Benarkah Masyarakat Bima-Dompu Sudah Sejahtera? - Analisa - www.indonesiana.id
x

Penulis

Irfansyah Masrin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 10 Januari 2020

Rabu, 26 Agustus 2020 06:18 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Benarkah Masyarakat Bima-Dompu Sudah Sejahtera?

    Mwngupas tentang kesejahteraan masyarakat Bima-Dompu dilihat dari berbagai aspek secara universal

    Dibaca : 449 kali

    Panjangnya antrian di pegadaian dan bank menandakan bahwa rakyat belum sejahtera. Masyarakat Bima-Dompu rela mengantri dari setelah subuh hanya untuk mendapatkan pinjaman bank atau menggadaikan emasnya.

    Lah, siapa bilang belum sejahrera, nyatanya kebutuhan masyarakat tercukupi?

    Tingkat kesejahteraan tidak hanya diukur dari tercukupinya kebutuhan materi, tapi dilihat dari maksimalnya pemasukan dan minimnya pengeluaran, atau paling tidak selarasnya pendapatan dan pengeluaran.

    Dalam beberapa literatur, indikator kesejahteraan masyarakat secara umum didasarkan pada jumlah pendapatan yang tinggi, akses pendidikan yang mudah dijangkau dan kesehatan yanh semakin meningkat.

    Dari indikator tersebut tentu sebagian besar masyarakat Bima-Dompu telah terpenuhi kesejahteraannya. Namun tidak selaras dengan pemasukan yang tinggi dilihat dari sumber pemasukan tersebut, sehingga tingkat kesejahteraan masyarakat belum seimbang.

    Masyarakat Bima-Dompu adalah mayoritas petani. Dengan harga hasil panen yang cukup tinggi para petani dapat memenuhi ketiga indikator kesejahteraan di atas. Pendapatan yang tinggi, semakin banyaknya generasi yang menyenyam pendidikan dan terpenuhinya pelayanan kesehatan.

    Namun tingkat pendapatan petani yang cukup tinggi tidak selaras dengan jumlah sumber pendapatan. Sebagian besar petani meminjam uang bank dengan menjaminkan surat berharga baik surat tanah atau rumah, juga menggadaikan emasnya sebagai modal bertani.

    Tapi setelah mendapatkan hasil panen yang tinggi, para petani dihadapkan pada masalah baru yaitu harus melunasi semua hutang dan pinjaman bank. Alhasil hanya sedikit saja hasil panen yang dirasakan petani, bahkan tak sebanding dengan lelah dan waktu yang telah dibuang. Untuk menambah kebutuhan? Hutang lagi, masalah lagi.

    Inilah bukti bahwa sebagian besar masyarakat Bima-Dompu belum sejahtera.

    Dalam paradigma psikologis kesejahteraan (psychology well-being) adalah tingkat kemampuan individu dalam menerima dirinya apa adanya, membentuk hubungan yang hangat dengan orang lain, mandiri terhadap tekanan sosial, mengontrol lingkungan eksternal, memiliki arti dalam hidup, serta merealisasikan potensi dirinya secara kontinyu.

    Sederhananya adalah bahwa sebagian besar masyarakat Bima-Dompu belum sejahtera secara menyeluruh, baik kesejahteraan ekonomi maupun kesejahteraan batin/psikologis. Karena semakin menurunnya tingkat kebahagiaan yang diukur dari tingkat pendapatan yang tidak melampaui atau tidak sepadan dengan pengeluaran, terlebih menumpuknya hutang, sehingga membuat masyarakat merasa tidak tenang dan penuh dengan tekanan psikologis, hal ini memicu menurunnya tingkat kebahagiaan masyarakat.

    Ada satu hal positif yang dimiliki oleh mayoritas masyarakat Bima-Dompu adalah selalu tercukupinya kesejahteraan spiritual, karena ini menjadi dasar keyakinan dan prinsip hidup bagi masyarakat Bima-Dompu, dalam istilah Mbojo (Kambali mpa di Ruma), yaitu bentuk syukur masyarakat Bima Dompu dengan keadaan yang ada sesulit apapun kondisinya (Sukur mbeip Ruma salama Weki).

    Terpenuhinya kesejahteraan spiritual ini menjadi muara dan sandaran bagi ketidakseimbangan kesejahteraan ekonomi dan psikologis masyarakat Bima-Dompu. Kesulitan hidup bagi masyarakat tidak lantas membuat sebagian besar masyarakat berputus asa, karena masih membudayanya prinsip hidup yang didasarkan pada nilai Keilahian, bahwa Allah mengatur hidup manusia, bahwa pasti akan ada jalan terbaik yang Allah berikan dari setiap permasalahan hidup yang dihadapi.

    Semoga lekas sembuh Bima-Dompuku.
    Semoga masyarakat makin sejahtera.

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.