Jangan Tutupi Bumi yang Luas dengan Daun Kecil - Analisa - www.indonesiana.id
x

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Sabtu, 19 September 2020 06:25 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Jangan Tutupi Bumi yang Luas dengan Daun Kecil

    Bumi itu luas. Daun itu kecil. Anugerah Allah yang tak terbatas itu bumi. Uang, harta, jabatan itu cuma selembar DAUN. Jadi, mana mungkin selembar daun yang kecil bisa menutupi keluasan bumi? Karena faktanya, daun menutupi telapak tangan saja sulit. Tapi kalo daun kecil itu menempel di pelupuk mata kita, maka tertutuplah bumi. Gelap dan tak bisa terlihat lagi jalan yang terang.

    Dibaca : 488 kali

    Jangan Tutupi BUMI yang LUAS dengan DAUN yang KECIL.

     

    Wabah Covid-19 ini sepertinya kian ganas. Banyak orang yang OTG tahu-tahu sakit. Orang baik seperti Pak Sekda DKI Jakarta pun terkena corona. Ada puluhan ribu pasien corona pun kini masih dirawat di rumah sakit. PSBB ketat pun diberlakukan lagi. Negeri ini, tiba-tiba, dihantui ancaman makhluk bernama virus corona.

    Sementara di luar sana, makin terlihat kasat mata kesombongan anak manusia di dunia. Angkuh dan arogan. Pangkat, jabatan, harta bahkan status sosial terus-menerus dipertontonkan. Memuji dan berbangga-bangga tentang dirinya sendiri sambil merendahkan yang lain. Selalu merasa benar sambil mencari kesalahan orang lain. Manusia yang tidak suka lagi diberi nasihat. Kepeduliannya makin hilang. Hingga akhirnya menolak kebenaran.

    Mereka terus sibuk memperebutkan dunia. Berusaha menggenggam dunia. Hingga lupa bahwa dunia itu sebentar. Sombong lalu lupa bersyukur. Dunia dianggap abadi dan akan selamanya. Lalu lupa, bahwa dunai adalah kehidupan yang menipu. Dunia itu hanya chasing, hanya “bungkus” semata. Tidak lebih tidak kurang.

    Jangan sampai “daun yang kecil menutupi bumi yang luas”.

    Bumi itu luas. Dan daun itu kecil. Anugerah Allah yang tak terbatas itu bumi. Uang, harta, jabatan itu cuma selembar daun. Jadi, mana mungkin selembar daun yang kecil bisa menutupi bumi yang luas ini. Karena faktanya, daun menutupi telapak tangan saja sulit. Tapi kalau daun kecil menempel di pelupuk mata kita, maka tertutuplah bumi. Gelap dan tidak bisa terlihat lagi jalan yang terang.

    Maka tidak perlu sombong. Sebaliknya, selalu ada alasan kuat untuk bersyukur.

    Untuk siapapun. Apapun keadaannya. Katanya hidup di dunia cuma sementara, terus mau apa lagi? Apa yang mau dikejar, apa pula yang maudiperebutkan? Sungguh, dunia tidak akan pernah ada cukupnya. Maka, jangan tutupi bumi yang luas dengan daun yang kecil.

    Jangan sombong. Bumi itu luas, daun itu sempit. Bersyukurlah.

    Jangan terlalu mudah melupakan anugerah Allah. Jangan mudah tidak puas atas apa yang dimiliki. Banyak orang sekarang, menempatkan diri sebagai korban. Marasa menderita, merasa ada yang kurang. Merasa kurang, kurang lagi dan kurang terus. Bahkan di masa Covid-19, merasa terpenjara. Terkurung di dalam rumah. Merasa nestapa….

    Orang-orang yang lupa. Bahwa apapun yang ada dan terjadi di dunia adalah kehendak-Nya. Tidak ada jalan hidup manusia yang dirancang oleh otaknya, oleh kecerdasannya. Lalu merasa dirinya hebat. Dan akhirnya lupa bila ada Allah dalam hidupnya.

