Hilirisasi Nikel Indonesia: LBP vs FB - Analisa - www.indonesiana.id
x

Sri Kandhi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Agustus 2020

Kamis, 1 Oktober 2020 06:45 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Hilirisasi Nikel Indonesia: LBP vs FB

    Hilirisasi nikel yang tengah dijalankan pemerintah Indonesia diprediksi oleh Menteri Koordinasi Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, akan menyumbang negara hingga US$10 miliar dari hasil ekspor.

    Dibaca : 254 kali

    Hilirisasi nikel yang tengah dijalankan pemerintah Indonesia diprediksi oleh Menteri Koordinasi Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, akan menyumbang negara hingga US$10 miliar dari hasil ekspor. “Dengan program hilirisasi nikel, paling tidak sudah menyumbang di tahun 2020, perkiraan kami US$10 Miliar,“ ujarnya dalam webinar “Investasi di Tengah Pandemi”. 

    LBP menjelaskan bahwa Indonesia saat ini sedang fokus menggarap program hilirisasi hasil pertambangan. Dirinya menyatakan dengan tegas bahwa program ini akan berkelanjutan dan dibutuhkan oleh generasi muda di masa depan. Luhut juga mengungkapkan bahwa dirinya telah menyampaikan potensi hilirisasi ini kepada Presiden Joko Widodo. LBP mengambil contoh dari nilai ekspor nikel Indonesia sebesar US$612 juta per tahun. Namun, nilainya menjadi bertambah menjadi US$6,24 miliar saat bijih nikel tersebut diolah menjadi stainless steel slab maupun hot rolled coil. 

    Akan tetapi ekonom ternama Indonesia menampik pernyataan LBP tersebut. “Pak Luhut ngomongnya hilirisasi, hilirisasi. Wajib, wajib, wajib. Nanti yang untung siapa? Saya enggak tahu sekarang menteri pertambangannya (ESDM) Pak Luhut atau Pak Tasrif. Karena yang lebih sering saya dengar adalah Pak Luhut,” ungkap Faisal Basri. 

    Tak hanya itu, ekonom yang sempat maju sebagai kontestan Pilgub DKI Jakarta 2012 ini, juga menekankan bahwa Indonesia mustahil menjadi produsen baterai terbesar dunia. “Nah, Pak Luhut mimpi. Mau bikin industri baterai terbesar di dunia ya hampir mustahil. Jadi produsen baterai terbesar di dunia? Omong kosong. Negara dapat apa? Nggak dapat apa-apa, kecuali heboh-hebohnya," tutur Faisal.

    Berbanding terbalik dengan Faisal Basri, Luhut Binsar Pandjaitan menginformasikan bahwa di tahun 2030, Eropa sudah tidak akan menggunakan lagi mobil fosil melainkan kendaraan berbasis listrik dengan tenaga lithium baterai. Pandangan optimis itu dibawa LBP bagi negara ini, “Itu yang akan menjadi target kita, mereka (negara lain) sudah hampir berapa puluh persen untuk pakai mobil elektrik. Kita akan menjadi pemain baterai lithium. Cadangan untuk menjadi pemain baterai lithium kita saat ini ada 40 persen, merupakan nomor 1 di dunia,” ujar Luhut. 

    Tidak pernah ada habisnya, kedua tokoh bangsa ini sering berbenturan dan tidak sependapat satu dengan yang lainnya. Publik pun menilai dan berasumsi, bahwa pola pikir dan ucapan Faisal Basri dinilai kurang bijak dalam berpandangan. Bukan tanpa sebab, belakangan ini Faisal Basri terus menciptakan sentimen-sentimen yang mendegradasi pemerintahan Presiden Jokowi. Tidak hanya dunia pertambangan, nikel, dan industri hilirisasi saja yang Faisal Basri kritik. Tapi ragam sektor mendapatkan sentimen dari ‘ahlinya-ahli’, yakni Faisal Basri.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.