Bersatu Padu untuk Aspal Buton - Analisa - www.indonesiana.id
x

Indŕato Sumantoro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Juli 2020

Selasa, 11 Agustus 2020 12:28 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Bersatu Padu untuk Aspal Buton

    Aspal Buton memerlukan bantuan Bapak Presiden. Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Menteri ESDM, Menteri PUPR, MMenteri BUMN, Menteri Perindustrian, Menteri Perdagangan, dll untuk mampu mensubstitusi aspal impor guna menyejahterakan rakyat Indonesia. Pemerintah, pihak swasta, dan seluruh rakyat Indonesia harus bersatu untuk aspal Buton demi menyejahterakan rakyat Indonesia. Inilah sebenarnya yang merupakan kata kunci dari sense of crisis dimana semua pihak harus mampu bersatu padu untuk menuju cita-cita yang satu, yaitu Indonesiaku – Indonesia kita bersama.

    Dibaca : 820 kali

    Siapakah di Negara Republik Indonesia tercinta ini yang paling bertanggung jawab mengenai aspal Buton? Indonesia sudah 75 tahun merdeka, tetapi rasanya aspal Buton masih belum merdeka. Apa yang salah dengan aspal Buton sehingga sampai sekarang ini aspal Buton masih belum juga mampu mensubstitusi aspal impor? Perlukah kita mencaritahu siapa yang bersalah? Atau mungkin lebih baik kalau kita mencaritahu siapa yang benar?.

    Mengutip berita di Media tanggal 8 Juli 2020, Presiden Joko Widodo kembali mengingatkan kepada para menterinya bahwa kondisi dunia saat ini tengah mengalami krisis, terutama di bidang kesehatan dan ekonomi. Oleh sebab itu, Pak Jokowi meminta agar seluruh menteri-menterinya untuk memiliki sense of crisis yang sama, dan bekerja lebih keras dan lebih cepat lagi. Pak Jokowi juga mendorong jajarannya untuk tidak hanya bekerja dengan menggunakan cara-cara yang biasa-biasa saja.

    Pak Jokowi benar. Dalam situasi krisis seperti apa yang sekarang sedang kita rasakan ini para menteri tidak boleh hanya bekerja dengan menggunakan cara-cara yang biasa-biasa saja. Para menteri harus bekerja secara luar biasa. Apa yang dimaksud dengan bekerja secara luar biasa itu? Kalau bekerja secara biasa, kita lebih banyak bekerja dengan menggunakan akal pikiran. Tetapi kalau kita bekerja secara luar biasa, kita harus bekerja dengan lebih banyak menggunakan hati nurani.

    Dalam situasi krisis ekonomi seperti sekarang ini, para menteri harus mampu mencari peluang-peluang solusi terobosan baru yang inovatif, khususnya di bidang-bidang yang mempunyai dampak langsung terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi. Dan yang lebih spesifik lagi adalah di bidang-bidang yang mampu menghasilkan produk-produk lokal guna mensubstitusi produk-produk impor. Dengan menghasilkan produk-produk lokal untuk mensubstitusi produk-produk impor, maka hal ini akan menciptakan banyak sekali lapangan kerja yang sangat dibutuhkan oleh rakyat Indonesia.

    Pak Jokowi sudah benar untuk memfokuskan pembangunan infrastruktur-infrastruktur guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Dan para menterinyapun harus mendukung secara luar biasa visi Indonesia Maju pak Jokowi tersebut. Salah satu aspek yang wajib didukung oleh para menteri adalah memproduksi aspal Buton ekstraksi untuk mensubstitusi aspal impor. Mengapa harus aspal Buton? Berikut ini adalah penjelasannya.

    Indonesia sudah mengimpor aspal sejak tahun 1980-an. Jadi Indonesia sudah mengimpor aspal selama 40 tahun. Sampai kapankah Indonesia masih harus terus menerus mengimpor aspal? Padahal di era pemerintahan Pak Jokowi ini kebutuhan aspal sangat banyak sekali. Setiap tahun kebutuhan aspal meningkat terus dengan meningkatnya pembangunan infrastruktur jalan-jalan. Apakah aspal Buton terlupakan?

    Terlupakan atau terabaikan itu adalah sama saja. Dan penyebabnya adalah karena selama ini para menteri bekerja dengan menggunakan cara yang biasa-biasa saja.Tidak ada sense of crisis. Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Pada saat ini harga aspal impor di Indonesia berkisar US$ 700 per ton. Sedangkan harga aspal internasional adalah berkisar US$ 400 per ton. Anehnya, kenaikan harga aspal yang signifikan ini tidak menimbulkan gejolak di tengah masyarakat. Mungkin karena semua orang sedang sibuk menghadapi wabah pandemi Covid-19. Sehingga orang-orang tidak peduli lagi dengan adanya kenaikan harga aspal yang signifikan itu.

