Sukarno Terserang Malaria Hari Itu, Tapi Proklamasi Harus Dikumandangkan - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Pengibaran Bendera Merah-Putih saat Proklamasi Kemerdekaan RI

Indonesiana

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 17 Agustus 2020 11:15 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Sukarno Terserang Malaria Hari Itu, Tapi Proklamasi Harus Dikumandangkan

    Sejarah besar menanti. Tapi Bung Karno bagai tak berdaya.  Seluruh tubuhnya, dari kepala sampai kaki, menggigil dan gemetar. Suhu tubuhnya mencapai 104 derajat (Fahrenheit, atau 40 derajat celcius). Ia terserang malaria. Semua serba darurat pagi itu. Hingga pukul 09.50 Bung Karno masih di kamar mencoba meredam sakitnya. Situasi makin tegang, karena  Bung Hatta belum juga tampak batang hidungnya. Padahal tokoh ini terkenal kedisiplinannya. Kemana dia? Dimana engkau, bung?

    Dibaca : 955 kali

    “Aku sangat sakit,” keluh Sukarno kepada Fatmawati, pagi itu, 17 Agustus 1945, di kediaman mereka. Itu hanya beberapa jam sebelum Bung Karno harus memproklamirkan kemerdekaan Indonesia bersama Mohammad Hatta.

    Sejarah besar menanti. Tapi Bung Karno bagai tak berdaya.  Seluruh tubuhnya, dari kepala sampai kaki, menggigil dan gemetar. Suhu tubuhnya mencapai 104 derajat (Fahrenheit, atau 40 derajat celcius). Ia terserang malaria.

    Fatmawati mahfum sekali dengan kondisi suaminya itu. Bung Karno, Bung Hatta, dan para pemuda memang telah bekerja keras pada hari-hari menjelang 17 Agustus 1945 itu. Duet pemimpin itu telah diculik ke Rengasdengklok dan lalu bekerja maraton merumuskan teks proklamasi bersama para pemuda. Mereka belum tidur selama dua hari!

    Sementara di halaman rumah Pegangsaan 56, kediaman Soekarno, pemuda Suhud Sastrokusumo ikut tegang. Anggota Barisan Pelopor Istimewa itu mendapat tugas dari Sudiro (tokoh BPI) untuk menyiapkan beberapa keperluan acara proklamasi. Ia juga tau, peristiwa yang akan berlangsung bisa berkahir dengan pertumpahan darah. Personil angkatan darat Jepang yang berpatroli di Jalan Pegangsaan Timur No 56, Jakarta, bisa murka dan lalu membantai dirinya hingga Sukarno.

    Suhud tak gentar. Dia siapkan tiang bendera dari bambu yang tergeletak di sudut halaman rumah. Saking tegangnya ia tak melihat ada dua lonjor besi mangkrak di sudut lain yang lebih pantas dijadikan tiang bendera. Bambu itu dibersihkan dan diberi tali, lalu ditanam beberapa langkah saja dari teras.

    “Tiangnya satu atau dua?” tanya salah seorang pemuda yang membantu Suhud. Sudiro sempat jengkel mendengar pertanyaan itu.

    Sementara itu Wilopo dan Njonoprawoto, keduanya berusia 35 tahun, menuju toko milik  Gunawan, di Jalan Salemba, untuk meminjam mikrofon. Gunawan adalah pemilik Radio Satriya. Mikrofon itu buatan Gunawan sendiri. Corong, standar, versterker ,  hingga band -nya yang terbuat dari zilverpapier , atau selabung rokok alias genjreng, semua buatan dia.

    Semua serba darurat pagi itu. Hingga pukul 09.50 Bung Karno masih di kamar mencoba meredam sakitnya. Situasi makin tegang, karena  Bung Hatta belum juga tampak batang hidungnya. Padahal tokoh ini terkenal kedisiplinannya. Kemana dia? Dimana engkau, bung?

    Para pemuda sudah mendesak agar Proklamasi dibacakan meskipun Bung Hatta tak hadir. Dia menolak. Si bung yang sedang tak enak badan tau, Hatta juga letih. Penculikan Rengasdengklok. Disambung rapat spartan menyusunan teks Proklamasi hingga dinihari tanggal 17. Semua bikin lelah.

    Lima menit sebelum jam 10.00, Hatta akhirnya datang. Dia memang bangun kesiangan pagi itu. “Aku baru tidur setelah sembahyang subuh dan bangun kira-kira pukul 08.30 pagi,” kata dia.

    Hatta yang sedang puasa, sempat bercukur dan mandi sebelum berangkat ke rumah Sukarno. “Kira-kira pukul 10 kurang 10 menit aku berangkat dari rumah.”

    Semua kini telah siap.  Sukarno segera berpakaian dan bersiap diri. Ketika hendak keluar kamar ia disapa, chudanco Latief Hendraningrat, anggota PETA, “Apa Bung Karno sudah siap?” dia bertanya. PETA inilah yang akan menghadapi jika tentara Jepang datang dan akan mengacaukan Proklamasi.

    Ratusan orang telah hadir di Pegangsaan. Mereka semua berdebar dan tegang. Dan, pada saat yang telah ditentukan, Soekarno melangkah ke mikropon pinjaman. Dan berkumandanglah suaranya ke penjuru dunia: P r o k l a m a s i…

     

    Sumber: Hostoria.id, Kumparan.com, Tirto.id

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.