu kita. Perhatian kita teralihkan dari sesuatu yang penting kepada isu yang menciptakan kegaduhan ini. Waktu kita tercuri. Perhatian teralihkan. Ruang-ruang media online dan ruang-ruang media sosial tersitas oleh kegaduhan. Para ilmuwan dan pejabat terkait sibuk memberi tanggapan. Berapa besar biaya sosial yang harus kita bayar untuk kegaduhan semacam ini? Tidakkah lebih baik bila biaya sosial ini kita gunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat?

    Kebebasan berpendapat penting. Pandangan alternatif penting. Namun keduanya penting pula untuk dilandasi oleh fundamen data-fakta dan argumentasi yang selayaknya. Para selebritas mestinya mau membuka mata tentang hal ini, dan bukan sekedar berpendapat. Betapapun, popularitas punya tanggungjawabnya sendiri. >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.