Saya dipermalukan oleh Privilege - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Permepuan. Pixabay.com

Fitria Wulan sari

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 1 Oktober 2020

Kamis, 1 Oktober 2020 14:19 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Saya dipermalukan oleh Privilege

    Saya terlahir dari keluarga yang kurang lebih ber-previlege tapi merasa gagal memanfaatkan kesempatan. Saya merasa dipermalukan oleh privilege yang saya miliki. Saya yang memiliki akses dan kesempatan lebih banyak daripada orang lain, gagal dalam memanfaatkan privilege. Walaupun sebenarnya saya tidak sebodoh itu, tapi tetap saja saya selalu melihat bahwa saya merupakan produk gagal akibat kemalasan. Sampai akhirnya saya mengubah cara pandang saya tentang gagal dan sukses...

    Dibaca : 1.130 kali

    sumber gambar: https://knowyourmeme.com/photos/1593170-greta-thunberg

    Istilah privilege  sekarang jadi tidak asing didengar di linimasa. Kata ini identik dengan ketidakadilan sosial. Seringkali kita menyematkan kata ini pada orang-orang yang memperoleh kesuksesannya di usia muda, mereka mampu karena memiliki hak istimewa.

    Saya sepakat bahwa privilege secara kasar membuat orang-orang yang memilikinya bisa mengambil garis start yang jauh di depan dibanding mayoritas orang tanpa privilege. Anak yang lahir dari keluarga pengusaha di kota besar jelas akan berbeda kesempatannya dibanding anak yang lahir di desa miskin terpencil.

    Saya lahir dan besar di kota kecil di Kalimantan Timur yang jelas jauh dari akses dibanding kota metropolitan seperti Jakarta dan Surabaya. Tapi saya terlahir dari ayah yang merupakan karyawan perusahaan besar. Memang hanya karyawan, tapi perusahaan memfasilitasi keluarga karyawan dengan rumah dinas, air dan listrik tanpa batas, hingga fasilitas pendidikan yang memadai.

    Saya ingat tiap pagi selalu diantar jemput oleh bis sekolah yang difasilitasi perusahaan, tentu bukan privilege yang bisa didapatkan semua anak di Indonesia. Selain itu privilege lain adalah akses pada teknologi informas yang besar. Jauh dari akses kota metropolitan membuat saya lebih terbiasa menggunakan teknologi karena memang tidak ada hiburan lain selain teknologi.

    Namun semua itu berubah setelah saya berkuliah di pulau paling padat penduduk di Indonesia. Semua batasan terhadap status sosial ekonomi akhirnya lebur seiring dengan semakin luasnya jaringan pertemanan. Suatu waktu akhirnya saya tersadar bahwa saya lahir sangat jauh lebih beruntung dibanding teman-teman lain, saya lebih ber-privilege dibanding sebagian besar mereka terutama secara ekonomi.

    Tapi mengapa saya masih begini-begini saja, dalam artian tidak jauh lebih pintar padahal banyak akses di hidup saya yang bisa dimanfaatkan? Saya akhirnya merasa malu dan menganggap semua ini terjadi karena kemalasan saya. Walaupun orang disekitar secara tidak pernah ada yang mengatakan hal tersebut di depan muka saya.

    Saya merasa dipermalukan oleh privilege yang saya miliki. Saya yang memiliki akses dan kesempatan lebih banyak daripada orang lain, gagal dalam memanfaatkan privilege saya. Walaupun sebenarnya saya tidak sebodoh itu, tapi tetap saja saya selalu melihat bahwa saya merupakan produk gagal akibat kemalasan.

    Sampai akhirnya saya pernah berada di satu waktu dimana saya memaksakan diri untuk selalu produktif. Bangun pagi langsung menghadap laptop untuk mengakses informasi terbaru di internet, dilanjutkan dengan memanfaatkan kuliah online gratis dari luar negeri (lagi-lagi karena privilege, saya memiliki kemampuan bahasa inggris yang cukup baik), dilanjut dengan membaca buku yang saya beli menggunakan uang orang tua saya. Apakah hidup saya lebih baik? Ternyata tidak.

    Karena yang terjadi adalah saya mengalami burnout, sebuah kondisi yang terjadi ketika seseorang mengalami kelelahan secara fisik dan emosional karena ekspektasi yang terlalu tinggi. Saya memang rentan terhadap stress karena saya memiliki gangguan kejiwaan, namun itu tentu bukan alasan karena semua ini terjadi akibat saya gagal melakukan manajemen stres.

    Akhirnya saya terpaksa rehat panjang karena burnout membuat kualitas hidup saya sebagai manusia menjadi kurang optimal. Saya terlalu keras pada diri saya sendiri padahal kegiatan-kegiatan produktif tersebut seharusnya bisa dibuat lebih menyenangkan sehingga tidak menjadi tekanan.

    Walaupun mungkin terdengar seperti pembenaran dan mungkin ada orang yang bilang bahwa saya kurang bersyukur dengan sebagai kelebihan dalam hidup. Tapi percayalah hidup tidak akan menjadi lebih baik jika dipaksakan hingga menjadi tekanan. Perlu rasanya untuk mengubah cara pandang yang menuntut tersebut menjadi lebih terbuka. Bahwa saya harus berdamai bahwa saya bisa jadi di masa lalu kurang optimal dalam memanfaatkan kesempatan, tapi saya harus bisa menjadi lebih baik tiap harinya. Tidak perlu terlalu keras pada diri sendiri, istirahat jika semua dirasa melelahkan.

    Selain itu setelah saya pikir-pikir, saya sebenarnya bukan sepenuhnya produk gagal akibat kemalasan. Jika iya, mungkin saya tidak punya kemampuan berbahasa asing dan berteknologi dengan baik. Saya bisa saja di masa lalu benar-benar tidak memanfaatkan kesempatan, sehingga hari ini saya tidak punya kemampuan apapun.

    Saya mengubah cara pandang saya tentang gagal dan sukses, bahwa kedua kata tersebut bukan kata yang sepenuhnya bertolak belakang seperti hitam dan putih. Tapi lebih seperti spektrum, bahwa diantara hitam dan putih masih ada abu-abu, abu-abu keputihan hingga abu-abu kehitaman. Mungkin posisi saya sekarang berada di posisi abu-abu kehitaman dan saya sedang berjalan ke arah yang lebih cerah.

    Selain itu saya jadi punya cara lain untuk memanfaatkan privilege saya, tidak hanya untuk diri saya sendiri tapi untuk orang lain. Contohnya ketika saya punya uang lebih saya bisa sekali-kali mengajak teman untuk makan enak. Hitung-hitung hal itu tidak hanya membahagiakan orang lain tapi juga diri saya sendiri.

    Jadi menurut saya sudah tidak ada alasan untuk orang dipermalukan karena privilegenya. Karena semua itu kembali pada bagaimana mereka mampu memanfaatkan kesempatan tersebut. Seperti Greta Thunberg, anak ini mungkin memang lahir dari keluarga dan ras berprivilege tapi ia memanfaatkan kesempatannya untuk kebaikan orang banyak dan lingkungan. Maka miris rasanya melihat ia dipermalukan karena privilegenya, padahal kita bisa berfokus pada usaha dan perjuangannya demi perubahan iklim.

    Jadi berhenti mempermalukan orang karena privilegenya, lebih baik gunakan itu sebagai fokus analisis untuk mengamati masalah ketidakadilan sosial. Privilege itu masalah kompleks bos!

    Terakhir, tetap produktif dan jangan lupa bahagia!



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.