Kawruh Begja, Cara Berdamai dengan Diri Sendiri (Oleh Kemala Atmojo) - Analisa - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Permepuan. Pixabay.com

atmojo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 28 September 2020 11:41 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Kawruh Begja, Cara Berdamai dengan Diri Sendiri (Oleh Kemala Atmojo)

    Kenapa ada pejabat atau orang kaya yang masih korupsi? Kenapa ada orang yang tak tahan menghadapi penderitaan lalu bunuh diri? Ada anak menggugat ibunya demi harta benda, dan ada kelakuan aneh-aneh mantan pejabat, mantan politikus yang tampak tak masuk akal sehat. Kenapa hal itu bisa terjadi? Jika memahamai ilmu Kawruh Begja (ilmu bahagia) ajaran Ki Ageng Suryomentaram, hal-hal semacam itu mungkin tak akan terjadi.

    Dibaca : 1.043 kali

     

    Berita pejabat atau orang kaya yang masih korupsi, kita sudah sering baca. Kabar tentang rakyat yang tak tahan dengan penderitaan lalu bunuh diri, beberapa kali kita dengar. Anak menggugat ibunya demi harta benda, juga pernah kita dengar. Juga sering kita saksikan “kelakuan aneh-aneh” dari mantan pejabat, mantan politikus, yang seperti tak masuk akal sehat.  Kenapa hal itu bisa terjadi? Rakus? Pribadi yang lemah? Ingin populer? Atau yang lain? Mungkin ada baiknya kita mengingat sejenak kata Forrest Gump (Barat) dan Ki Ageng Suryomentaram (Timur) tentang bagaimana sebenarnya manusia hidup di dunia ini, dan bagaimana bisa berdamai dengan diri kita sendiri.

    Hidup itu bagai sekotak cokelat. Anda tak pernah tahu cokelat apa yang bakal Anda peroleh. Begitu kata Forrest Gump (diperankan oleh Tom Hanks), menirukan kalimat ibunya dalam film berjudul sama. Ya, karena ada banyak cokelat dalam kotak, kita tak pernah tahu akan mendapat cokelat isi kacang, isi susu, atau isi strawberry.

    Begitu juga hidup. Kita tak selalu mendapatkan apa yang kita mau. Kita pun tak bisa merancang hidup bak membangun gedung atau jembatan layang, yang serba matematis, serba teknokratis. Dalam roda kehidupan, kadang di atas, kadang di bawah. Kadang senang, kadang susah. Bulan ini jadi panglima tinggi, bulan depan mungkin rakyat biasa. Hari ini komisaris BUMN, siapa tahu esok lusa jadi sopir taksi. Karena itu, tak perlu congkak dan tinggi hati.

    Tapi, dalam kenyataan, selalu ada satu-dua orang yang kecewa ketika keadaan berubah. Selalu ada orang yang tak bisa puas dan berdamai dengan hatinya, dengan apa yang diperolehnya pada suatu masa. Mungkin mereka mengira bahwa harta benda (semat), kehormatan (drajat), kekuasaan (kramat), bisa menghapus rasa susah selamanya. Jas licin, arloji bermerek, rumah mewah, popularitas, dianggap mampu membuat senang hati selamanya.

    Padahal, menurut Ki Ageng Suryomentaram, pendiri aliran kebatinan Kawruh Begja (Ilmu Bahagia), bahwa dalam hidup itu --siapa pun dia, apapun jabatannya-- pastilah sebentar senang, sebentar susah. Tak mungkin orang senang selamanya, susah selamanya. Dan sumber susah-senang ini adalah keinginan kita, yang kadang mulur  (membengkak), kadang mungkred  (menyusut).

    Kenyataan bahwa setiap orang mengalami sebentar senang sebentar susah itu, menurut Ki Ageng, merupakan kebenaran dalam hidup. Kebenaran itu harus dimengerti oleh setiap orang, agar ia bisa hidup secara benar dan sehat. Orang yang berpegang pada kebenaran itu akan mencapai "rasa damai", "rasa sama", "rasa tabah", dan "rasa bebas atau tidak konflik dengan kenyataan yang dialami" dalam hidupnya, dalam menghadapi apa saja. Rasa-rasa semacam itu menjadi dasar bagi kebahagiaan hidup manusia dan keharmonisan dalam pergaulan dengan orang lain. Pendeknya, ia akan masuk dalam "surga ketentraman".

    Sebaliknya, jika tidak mengerti akan kebenaran itu, ia akan berbuat sesuatu yang tidak sejalan dengan kodrat keinginan yang semestinya, sehingga ia jatuh ke dalam jurang neraka 'rasa iri dan sombong', serta 'rasa sesal dan khawatir'. Dan rasa-rasa ini menjadi sumber munculnya konflik, pertengkaran, atau perselisihan, sehingga mendatangkan penderitaan.

    Apakah itu berarti kita harus pasrah, tak berbuat apa-apa? Tentu saja tidak. Bagaimanapun, manusia tetap mempunyai kebutuhan-kebutuhan pokok, keinginan atau harapan lain. Yang menjadi soal adalah jika kebutuhan, keinginan atau harapan itu, melebihi dari kemampuan kita yang sebenarnya, kenyataan kita yang sesungguhnya. Dan kita tak pernah mau mengakui kelemahan, kekurangan, serta ketololan kita sendiri. Selalu saja kita tergoda untuk merasa paling pintar, paling bijaksana, paling tidak berdosa, dan seterusnya.

    Karena itu, ketahuilah dirimu sendiri (pangawikan pribadi). Kenalilah perasaan, keinginan, dan pikiranmu. Setelah itu, tak ada salahnya kita berdamai dengan kenyataan yang kita terima, sesuai dengan kemampuan kita. Toh dalam diri setiap orang, tak ada yang "senang selamanya, susah selamanya". Kesempurnaan berupa "senang atau bahagia selamanya" itu tak ada dalam kenyataan kita. Mari berdamai dengan hati kita.

     

                                                                        ###

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.