Apa Serunya Nonton Film di Bioskop Bila Gak Boleh Tertawa dan Menjerit? - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi anak berteriak. Pixabay.com

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 2 September 2020 13:30 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Apa Serunya Nonton Film di Bioskop Bila Gak Boleh Tertawa dan Menjerit?

    Jikalaupun dianggap bisa meningkatkan imunitas karena penonton jadi bahagia, seberapa besar peningkatan imunitas dari aktivitas menonton film di bioskop dibandingkan dengan peningkatan risiko terpapar virus Corona? Jika mencari kebahagiaan, mengapa tidak dianjurkan untuk nobar film di rumah saja sambil lesehan, ngemil, bahkan masak dan makan sate?

    Dibaca : 2.057 kali

     

    Entah dapat wangsit dari mana, gedung bioskop kabarnya diizinkan untuk dibuka kembali. Bioskop boleh menayangkan kembali film-film dan boleh ditonton orang banyak. Katanya sih, akan diberlakukan protokol kesehatan yang ketat. Mungkin ketat di dalam teater, tapi kurang ketat di lobi. Kita lihat saja nanti bagaimana praktiknya jika bioskop memang jadi dibuka.

    Salah satu aturan yang mesti ditaati penonton ialah tidak boleh tertawa di dalam gedung. Jadi, biarpun sangat lucu filmnya, penonton harap menahan diri untuk tertawa. Bersabarlah, tunggu sampai film selesai diputar dan kalian keluar gedung, barulah kalian bisa tertawa sepuasnya. Jika ada 10 adegan yang menurutmu lucu dan sebenarnya sudah kebelet tertawa, maka di luar gedung kalian boleh tertawa 10 kali, boleh berturut-turut atau dibagi-bagi, sekali waktu keluar dari gedung, kedua saat menuju toilet mau pipis dulu, ketiga waktu menuju tempat parkir, keempat waktu ngantri di pintu keluar, dan seterusnya.

    Apa pemberian izin itu didorong oleh motivasi ekonomi—maksudnya agar bioskop tidak tutup selamanya dan industri sinema bergulir kembali? Tentu saja, alasan yang dikemukakan tidak akan selugas itu. Perlu alasan yang lebih halus, seperti yang dikemukakan Wiku Adisasmito, Jubir Satgas Penanganan Covid-19, bahwa bioskop berkontribusi dalam meningkatkan imunitas masyarakat terkait penanganan Covid-19. Menurut Wiku, masyarakat merasa bahagia ketika menonton film di bioskop. Perasaan bahagia itu berpengaruh pada meningkatnya imunitas tubuh yang bisa memperkecil risiko terpapar Covid-19. Jadi, selain alasan ekonomi yang tidak diungkapkan, ada alasan medis yang dianggap positif.

    Jikalaupun dianggap bisa meningkatkan imunitas karena penonton jadi bahagia, seberapa besar peningkatan imunitas dari aktivitas menonton film di bioskop dibandingkan dengan peningkatan risiko terpapar virus Corona? Jika mencari kebahagiaan, mengapa tidak dianjurkan untuk nobar film di rumah saja sambil lesehan, ngemil, bahkan masak dan makan berat? Apakah menonton bersama keluarga di rumah tidak mampu meningkatkan kebahagiaan ketimbang menonton di bioskop, padahal orang yang menonton di bioskop membuat orang yang menunggu di rumah merasa deg deg plaass? “Aman gak ya anak saya di bioskop?” sambil sesekali melihat jam dinding.

    Entah kenapa orang masih membutuhkan hiburan bioskop di saat pandemi, padahal di rumah hiburan tidak kalah serunya. Memang sih yang diputar film-film lama, tapi murah meriah, minim risiko jika satu keluarga sehat semua, dan sama-sama bahagia jika tidak berebut saluran. Di rumah, tingkat kebahagiaan yang diperoleh mungkin lebih tinggi sebab tak disertai kecemasan seperti saat menonton di bioskop. Tapi, kata jubir Satgas Covid-19, di Korea Selatan bahkan bioskop tetap dibuka saat pandemi. Tapi, di Cina, bioskop yang dibuka kembali kemudian ditutup lagi karena muncul kasus.

    Lagi pula, sejauh mana yang disebut protokol ketat itu akan efektif meredam risiko? Bayangkan, penonton berada di ruang tertutup dan ber-ace selama 1,5 jam minimum. Ada sih aturan untuk menjaga jarak minimal 1,5 meter antarpenonton, tak boleh ngemil dan minum dalam teater, tidak boleh berbicara, tidak boleh tertawa. Jadinya malah bukan seperti nobar tapi nonton sendiri-sendiri. Lha apa serunya? Terus kalau gak boleh berbicara, apa lagi tertawa, alangkah tersiksanya nonton film komedi. Menjeritpun tak boleh, padahal yang ditonton film thriller.

    Lagi pula, sebelum layar dibuka, penonton yang sedang menunggu di lobi teater, bila tidak disiplin, berpotensi ngobrol berkerumun sambil menyantap berondong jagung dan minum cola. Jadi, seperti yang sudah-sudah terjadi di banyak tempat dalam peristiwa yang berbeda, seperti aktivitas car free day, tidak berarti segala aturan yang telah dibuat akan berjalan sebagaimana mestinya. Mudah-mudahan sih penontonnya patuh protokol.

    Mungkin, pembukaan gedung bioskop ini merupakan salah satu contoh cara menikmati hiburan ala new normal [istilah yang kian jarang dipakai] sekaligus cara mendorong agar perekonomian berjalan kembali. Namun, alangkah sayangnya jika ternyata pembukaan kembali gedung bioskop itu menjadi event pemutaran perdana Covid-19 Story Part-2. Menyedihkan dan tragis, bahkan bisa lebih menguras air mata ketimbang drakor. Mudah-mudahan sih tidak terjadi seperti itu. Mudah-mudahan pengelola bioskop, petugas bioskop, maupun penonton mematuhi protokol yang sudah diatur, hingga penonton pulang dengan rasa bahagia di dada dan sehat wal ‘afiat serta imunitasnya meningkat. Begitu pula dengan keluarga yang menanti di rumah akan menyambut kerabatnya dengan senyum bahagia. >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.