Mahasiswa, Kampus, dan Jalan Menuju Kepemimpinan Intelektual - Analisa - www.indonesiana.id
x

Muja Hid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 7 Juli 2020

Sabtu, 19 September 2020 17:32 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Mahasiswa, Kampus, dan Jalan Menuju Kepemimpinan Intelektual


    Dibaca : 990 kali

    Mujahidin, Mahasiswa Pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan universitas mulawarman

    Kampus sendiri sejatinya merupakan sebuah manifestasi yang harusnya kita tarik secara peran sebagai sebuah wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan fondasi karakternya. Pada hakikatnya hal yang paling mendasar dari peran kampus sendiri adalah bagaimana membentuk sebuah hal yang kita sebut sabagai kapasitas yang menunjung daya pikir seorang mahasiswa yang tidak lain adalah kapasitas intelektual.

    Hal tersebut tentunya sangat fundamental sekali karena sosok mahasiswa sendiri merupakan figur yang sangat identik dengan aktivitas-aktivitas yang kita sebut sebagai aktivitas intelektual. Maka sejatinya kampus adalah jalan yang sangat menentukan bagaimana seorang mahasiswa menuju proses tersebut. Sebagai seorang intelektual di dalam kampus maupun seorang intelektual dalam konteks peranan dan fungsi sosialnya. Hal ini selaras dengan kutipan Antonio Gramsci yang mengutip bahwa. “Semua orang memiliki potensi untuk membentuk kesadaran intelektualnya, tapi tidak semua orang dapat dikatakan seorang intelektual dalam peran dan fungsi sosialnya”.

    Dalam hal saya ingin menarik bagaiamana peran kepemimpinan di ranah organisasi kemahasiwaan itu mampu membentuk kampus seabagai wadah atau bisa kita katakan sebagai organ intelektual yang mampu membentuk karakter intelektual mahasiswa-mahasiswa di dalamnya. Dalam prosesi mewujudkan hal tersebut tentunya banyak hal, atau kepentingan yang juga menjadi sebuah hambatan untuk bagaimana menuju proses tersebut. Dalam konteks hari ini kita melihat bahwa bentuk-bentuk mengikisnya dan terdegradasinya kultur-kultur intelektual dalam kampus itu sudah mulai terlihat sakali.

    Misalnya saja, aktivitas-aktivitas intelektual seperti keterbukaan akan kelompok mahasiswa dalam membangun budaya-budaya literasi dan berdiskusi di dalam kampus yang hari ini sudah mulai jarang terlihat. Andai saja aktivitas-aktivitas semacam itu ada yang sangat kontras justru hanya lebih condong dikemas dalam bentuk program-program kerja saja, yang orientasinya hanya sebagai bentuk sebuah prosesi gugurnya kewajiban lembaga atau oraganisasi-organisasi di dalam kampus dalam menjalankan program-program mereka. Dalam hal ini kita melihat oraganisasi-organisasi kampus khususnya yang secara posisi itu berposisi sebagai organ internal kampus justru condong lebih pasif dalam menjalankan peran-peran tersebut.

    Maka dalam hal ini menandakan bahwa internal oraganisasi kampus telah mengalami hal yang kita sebut sebagai kekosongan post-post kegiatan-kegiatan pembentukan kapasitas intelektual. Hal ini tentunya di dasari pada aspek-aspek kultur kepemimpinan kampus maupun ideologi-ideologi kepemimpinan di dalam kampus yang telah mengalami pergeseran secara tujuan.

    Yang saya maksud di sini adalah pergeseran dalam aspek kepemimpinan di dalam kampus tidak lagi terlalu condong memakai yang kita sebut sebagai gerakan intelektual sebagai jalan politik kepemimpinan di dalam kampus. Maka pada hakikatnya sangat penting kita mengembalikan karakter intelektual dalam kultur kepemimpinan politik di dalam kampus. Karena sejatinya itu merupakan satu-satunya jalan bagaimana mengembalikan kultur kampus sebagai organ intelktualitas yang membentuk karakter intelektual mahasiswa-mahasiswa di dalamnya. Maka dalam hal ini juga sudah saatnya organ-organ internal kampus yang secara posisi itu sangat sentral dalam kepemimpinan kampus harusnya mampu mengambil alih atau menjalankan peran tersebut .

    Namun sejatinya untuk menuju proses tersebut memang bisa kita katakan tidak mudah,karena saya katakan tadi konflik-konflik kepentingan di dalam kampus itu juga cukup beragam salah satunya, konflik-konflik ideologis dalam kepemimpinan politik di tataran kampus itu juga menjadi sebuah landasan juga untuk menjadi hambatan jalan untuk menuju prosesi tersebut ,karena kondisinya saja hari ini kepemimpinan di kampus lebih banyak di ambil alih oleh kelompok-kelompok ideologis yang cenderung eksklusif dalam hal pengembangan kapasitas tersebut, hari ini kita lebih condong melihat kelompok-kelompok yang memegang estafet kepemimpinan di dalam kampus justru hanya sibuk mengurusi urusan dapur ideologis mereka dengan membuat sekat yang secara kontras justru itu membatasi kelompok-kelompok ideologis lain untuk menjalankan kepentingannya dan peran sentralnya, maka dengan terjadinya hal semacam ini justru menghadirkan dikotomi baru dalam kalangan mahasiswa.

