Usia Mau 75 Tahun, Degradasi dan Komunikasi Terus Memburuk di Negeri ini, Inilah Biang Keladinya

Selasa, 11 Agustus 2020 18:47 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Inilah akibatnya bila keterampilan berbahasa (mendengar, berbicara, membaca, menulis) dan literasi yang mencakup norma etika di dalamnya tak tuntas dan tak lulus, sementara guru dan sekolah juga terus membiarkan keterampilan dan kondisi ini jalan di tempat. Lulus menjadi formalitas, menjadi SDM di semua posisi pun tak matang literasi dan keterampilan berbahasa, khususnya komunikasi diri dan publik. Para politisi dan elite partai di parlemen dan pemeritahan tak dapat jadi panutan, para pejabat dan pemimpin bangsa pun tak menjadi teladan. Krisis yang berkepanjangan dalam tataran komunikasi di negeri ini dan terus dalam kondisi degradasi. Degradasi (kemunduran, kemerosotan, dan penurunan tentang mutu, moral, pangkat, dan sebagainya) karena komunikasi yang tak lulus, buruk, dan terus subur menjelang HUT Kemerdekaan RI, siapa yang harus bertanggungjawab?


Mengapa sebuah tujuan program kegiatan seringkali gagal tak mencapai target? Di antara banyak faktor penyebabnya, satu di antara masalah terbesarnya adalah gagalnya komunikasi di awal program kegiatan tersebut dirancang.

Sebagai sebuah catatan dan pengalaman nyata yang banyak saya dapati di lapangan adalah, kegagalan demi kegagalan komunikasi ini karena sudah terjadi, membudaya dan mentradisi khususnya di Indonesia yaitu pada saat anak-anak usia dini dan muda mengikuti proses pembelajaran tatap muka di dalam kelas. Akhirnya budaya tak disipilin dalam berkomunikasi ini terbawa hingga anak-anak menjadi dewasa dan terjun dalam lingkungan masyarakat dan bekerja sesuai bidangnya masing-masing?

Budaya dan tradisi apakah itu? Dia adalah budaya dan tradisi menjadi pendengar yang baik. Saya temui, banyak sekali guru-guru baik di tingkat SD, SMP, dan SMA sederajat, yang belum mampu menjinakkan siswa menjadi pendengar yang baik di dalam kelas.

Ironisnya, guru-guru semacam ini malah seringkali terus asyik tancap gas mengajar menyampaikan materi pelajaran, bukan malah mendidik melalui materi pelajaran tersebut karena dikejar target kurikulum dan alokasi waktu pembelajaran. Miris.

Kejadiannya adalah, saat guru terus berbicara dalam pembelajaran yang masih didominasi oleh kemampuan standar guru, yaitu ceramah, maka guru bicara, murid pun bicara bahkan konsentrasinya pun bukan pada materi yang sedang diajarakan. Dalam kondisi seperti ini, kebanyakan guru yang belum memiliki kemampuan profesional justru malah akan ada yang cuek atau malah stres karena para siswanya tidak bisa diam dan tidak bisa konsentrasi.

Jelas, siapa yang di sini dipersalahkan? Jelas si guru. Padahal, untuk membuat siswa diam dan kembali berkonsentrasi belajar, guru hanya perlu diam lalu tatap ke arah siswa yang tidak konsentrasi atau ngobrol dan bicara dengan temannya tidak memperhatikan pelajaran.

Hingga sampai detik ini, kejadian di kelas-kelas dalam KBM di semua jenjang pendidikan masih terjadi di Indonesia. Guru belum mampu menjadi pendidik sekaligus aktor/aktris sebenarnya dengan peran dan label bernama guru. Guru tak memiliki wibawa dan banyak diremehkan murid.

Bagaimana materi pelajaran akan masuk ke otak siswa, sementara kondisi KBM tak kondusif, guru pun sekadar menjalankan tugas menyampaikan materi tanpa berpikir mendidik perilaku siswa terutama menjadi pendengar yang baik melalui seluruh materi pelajaran.

Bahkan banyak kasus saya dapati, siswa merasa belum paham atau belum diajarkan, tapi guru sudah melakukan tes atau ulangan. Inilah awal mula gagal paham.

Bangku sekolah SD, SMP, dan SMA sederajat bahkan bangku kuliah, adalah kawah candradimuka lahirnya Sumber Daya Manusia (SDM) yang cerdas, berkarakter, dan tangguh untuk perjuangan Indonesia, tapi di tempat itu, para siswa hingga mahasiswa tidak terbentuk karakternya khusus dalam keterampilan berbahasa paling vital, yaitu mendengar.