    Apakah kenaikan harga yang luar biasa ini disebabkan oleh kenaikan harga minyak bumi dunia, atau karena pandemi Covid-19 ? Siapa yang dapat menjelaskan, dan siapa yang harus bertanggung jawab? Kalau tidak ada orang yang mempermasalahkan kenaikan harga aspal ini, maka dapat dianggap bahwa kenaikan harga aspal itu adalah wajar dan biasa-biasa saja. Tidak perlu dibesar-besarkan. Dan hal ini membuktikan dan menunjukkan bahwa memang sebenarnya tidak ada sense of crisis sama sekali. Jadi pendapat Pak Jokowi sudah benar.

    Seharusnya dengan melihat trend harga aspal yang cenderung meningkat terus setiap tahunnya, para menteri sudah harus berupaya untuk mencari alternatif-alternatif solusi terobosan lain untuk mencegah terjadi kenaikan harga tersebut. Aspal adalah komoditi utama untuk pembangunan infrasruktur jalan-jalan. Dengan adanya kenaikan harga yang sangat signifikan tersebut, maka akan berakibat fatal kepada kenaikan biaya-biaya Proyek secara keseluruhan. Kenaikan harga ini bukan hal yang biasa. Tetapi ini sudah merupakan hal yang sangat luar biasa. Dan apakah rakyat yang harus menanggung biaya-biaya kenaikan harga aspal ini?

    Sebenarnya isu aspal Buton untuk mensubstitusi aspal impor itu sudah sangat lama sekali. Jadi bukan merupakan hal yang baru. Tetapi oleh karena tidak adanya sense of crisis, maka penanganannya dilakukan secara biasa-biasa saja. Dalam bahasa Jawa dapat disebut sebagai tidak ada greget. Dan dalam bahasa Inggris dapat disebut sebagai tidak ada passion. Dan dalam bahasa sufi dapat disebut juga sebagai belum ada pencerahan.

    Oleh karena itu setelah Pak Jokowi sudah mengingatkan kepada para menterinya untuk memiliki sense of crisis yang sama, maka para menteri harus segera duduk bersama untuk menyamakan persepsi masing-masing mengenai makna yang tersurat dan yang tersirat dari sense of crisis tersebut.

    Tetapi sudah hampir dapat dipastikan bahwa para menteri akan mengintepretasikan sense of crisis tersebut sesuai dengan perspektif kementerian yang dipimpinnya masing-masing. Mereka hanya akan melihat permasalahan-permasalahan dan peluang-peluang dengan menggunakan kacamata mereka sendiri-sendiri. Dan apabila benar hal ini yang telah dilakukan, maka para menteri masih tetap bekerja dengan menggunakan cara-cara yang biasa-biasa saja. Cara bekerja mereka masih belum juga berubah.

    Untuk bekerja secara luar biasa dengan menggunakan lebih banyak hati nurani, maka yang harus pertama-tama dilakukan oleh para menteri adalah menanamkan niat yang kuat di dalam hati mereka untuk bekerja keras, cerdas, dan ikhlas  guna menyejahterakan rakyat Indonesia karena Allah SWT. Dengan adanya niat yang baik ini, maka Allah SWT akan membukakan jalan-jalan keberkahan yang sangat luar biasa.

    Selain memohon bantuan kepada Allah SWT untuk menyelesaikan berbagai masalah-masalah negara seperti apa yang disebutkan oleh Pak Jokowi sebagai: “Ruwet, ruwet, ruwet”, para menteri juga harus saling berkomunikasi, bersinergi, dan meminta bantuan. Meminta bantuan bukanlah pekerjaan yang hina dan rendah. Sebagai manusia kita tidak sempurna. Oleh karena itu meminta bantuan dengan tujuan untuk menyejahterakan rakyat Indonesia adalah pekerjaan yang mulia. Dan menolong orang lain yang meminta bantuan untuk tujuan menyejahterakan rakyat Indonesia adalah pekerjaan yang mulia juga. Dan apabila para menteri saling tolong menolong dalam berbuat kebaikan untuk menyejahterakan rakyat Indonesia, maka Allah SWT akan memberikan karuniaNya yang sangat luar biasa besarnya kepada Bangsa dan Negara Indonesia.

    Aspal Buton memerlukan bantuan Bapak Presiden Jokowi, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Menteri ESDM, Menteri PUPR, Menteri BUMN, Menteri Perindustrian, Menteri Perdagangan, dll untuk mampu mensubstitusi aspal impor guna menyejahterakan rakyat Indonesia. Pemerintah, pihak swasta, dan seluruh rakyat Indonesia harus bersatu untuk aspal Buton demi menyejahterakan rakyat Indonesia. Inilah sebenarnya yang merupakan kata kunci dari sense of crisis dimana semua pihak harus mau dan mampu bersatu padu untuk menuju cita-cita yang satu, yaitu Indonesiaku – Indonesia kita bersama.

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.