    Maka satunya-satunya jalan perjuangan yang harus di tempuh untuk bagaimana mengakhiri dominasi-dominasi kelompok ideologis yang menghambat perkembangan kampus dalam konteks tujuan yang saya katakan bahwa kampus adalah “organ pembentuk intelektualitas” adalah dengan cara wacana perebutan kekuasaan atau pengambilalihan kepemimpinan di dalam kampus , dalam hal ini maksudnya bukan hanya perebutan kekuasaan atas kepemimpinan tapi juga harus adanya sebuah narasi-narasi baru yaitu,mencoba menjadikan narasi intelektual atau Gerakan intelektual (intellectual movement) sebagai jalan kepemimpinan politik di dalam kampus , yang sejatinya menurut saya sendiri bahwa narasi intelektual akan menjadi sebauh titik temu atau bisa kita katakan sebagai sebuah konsensus dari konflik-konflik kelompok-kelompok ideologis di dalam kampus hari ini khususnya, di dalam tataran organ-organ internal kampus.

    Pada prosesinya juga menurut saya, kepemimpinan intelktual inilah yang juga akan menghilangkan kultur dari politik kampus yang hanya di dominasi oleh hegemoni-hegomoni ideologis kelompok-kelompok ideologis tertentu, yang sejatinya juga bisa mengubah paradigma yang ada selama ini bahwa pertarungan perebutan kemimpinan di tataran organ-organ internal kampus sebut saja semacam himpunan jurusan,badan eksekutif fakultas,badan eksekutif universitas hanya di dominasi dalam tataran kelompok-kelompok ideologis tertentu saja yang dapat bertarung bahkan memenangkan kontestasi tersebut.

    Kontestasi semacam itu haruslah menghadirkan seorang figure calon pemimpin mahasiwa yang memang murni dia adalah seorang figure intelektual yang memiliki narasi dan gagasan intelektual yang tak condong hanya berbicara tentang kepentingan kelompok ideologisnya saja, tapi ia juga harus memiliki sebauah formulasi kepemimpinan yang mampu merangkul semua kepentingan golongan atau kelompok ideologis yang ada di dalam tataran organ-organ internal kampus tanpa terkecuali. Karena sejatinya bagaimanapun perbedaan ideologi kepemimpinan itu sendiri Ketika ia menggunakan narasi intelektual atau Gerakan intelktual (intellectual movement) sebagai fondasi dari gaya kepemimpinnya tentunya ini akan menjadi hal yang mendasar sekali bagaimana gaya kepemimpinan mahasiwa di organ-organ internal kampus juga akan berpengaruh pada character building dari mahasiswa-mahasiwa di dalamnya, karena seorang pemimpin sendiri memiliki semacam kharisma yang dapat mempengaruhi orang-orang yang di dipimpinnya tentunya yang saya maksud disini, adalah orientasinya dalam bentuk kharisma sebagai seorang pemimpin intelektual di kalangan mahasiwa.

    Maka pada hari ini sudah saatnya wacana-wacana itu di munculkan dalam konteks demokrasi memang sejatinya wacana perebutan kekuasaan dan kepemimpinn itu adalah yang wajar saja, tapi orientasinya wacana yang harus di bangun juga harus sesuai dengan sebagaimana hakikat Dan esensi dalam berdemokrasi.Pada dasarnya wacana pertarungan dalam kampus khususnya karena kita adalah figure mahasiswa yang sangat identik dengan aktivitas-aktivitas intelektualnya maka konsep yang di bangun pun harus relevan dengan apa yang menjadi hakikat seorang mahasiswa yaitu sebagai calon intelektual bangsa. Maka wacana kepemimpinan yang di bangun pun sudah sangat sesuai Ketika itu memiliki nuansa intelektualitas ,maka sejatinya demokrasi yang harus di ciptakan di dalam kampus hari ini adalah demokrasi yang mampu membentuk sebuah iklim politik yang menciptakan calon-calon pemimpin intelektual di kalangan mahasiwa kampus .

    Maka dalam hal ini terakhir saya ingin memakai istilah Antonio Gramsci “hegemoni dan kekuasaan” yg saya ingin katakan bahwa untuk menundukan sebuah dominasi system kekuasaan yang secara konsensual hanya membangun hegemoni pada kekuatan determinasi politik pada kekuatan dominasi kelompok atau golongan, Maka sistem counter hegemoni yang di bangun adalah dengan membentuk wacana sistem perlawanan dalam aspek kepemimpinan moral dan kepemimpinan intelektual. Karena pada dasarnya determinasi kekuasaan yang di bangun berdasarkan fondasi moral ,dan intelektual itu memiliki fondasi yang lebih kuat daripada kekuasaan/orientasi kepemimpinan yang hanya di bangun secara determinasi pada konteks dominasi kelompok-kelompok tertentu.

    Masa-masa mahasiswa adalah masa di mana untuk membentuk kekuatan intelektual, maka dalam konteks ini mahasiswa harus mampu menjadikan kampus sebagai organ yang mampu membangun intelektualitas, sebagai intelektual yang bukan hanya sekedar intelektual tradisionil yang aktivitas intelektualnya hanya bersifat otonom (individu), yang saya maksud adalah sebagai intelektual organik yang juga secara peran dan aktivitasnya berperan terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara maka salah satu Cara yang dapat di bangun untuk menuju proses tersebut adalah dengan membangun sebuah relasi kekuasaan/kepemimpinan di dalam kampus yang memiliki kultur intelektual khususnya di dalam kampus.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.