    Maka, daun yang kecil pun menutupi bumi yang luas.

    Tiap hari berkeluh-kesah. Mengeluh setiap hari. Hingga menebar kebencian dan permusuhaan kepada orang lain. Tiap hari hanya mencari-cari kejelekan orang lain. Tiap hari galau, bete sampai seolah tidak ada lagi harapan untuk kebaikan. Bermental korban, berjiwa menderita. Lalu, lupa bersyukur.

    Bersyukurlah atas apa yang dimiliki. Maka, jangan tutupi bumi yang luas dengan daun yang kecil. Fokuslah pada apa yang dimiliki, bukan pada apa yang diinginkan. Lebih baik mensyukuri apa yang ada daripada mengeluhkan yang tidak ada. Lebih baik pelihara yang sudah ada di rumah daripada membandingkan dengan yang ada di luar rumah.

    Sudahlah, jangan tutupi bumi yang luas dengan daun yang kecil.

    Agar jangan terlalu memikirkan apa yang dipunya. Hingga lupa atas apa yang sudah dimiliki. Karena semua yang kita miliki saat ini adalah anugerah dan karunia yang pantas untuk kita.

    Hidup itu waktu yang dipinjamkan, sedangkan harta adalah berkat yang dipercayakan. "Banyak orang sudah punya tapi merasa belum punya". Mau sampai kapan hidup kayak gitu?

    Bahagialah secukupnya. Sedihlah seperlunya. Mencintailah sewajarnya. Membencilah sekedarnya. TAPI INGAT, BERSYUKURLAH SEBANYAK-BANYAKNYA. Tolong, jangan tutupi "BUMI yang luas" dengan "DAUN yang kecil"…



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.









    Oleh: Napitupulu Na07

    4 hari lalu

    Sepuluh Aturan Emas Pengelolaan Risiko Banjir (10 Golden Rules of Flood Risk Management)

    Dibaca : 401 kali

    Dalam Undang Undang No 17 tahun 2017 tentang Sumber Daya Air (SDA), pada Bagian Keempat Pasal 35, pengertian “Pengelolaan Banjir” adalah “Pengendalian Daya Rusak Air”. Pasal 35 ayat (1) Pencegahan Daya Rusak Air dilakukan secara menyeluruh yang mencakup upaya pencegahan, penanggulangan, dan pemulihan; Ayat (3) Pencegahan Daya Rusak Air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk mencegah terjadinya bencana yang diakibatkan Daya Rusak Air. Penjelasan Pasal 35 ayat (3) Yang dimaksud Daya Rusak Air antara lain, berupa: a. banjir (banjir adalah peristiwa meluapnya air melebihi palung sungai atau genangan air yang terjadi pada daerah yang rendah dan tidak bisa terdrainasikan – SNI 2415-2016); b. erosi dan sedimentasi; c. tanah longsor; d. banjir lahar dingin; e. perubahan sifat dan kandungan kimiawi, biologi, dan fisika Air; g. terancam punahnya jenis tumbuhan dan/atau satwa; h. wabah penyakit; i. tanah ambles; j. intrusi, dan/atau; k. perembesan. Beberapa kecenderungan (trend) “Pengelolaan Risiko Banjir” yang berkembang di Eropa, China dan Australia ditulis oleh Sayer et.al 2012 sebagai 10 Golden Rules of Flood Risk Management. Saudara Ir. Slamet Budi Santoso Dipl. HE (Pengamat: persungaian terkait banjir, kekeringan dan pencemaran) telah menyadur tulisan Sayer et.al 2012 tersebut, dan sekaligus mengaitkannya dengan kondisi dan praktek penanganan Banjir di Indonesia. Melihat tantangan permasalahan Banjir ke depan yang semakin berat dan meluas akibat masifnya alih fungsi tutupan lahan dan hutan DAS hulu, ditambah perubahan iklim; Penulis menilai pemahaman Aturan Emas terkait Risiko Banjir ini penting sebagai referensi bagi para akademisi, tenaga ahli dan pengamat banjir di Indonesiana.