Ketergantungan Partai Politik pada Sosok Karismatis - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto didampingi Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon tiba di DPP PKS untuk membahas hasil Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional, di Jakarta, Senin, 30 Juli 2018. Hasil Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional menunjuk Prabowo sebagai Calon Presiden 2019 serta Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Aljufri dan Ustaz Abdul Somad sebagai Cawapres. TEMPO/M Taufan Rengganis

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 11 Agustus 2020 12:19 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Ketergantungan Partai Politik pada Sosok Karismatis

    Para ketua umum partai politik, yang menjabat berkali-kali, barangkali menikmati posisi sebagai sosok sentral yang tidak tergantikan oleh orang lain. Di sisi lain, elite di bawahnya belum percaya diri untuk menggantikan seniornya itu. Para kader partai yang lebih bawah juga belum siap ditinggalkan oleh figur sentral tersebut. Mereka masih membutuhkan tokoh-tokoh tersebut sebagai ‘perekat’ partai.

    Dibaca : 1.493 kali

     

    Bukanlah hal yang luar biasa bahwa Prabowo Subianto terpilih kembali sebagai Ketua Umum Partai Gerindra dalam Kongres Luar Biasa. Prabowo tetap merangkap jabatan penting lainnya, Ketua Dewan Pembina—sesuatu yang tak dijumpai di partai-partai lain. Rangkap jabatan ini juga menunjukkan betapa Gerindra terfokus pada figur Prabowo.

    Sejak Gerindra berdiri pada 2008, partai ini memang tidak lepas dari figur Prabowo, walaupun ketua umum pertamanya adalah Suhardi. Ketika Suhardi meninggal dunia pada 2014, Prabowo menggantikannya untuk kemudian terpilih kembali saat ini dan menjadi ketua umum hingga lima tahun mendatang. Ini akan menjadi periode kedua kepemimpinan Prabowo sebagai ketua umum.

    Dibandingkan Prabowo, Muhaimin Iskandar lebih lama memimpin Partai Kebangkitan Bangsa [PKB]. Setelah menggantikan Alwi Shihab pada 2005, Muhaimin selalu terpilih menjadi ketua umum partai yang didirikan oleh Gus Dur dan sejumlah kiai Nahdlatul Ulama ini. Muhaiman sudah 15 tahun memimpin PKB dan sedang menjalani periode ke-4 kepemimpinannya hingga 2024.

    Megawati Sukarnoputri bahkan memimpin PDI-P lebih lama lagi. Sejak dibentuk 21 tahun yang lampau, posisi Mega sebagai ketua umum partai tidak tergantikan dan ia masih akan memimpin hingga 2024. Mega sedang menjalani periode ke-5 jabatannya. Ketika Agustus tahun lalu berlangsung kongres PDI-P sempat terembus kabar bahwa salah satu anak Mega—Prananda atau Puan—akan menggantikan posisinya sebagai ketua umum, namun ternyata tidak terbukti.

    Partai Amanat Nasional [PAN] sejak berdiri pada 1998 juga selalu lekat dengan nama Amien Rais. Namun pada kongres partai pada Februari 2020, Amien tidak memperoleh posisi apapun dalam kepengurusan PAN yang untuk kedua kalinya dipimpin Zulkifli Hasan. Meskipun berbesanan, Amien dan Zulkifli punya pandangan berbeda dalam relasi dengan pemerintahan Jokowi. Amien bersikap kritis, sedangkan Zulkifli cenderung mendekat. Bagi Zulkifli, ketidakhadiran Amien memudahkan gerak langkahnya, tapi sekaligus menjadi tantangan apakah PAN akan semakin besar atau sebaliknya.

    Partai Demokrat juga lekat dengan sosok SBY, bahkan sejak partai itu didirikan ada 2001, meskipun SBY baru menjabat ketua umum pada 2013 untuk menggantikan Anas Urbaningrum. SBY menjabat ketua umum partai selama tujuh tahun, dan ia digantikan oleh anak sulungnya, Agus Harimurti. Jabatan SBY saat ini, yakni Ketua Majelis Tinggi Partai, memungkinkannya untuk tetap menjadi figur berpengaruh di Partai Demokrat sekaligus menjadi mentor politik bagi Agus yang tengah merintis karir politiknya.

    Kepemimpinan partai politik yang cenderung stagnan itu memeprlihatkan bahwa jagat politik di negeri kita agaknya sulit melepaskan diri dari figur atau sosok kharismatis. Daya tarik partai mungkin bukan pada nilai dan cita-cita yang diusung, melainkan kharisma—siapa orang yang menjadi nomor satu di partai itu. Kemungkinan ini memang perlu ditelaah lebih lanjut, namun setidaknya fakta objektif memperlihatkan kecenderungan semacam itu.

    Para elite partai kerap mengatakan bahwa kaderisasi partai terus berjalan. Namun, posisi ketua umum yang dipegang oleh figur yang sama selama bertahun-tahun, bahkan ada yang lebih dari 10 tahun, itu menunjukkan bahwa partai politik kita sangat bergantung kepada figur tertentu. Partai juga lekat dengan sosok tertentu: Gerindra dengan Prabowo, PDI-P dengan Megawati, Demokrat dengan SBY, PKB dengan Muhaimin, dan Nasdem dengan Surya Paloh.

    Di satu sisi, para elite puncak ini barangkali menikmati posisi sebagai sosok sentral yang tidak tergantikan oleh orang lain. Menjadi orang yang sangat berpengaruh jelas merupakan godaan tersendiri yang tidak setiap orang sanggup menanganinya secara tepat. Di sisi lain, elite di bawahnya belum percaya diri untuk menggantikan seniornya itu. Begitu pula, para kader partai yang lebih bawah lagi juga tampak belum siap ditinggalkan oleh figur sentral tersebut. Mereka masih membutuhkan tokoh-tokoh tersebut sebagai ‘perekat’ partai. Agaknya, sejauh ini, hanya PAN yang ‘berani’ melepas Amien Rais walaupun ini terjadi mungkin karena desakan dari luar.

    Bila melihat jejak kepemimpinan figur-figur sentral dan berpengaruh tadi di masing-masing partai, dapatkah kita menyebut bahwa kepemimpinan tokoh sentral itu berhasil? Dalam kajian mengenai kepemimpinan, para guru manajemen sepakat dalam beberapa hal, satu di antaranya ialah: kepemimpinan yang berhasil ialah bila mampu melahirkan pemimpin-pemimpin baru, yang bahkan lebih hebat dari dirinya sendiri. >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.