Kopi, Komoditi "Candu" yang Terancam Sendu - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Imam Al-matin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 September 2020

Kamis, 24 September 2020 08:39 WIB

  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Kopi, Komoditi "Candu" yang Terancam Sendu


    Dibaca : 547 kali

    Komoditi candu yang terancam sendu, ya ungkapan yang sangat sesuai untuk menggambarkan kondisi komoditas kopi di Indonesia saat ini. Kopi merupakan salah satu minuman yang mengandung kafein, sehingga jika berlebihan akan mengakibatkan kecanduan bagi yang mengkonsumsinya.

    Lantas muncul pertanyaan, apa maksud ungkapan candu yang berujung sendu tersebut? Sebagai negara yang berada di posisi ke empat pengekspor kopi terluas di dunia, kini kondisi ekspor kopi indonesia terancam merosot yang disebabkan oleh pandemi Covid-19. sebagai salah satu komoditas terlaris di pasar dunia saat ini, seharusnya kopi dapat menjadi salah satu sumber pendapatan terbesar Indonesia dari sagi ekspor. Namun, Penutupan pelabuhan laut dan bandar udara, serta pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah negara, telah menghambat ekspor kopi Indonesia. Apabila pemerintah Indonesia tidak memberikan perhatian yang penuh terhadap permasalahan tersebut, dikhawatirkan potensi ekspor kopi akan semakin jatuh.

    Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perkebunan yang bersumber Badan Pusat Statistik (BPS), dari tahun ke tahun produksi kopi terus mengalami peningkatan yang signifikan. Dalam kurun waktu 2015-2019, produksinya menunjukkan tren yang positif. Di tahun 2016, produksi kopi mencapai 663.900 ribu ton. Besarnya produksi ini naik 3,83% dari produksi tahun 2015 yang hanya mencapai 639.400 ribu ton. Pada tahun 2017, produksi kopi naik drastis sebesar 7,86% yakni 716.100 ton dari tahun 2016. Pada tahun 2018, produksi kopi tidak naik begitu besar, yakni 728.300 ton, naik 1,7% dari tahun 2017. Sementara produksi kopi di tahun 2019 , meningkat 4,5% yakni 761.100 ton dari tahun 2018.Meskipun kenaikannya tidak begitu besar, tetapi sampai di akhir tahun 2019 produksi kopi di Indonesia masih berada di posisi penghasil kopi terbanyak di dunia.

    Volume Ekspor

    Subsektor perkebunan juga menjadi andalan Indonesia untuk mendapatkan devisa negara yang cukup besar, dapat dilihat dari nilai ekspornya. Besarnya volume ekspor produk perkebunan, salah satunya berasal dari komuditas kopi. Volume ekspor dari konflik kopi kecil jika dibandingkan dengan komoditas lainnya. Namun, berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan yang bersumber Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang tahun 2015-2019 grafik volume ekspor mengalami penurunan atau menunjukkan tren yang negatif diiringi dengan nilai ekspor kopi yang juga menurun. Pada tahun 2016, volume ekspor kopi mencapai 412.370,3 ton. Besar volume ekspor ini turun 17,462% dari volume ekspor tahun 2015 yang mencapai 499.612,7 ton. Pada tahun 2017, volume ekspor kopi sedikit mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya, yaitu naik 12.568% yakni 464.198,

    Pada tahun 2018 ekspor kopi mengalami penurunan yang sangat drastis, dimana volume ekspor mencapai angka 277.411,2 ton, turun 186.787,1 ton dibandingkan tahun sebelumnya, sehingga total nilai ekspor kopi atau perangkat yang diperoleh pada tahun itu hanya sekitar US $ 806.878,6 ribu, turun dari capaian tahun sebelumnya dengan nilai US $ 1.175.393,1 ribu. Sepanjang tahun 2019, volume ekspor kopi Indonesia mencapai 355.766,5 ton dengan nilai US $ 872.355,4 ribu, naik dari capaian tahun sebelumnya sebanyak 78.355,3 ton.

    Saat ini, harga kopi di dalam negeri pun menjadi anjlok karena pandemi covid-19. Nilai ekspor yang terus menurun dari tahun ketahun ini berimbas kepada harga kopi dalam negeri. Dikarenakan jumlah ekspor yang menurun, jumlah impor kopi juga ikut menurun. Dengan total nilai ekspor biji kopi dan kopi olahan Indonesia sepanjang Januari-Mei 2020 yang turun 12,2% berimbas ke impor kopi juga turun sebesar 35,17% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Akibat dari semua itu, daya beli konsumen ikut melemah, permintaan dan tingkat utilisasi industri kopi olahan menurun dan harga menjadi jatuh.

    Untuk mempertahankan status Indonesia sebagai salah satu negara sekaligus produsen kopi utama di dunia, terutama di masa pandemi covid-19 seperti saat ini diperlukan sebuah tindakan nyata yang dilakukan pemerintah, Walaupun pastinya akan sulit untuk mempertahankan nilai ekspor dan impor yang tinggi. dikarena masih banyak negara tujuan ekspor kopi indonesia yang perekonomiannya masih tertekan karena pandemi, pemerintah yang baik melakukan tindakan-tindakan seperti pelaksanaan perjanjian bilateral atau multilateral guna mengurangi harga masuk kopi indonesia ke negara yang berhubungan agar harga kopi menjadi stabil. Jika demikian para petani kopi dan industri kopi tidak akan mengalami kerugian yang besar.

    Selain itu, untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas kopi dalam negri, diperlukan adanya kerjasama antara pemangku kepentingan dari berbagai sektor. Kebijakan dari pemerintah pusat haruslah sejalan dengan pemerintah daerah dalam meningkatkan daya saing kopi Indonesia di pasar global. Pemerintah dapat memberikan bantuan dalam bentuk penyediaan penyuluhan proses pertanian yang baik kepada petani kopi agar hasil produksinya lebih maksimal. Upaya lain yang dapat dilakukan yaitu diperlukannya koordinasi yang baik dengan sektor perindustrian dalam hal pengolahan biji kopi dan kopi olahan yang lebih bagus dan berkualitas tinggi sehingga dapat memberikan nilai yang lebih tinggi pula pada produk kopi. Dari sisi pengendalian harga, upaya yang bisa dilakukan yaitu menghilangkan rantai pemasokan yang lama, dimana mendorong semua produk kopi langsung sampai ke negara tujuan atau tidak lagi melakukan transit di negara lain. Dengan adanya upaya untuk memproduksi kopi dengan kualitas dan produktivitas tinggi, kemudian mengekspornya langsung ke negara tujuan, diharapkan mampu mengatasi kondisi ekspor dan industri kopi di Indonesia saat ini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.