Bagaiamana mau bicara dan menulis dengan benar, baik, dan berkualitas, bila pondasi mendengar lalu membacanya saja terus terabaikan dan dibiarkan oleh para guru.

Bahkan generasi sekarang sudah banyak yang menyebut sebagai generasi pembaca judul saja. Banyak sekali berita di media massa dan media online yang dapat menambah wawasan dan keilmuan, anak-anak zaman sekarang malas membaca isinya. Parahnya lagi, baru membaca judulnya sudah sok tahu dan merasa mengerti isinya.

Inilah bila selama ini cara berkomunikasi di dalam kelas antara guru dan siswa tak ada perbaikan dan penanganan serius. Saat guru berbicara, dalam komunikasi satu arah, maka guru adalah pemegang kendali. Guru wajib mampu mengendalikan situasi agar suasana kondusif, tidak ada siswa yang mengganggu kondisi siswa lain yang mau belajar sungguh-sungguh. Ada berbagai cara untuk menjinakkan siswa yang "mengganggu" dan itu semua harus tuntas di dalam kelas.

Tapi saat sikap siswa dibiarkan menjadi pendengar yang tidak baik, yang fatal, sikap itu terus terbawa dalam kehidupan nyata.

Kita lihat saat ada siaran para narasumber di layar kaca dengan status diskusi, yang artinya bukan bicara satu arah, ada moderatornya yang mengatur waktu dan kesempatan bicara. Tetap saja ada narasumber yang tak lulus ilmu keterampilan berbahasa dan etika. Tak dapat menjadi pendengar yang baik, menyelak, bahkan menampilkan mimik meremehkan saat nara sumber lain berbicara.

Bahkan dalam tajuk siaran dua arah di layar kaca juga, meski ada moderator, tetap saja nara sumber tak lulus etika dan menjadi pendengar yang baik, pun bicaranya tak santun, kasar.

Bila kita lihat dalam grup media sosial semacam wa misalnya, saat ada anggota grup sedang membicarakan topik apa, tiba-tiba ada anggota lain yang bicara topik lain dan diiringi oleh anggota lainnya sehingga saat bersamaan dalam sebuah grup sedang membicarakan beberapa topik.

Lebih parah, banyak netizen pengguna medsos yang tak memiliki etika ketika berkomunikasi dua arah. Menyedihkannya lagi, ada kejadian, seseorang.chating ke seseorang. Saat orang yang di chat membalas, tiba-tiba orang yang chat duluan sudah meninggalkan obrolan. Selain itu, banyak pula obrolan yang diawali dengan salam pembukaan, namun tiba-tiba berakhir tanpa ada penutupan.

Intinya, dari kenyataan-kenyataan tersebut, selama ini SDM kita memang belum banyak yang lulus menjadi pendengar dan pembicara yang baik karena kawah pendadaran di tingkat dasar SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi gagal membentuk karakter tersebut.

Dalam kasus pandemi Corona, Presiden Jokowi saja sampai harus marah dua kali karena para menterinya tak memiliki sense of crisis, dan saat para menteri dan staf khusus Presiden bicara di depan publik, komunikasinya pun sangat tak terkelola. Ada pernyataan Menteri yang dibantah Staf, ada yang diluruskan Menteri lain dsb.

Inilah akibatnya bila keterampilan berbahasa (mendengar, berbicara, membaca, menulis) dan literasi yang mencakup norma etika di dalamnya tak tuntas dan tak lulus, sementara guru dan sekolah juga terus membiarkan keterampilan dan kondisi ini jalan di tempat. Lulus menjadi formalitas, menjadi SDM di semua posisi pun tak matang literasi dan keterampilan berbahasa, khususnya komunikasi diri dan publik.

Para politisi dan elite partai di parlemen dan pemeritahan tak dapat jadi panutan, para pejabat dan pemimpin bangsa pun tak menjadi teladan. Krisis yang berkepanjangan dalam tataran komunikasi di negeri ini dan terus dalam kondisi degradasi.
Degradasi (kemunduran, kemerosotan, dan penurunan tentang mutu, moral, pangkat, dan sebagainya) karena komunikasi yang tak lulus, buruk, dan terus subur menjelang HUT Kemerdekaan RI, siapa yang harus bertanggungjawab?

 

 

Bagikan Artikel Ini

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua