#SeninCoaching: Bisakah Presiden, dan Kita, Memimpin Tanpa Tameng? - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Dialog Arjuna dan Kresna mengatasi kebimbangan

Mohamad Cholid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 18 Agustus 2020 06:11 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • #SeninCoaching: Bisakah Presiden, dan Kita, Memimpin Tanpa Tameng?

    Meraih prestasi di lingkungan profesi dengan tuntutan standard tinggi umumnya memerlukan sederet persyaratan yang tidak dapat dikompromikan. Masing-masing pelaku memiliki “pagar-pagar pengaman” agar setiap langkah, proses latihan, dan persiapan untuk tampil semua compliance dengan ukuran baru yang lebih baik dari sebelumnya. Kalau sekedar sama dengan capaian lama, umumnya kurang menantang. Menutupi kelemahan dengan segala cara, dan sulit menerima perspektif baru yang beda. Mereka ibarat hidup di balik tameng

    Dibaca : 900 kali

    #Leadership Growth: Leading with Vulnerability  

    Mohamad Cholid, Practicing Certified Executive and Leadership Coach

     

    Sabarna Ajin bin Supadi beberapa tahun ini jadi dokter paling mashur di seantero provinsi. Sebagai ahli bedah jantung, Dokter Ajin telah menyelamatkan ratusan pasien yang ditanganinya – itu di luar ribuan pasien lain yang tidak memerlukan pembedahan.

    Ia juga dinilai telah ikut menyelamatkan rumah sakit tempatnya bekerja, dari merugi selama lebih dari lima tahun sejak berdiri menjadi rumah sakit yang belakangan makin ramai didatangi pasien.

    Di lingkungan keluarganya? Sebagai anak pertama dari lima bersaudara, Dokter Ajin telah bekerja keras menyelamatkan keempat adiknya untuk meneruskan sekolah sejak ayahnya lumpuh jiwanya (kecanduan alkohol) dan ibunya pulang ke orang tuanya di negeri lain. Itu saat ia baru masuk kuliah.

    Baginya, belajar dengan keras, kemudian bekerja ibarat tanpa istirahat, belajar lagi untuk jadi ahli bedah jantung, merupakan tugas kehidupan demi menyelamatkan banyak orang. Ketika ia menikah, istrinya menerima realitas itu dengan bangga – sampai ketika fakta lain menyajikan cerita berbeda.

    Suatu hari Dokter Ajin (bukan nama sebenarnya) menghubungi seorang psikolog di kota lain, jauh dari tempat tinggalnya, untuk berkonsultasi atas masalah yang dihadapinya. Sesuai jadual pertemuan, hari itu ia menggunakan penerbangan paling pagi.

    Masalah yang dia curahkan ke psikolog ini: karirnya terancam habis dan istrinya sementara mengungsi ke orang tua. Penyebabnya adalah, Dokter Ajin ketahuan berselingkuh dengan perawat, staf rumah sakit, dan lainnya.

    Anggota manajemen rumah sakit mengetahuinya dan pemegang saham mengancam untuk mendepak dia. Istrinya pun kemudian tahu, maka purik (pulang ke rumah orang tua). Batin keempat anaknya terluka. Anak perempuan tertua (yang sudah menikah) bersama suaminya pernah melihat Dokter Ajin bersama wanita lain masuk kamar sebuah hotel.

    Kemungkinan besar Anda pernah mengetahui kasus yang mirip dengan itu. Orang-orang sukses, karirnya hebat, dan reputasinya top, kemudian kepeleset justru saat di puncak. Di dunia olah raga, pemain golf kelas dunia Tiger Wood ketahuan sempat kecanduan seks dan harus melakukan terapi untuk memulihkan kepercayaan istri dan para sponsor.

    Di lingkunan bisnis yang sangat kompetitif, di dunia media, kalangan lawyers, pilot -- di sektor kegiatan yang menuntut presisi tinggi, waktu penyelesaian yang terukur, dan memiliki dampak besar bagi manusia lain atau profesi yang menimbulkan stress tinggi – para top performers-nya cenderung mudah kesandung. Kalau tidak kecanduan seks, umumnya alkohol (dan narkoba).

    Meraih prestasi di lingkungan profesi dengan tuntutan standard tinggi umumnya memerlukan sederet persyaratan yang tidak dapat dikompromikan. Masing-masing pelaku memiliki “pagar-pagar pengaman” agar setiap langkah, proses latihan, dan persiapan untuk tampil semua compliance dengan ukuran baru yang lebih baik dari sebelumnya. Kalau sekadar sama dengan capaian lama, buat mereka umumnya kurang menantang.

    Pelukan dan belaian pasangan seks (perselingkuhan) yang lebih fun, tidak banyak tuntutan, atau berayun dalam buaian alkohol (di sejumlah kasus juga narkoba), menurut para psikolog, adalah wilayah ketika mereka bisa rileks, mungkin juga sedikit nakal dan bermanja, tanpa “pagar-pagar pengaman”.

    Ketika kenikmatan dunia tanpa “pagar-pagar pengaman” itu membuat mereka seperti terbang, di situlah biasanya persoalan timbul. Mereka kecanduan.

    Secara normatif, kalangan ulama, pendeta, atau rahib, akan meminta mereka kembali ke ajaran agama, ke Tuhan. Kenyataannya belum tentu mudah, bagi sebagian orang memerlukan proses yang kadang berat dan berliku.

    Kebanyakan para high achiever tersebut memiliki kecerdasan di atas rata-rata, mereka cenderung melakukan self-medication. Dr. Henry Cloud, psikolog dan leadership expert, penulis sejumlah buku dan diantaranya laku jutaan jilid, dalam The Power of the Other (2016) menceritakan kasus Liam.

    Persoalan Liam, dokter ahli bedah jantung top di sebuah negara bagian AS, adalah cerita kasus Dokter Ajin. Ketika ketemu Henry Cloud, sebagai lanjutan dari konsultasi dengan pihak lain, Liam membeberkan komitmennya untuk memperbaiki diri.

    Di antaranya: Bertekad menjadi suami lebih baik, mendalami bacaan spiritual setiap hari, olah raga rutin, mau berkonsultasi ke penasihat suami-istri, dst.nya. “Sekarang pun saya sudah berubah banyak,” kata Liam.

    Respon Henry Cloud? Langkah perubahan dan sederet komitmen tersebut dipercayainya akan dikerjakan oleh orang seperti Liam. Tapi itu malah mencemaskan. Karena akan memperberat problem, bukan jadi solusi, kata Henry Cloud.

    Hm? Liam juga bertanya, kok bisa begitu?

    Setiap strategi dan langkah perubahan tersebut semua merupakan output dari Liam. “More giving. More discipline. More obedience to what is right. More effort. More service and sacrifice,” kata Henry Cloud. Problem yang paling mendasar adalah semua itu tergantung pada kekuatan diri Liam sendiri.

    Dari semua itu tidak ada satu pun memperlihatkan kelemahannya, bahwa dia juga rentan, dan memerlukan pertolongan orang lain.

    Ini juga terjadi di level organisasi. Utamanya yang merasa pernah sukses, umumnya mereka mengatakan punya internal training dan pengembangan eksekutif sendiri. Kenyataannya, ketika realitas ekonomi dan sosial berubah, mereka menyalahkan pihak lain -- peristiwa di luar organisasi -- sebagai penyebab kegagalan mereka.

    Masalah organisasi yang merasa sudah beres semacam itu, tapi gampang oleng lantas mencari alibi, juga problem Liam dan para high achiever lain di sektor berbeda, sehingga mudah terbuai dalam pelukan perselingkuhan seks dan kecanduan lain, bukan berasal dari kekuatan dan kecerdasan mereka.Tapi muncul dari kelemahan mereka.

    Mereka terlibat masalah karena mengabaikan atau menepis peluang pertolongan pihak lain. Mereka khilaf, untuk jadi hebat sekarang, mereka dulu dapat pertolongan mentor atau senior mereka, plus tentu para staf dan mitra bisnis. Apakah Liam atau siapa pun bisa dengan sendirinya langsung jadi dokter spesialis? Apakah para pesohor di olah raga, media, dan pilot hebat itu mendadak langsung piawai di bidang masing-masing tanpa pertolongan orang lain?

    Setahun kemudian Liam ketemu Henry Cloud lagi dan mangakui kenyataan: “I was going to have to find recovery on a different mode of thinking that required me to face my weaknesses and vulnerabilities, and reach outside for help.”

    Kuncinya adalah rendah hati mengakui ada kelemahan, bersedia mengubah pola pikir (a different mode of thinking), dan terbuka untuk mendapatkan pertolongan orang lain. Sehingga selamat dan bisa meraih sukses level berikutmya.

    Demikian juga organisasi-organisasi yang bertahan lama dan tetap tegak menghadapi krisis, umumnya secara rutin investasi meningkatkan efektivitas kepemimpinan para eksekutifnya agar selalu sadar melakukan antisipasi pelbagai kemungkinan dan mampu mengatasi tantangan yang mereka hadapi.

    Di tingkat negara, para pemimpin hebat di dunia, dari John F. Kennedy, Nelson Mandela, sampai Bung Karno, Bung Hatta dan para founding fathers lainnya, adalah orang-orang yang (most of the time) terbuka mengakui kelemahan, lantas bersedia dibantu pihak lain. Berbeda dengan para pemimpin belakangan ini, yang cenderung lebih senang mengerahkan resources membangun citra, menutupi kelemahan dengan segala cara, dan sulit menerima perspektif baru yang beda. Mereka ibarat hidup dan bekerja di balik tameng.

     

    Mohamad Cholid adalah Member of Global Coach Group & Head Coach di Next Stage Coaching.

    • Certified Executive Coach at Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching
    • Certified Marshall Goldsmith Global Leadership Assessment

    Alumnus The International Academy for Leadership, Jerman

    (http://id.linkedin.com/in/mohamad-cholid-694b1528)

    (https://sccoaching.com/coach/mcholid1)

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.