Jangan Salah Pilih, Ini 4 Hal Cara Membaca Kualitas Calon Kepala Daerah - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay

sura din

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 April 2020

Sabtu, 19 September 2020 13:30 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Jangan Salah Pilih, Ini 4 Hal Cara Membaca Kualitas Calon Kepala Daerah

    Membaca kapasitas dan kualitas para calon kepala daerah yang maju dalam perhelatan demokrasi saat ini, cukup mudah. Melihatnya tidak dari besarnya baliho, besarnya gardu relawan, dan kepandaiannya mengolah kata. Bahkan jangan terlena dengan lambaian tangannya ketika berada di tengah-tengah masyarakat. Lalu bagaimana membaca kualitas para calon? Cukup dengan mencermati empat hal berikut.

    Dibaca : 5.132 kali

     

    Kita memang harus optimis dalam menjalani hidup. Dan memang harus. Dalam situasi apa pun memang setiap orang yang bergumul dengan beragam masalah harus tetap membangun jiwa optimisme tingkat dewa. Minimal meyakinkan diri untuk tetap bisa melewati beban hidup yang menghujam.

    Bagaimana merasa yakin dan membangun rasa optimisme akan lahirnya pemimpin yang menjadi naungan bagi seluruh rakyat lewat pesta demokrasi 9 Desember nanti. Nampaknya boleh-boleh saja. Tidak ada yang salah jika merasa yakin dan seyakinnya akan terpilih pemimpin yang benar-benar mampu menjawab segala kebutuhan dasar masyarakat, seperti pendidikan dan kesehatan.

    Tapi optimisme tanpa realistis, juga akan melahirkan masalah baru. Kekecewaan. Harapan yang membumbung tinggi jika tidak bisa terjawab, maka hanya bermuara pada kekecewaan. Masyarakat sudah lama merindukan sebenar-benarnya pemimpin, bukan pemimpi yang hanya mulutnya berbusa dengan janji tanpa pernah benar-benar dibuktikan.

    Masyarakat awam tidak butuh angka statistik yang sukar di pahami tentang pertumbuhan ekonomi, tetapi yang terpenting bagi mereka adalah bagaimana dapurnya tetap mengepul, hasil panennya dihargai tinggi, anaknya tetap bisa sekolah, dan ketika sakit mendapatkan perawatan yang maksimal dari pihak rumah sakit.

    Membaca kapasitas dan kualitas para calon kepala daerah yang maju dalam perhelatan demokrasi saat ini, cukup mudah. Melihatnya bukan dengan besarnya baliho yang dipajang di ujung kampung, bukan besarnya gardu tempat berkumpul para relawan, bukan pula kepandaiannya mengolah kata-kata pada saat berpidato. Bahkan jangan terlena dengan lambaian tangannya ketika berada di tengah-tengah masyarakat. Bukan pula senyum sumringahnya yang mampu membuat masyarakat terlena dan bahkan terpukau. Lalu bagaimana membaca kualitas para calon?

    Pertama, buka rekam jejaknya di masa lalu. Bagaimana sepak terjangnya di dunia birokrasi serta kepekaannya kepada urusan-urusan sosial kemasyarakatan. Bagaimana hubungannya dengan banyak pihak. Baik di level pemerintahan, terhadap para pelaku bisnis, terlebih komunikasi yang terbangun dengan barisan grass root. Hal ini menjadi salah satu tolak ukur untuk melihat kualitas serta kompetensi yang di miliki oleh para calon. Sebab, apa yang menjadi karakter seseorang saat ini adalah buah dari proses masa lalu yang sangat panjang. Karakter itu terbentuk bukan semudah membalikkan telapak tangan.

    Namun sebaliknya, jika ada calon daerah, tiba-tiba baik, tersenyum, sok merakyat walaupun tidak punya rekam jejak demikian sebelumnya. Maka, itu menjadi alarm bagi masyarakat bahwa jika kelak dia terpilih maka siap-siap menelan kekecewaan. Jangan pernah menaruh harapan yang lebih pada calon seperti ini, sebab kata orang bijak "jika suatu pekerjaan diberikan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran".

    Kedua, buka visi misinya. Tidak sedikit para calon kepala daerah yang maju dalam kontestasi politik, tidak pernah memperlihatkan visi misinya. Bahkan rakyat lebih mengetahui pajangan wajah para calon dari pada penjelasan mengenai visi misi. Sebab, mengetahui visi misi, merupakan cara mengukur kualitas para calon, karena di dalamnya akan termuat beberapa narasi dasar yang akan dijadikan program untuk membawa daerah yang di pimpinnya jika kelak dirinya terpilih.

    Visi Misi merupakan pondasi bagi calon yang terpilih, yang nantinya menjadi sumber rujukan kemana arah kapal daerahnya yang di pimpinnya akan bermuara. Bahkan yang tidak kalah penting masyarakat pemilih akan mengetahui kemana arah pembangunan daerah akan di bawa lima tahun ke depan. Yang lebih dari itu, masyarakat sangat mudah mengevaluasi kinerja pemimpinnya berdasarkan visi misi yang pernah di buatnya di saat pemilu dulu. Maka ada indikator yang terukur sejauh mana progres yang dilakukan seorang pemimpin daerah berdasarkan visi misi yang pernah di buatnya.

    Ketiga, relawan dan simpatisan. Ini penting dilihat, walaupun sikap dan karakter calon kepala daerah tidak sepenuhnya di wakili oleh relawan dan simpatisannya. Paling tidak, apa yang diperlihatkan oleh para relawan kepada masyarakat, itu memberikan gambaran bagaimana pemerintahan lima tahun ke depan berjalan. Sebab, para relawan ini juga akan mendapatkan percikan kue kekuasaan jika jagoan yang diusungnya bisa menjadi orang nomor satu di daerah pemilihannya.

    Sebab para calon daerah memiliki relawan yang siap pasang badan untuk jagoannya. Mereka membangun komunikasi, koordinasi bahkan tidak sedikit menunjukkan sikap militansinya demi merasakan bagaimana ikut menikmati dan berada dalam lingkaran kekuasaan. Karena keinginan itu, tidak sedikit para relawan melakukan propaganda, baik di medsos dengan merendahkan calon lain, sampaikan mengekspansi ke kampung-kampung untuk membumikan calon yang di dukungnya. Mereka menggaungkan nama calon yang di dukungnya agar familiar di mata publik.

    Calon kepala daerah yang diperkenalkan oleh para relawan, hampir mendekati kata sempurna. Sosoknya dicitrakan seolah dewa penyelamat yang akan hadir setiap masalah yang mendera masyarakat banyak. Rela memaksimalkan semua potensi yang ada, agar jagoannya bisa terpilih. Bahkan tidak sedikit relawan berbohong, memberikan janji yang belum tentu terucap oleh calon kepala daerah yang mereka usung.

    Keempat, kekayaan. Tidak sedikit para calon kepala daerah yang melontarkan ungkapan tidak akan melakukan money politik. Walaupun hal itu nampaknya sulit untuk di hindari. Dirinya, hanya ingin mengabdi demi kemajuan daerah, dan hadir melayani masyarakat. Bahkan setiap jamuan terlebih pada saat kampanye tentu tidak sedikit anggaran yang digelontorkan untuk mensukseskan penyelenggaraan setiap momen sebelum pencoblosan. Jika gambaran harta yang di miliki oleh calon kepala daerah terlihat tidak sebanding dengan persediaan anggaran untuk mensukseskan setiap momentum politik. Maka perlu dicari tahu dari mana yang bersangkutan mendapatkan kucuran anggaran.

    Dengan tidak bermaksud souzon, jika ada calon pemimpin daerah yang menyatakan tidak mengeluarkan uang sedikit pun selama musim kampanye, tentu perlu hati-hati. Sebenarnya, dirinya sedang memberikan sinyal yang justru membuka banyak kemungkinan. Kalau bukan sumber keuangan dari keluarga dan simpatisan, terus darimana yang bersangkutan mendapatkan kucuran anggaran.

    Namun, jika berkaca pada banyak kasus, setelah kepala daerah terpilih, beberapa bulan kemudian akan ada sumber daya alam yang digarap oleh pihak kapitalisme dengan persetujuan kepala daerah. Sehingga tidaklah bisa disalahkan pandangan sebagian pihak, bahwa banyak calon kepala daerah mendapatkan suplai anggaran yang begitu besar dari para pemburu sumber daya alam ini (kapitalis) di daerah itu dengan suatu perjanjian khusus. Sehingga tidak heran para calon kepala dengan mudah mengungkapkan bahwa dirinya tidak menggelontorkan sedikit pun uang dalam mengarungi rimba raya pesta demokrasi yang di helat lima tahun sekali ini.

    Tentu di atas adalah sedikit dari sekian banyak cara membaca potensi dan kualitas calon pemimpin daerah. Maka, sebagai masyarakat, perlu mengetahui dan memahami semua yang berkenaan dengan calon yang akan dipilih, agar tidak mudah mempercayai janji kampanye yang sebenarnya hanyalah bualan kosong semata.

    Jika pemimpin yang dipilih tidak punya kualitas dengan rekam jejak yang mumpuni, visi misinya tidak jelas, dan hanya melicinkan penguasaan sumber daya alam untuk kaum kapitalis. Maka, hasil pilkada hanya pesta demokrasi yang di peruntungkan bagi kemenangan segelintir orang dan rakyat kembali gigit jari dan hanya bisa bermimpi sebelum pagi menyapa semesta.

    Tapi apa pun analisisnya, pandangannya, dan komentar semua pihak, tanggal 9 Desember nanti akan muncul pemimpin baru hasil pilihan rakyat. Rakyat yang memilih, rakyat pula yang akan merasakan dampak langsung dari pemimpin yang mereka pilih sendiri.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.