Morowali Berhasil Menjadi Global Supply Chain - - www.indonesiana.id
x

Riki Sualah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 Juli 2020

Jumat, 2 Oktober 2020 05:58 WIB

  • Berita Utama
  • Morowali Berhasil Menjadi Global Supply Chain

    Tidak hanya sebatas komitmen meningkatkan PAD Kabupaten Morowali saja, kawasan industri Morowali telah mengubah mata rantai pasok (supply chain) dari hulu ke hilir.

    Dibaca : 658 kali

    Indonesia merupakan negara yang luas, tidak hanya Pulau Jawa, namun terdapat Pulau Sulawesi yang menyimpan sejuta kekayaan. Tepatnya di Kecamatan Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah. Dahulu, masyarakat Bahodopi hidup berdampingan dengan gelap gulita, tak ada pencahayaan maupun saluran telekomunikasi.

    Namun, itu adalah wajah Bahodopi bertahun-tahun yang lalu, saat kawasan industri Morowali belum beroperasi di daerah tersebut. Kini, anak-anak Bahodopi dapat menikmati terang serta masyarakat bersuka cita dengan adanya teknologi telekomunikasi yang dibangun oleh kawasan industri di Morowali. Hal ini menjadi bukti nyata, bahwa kawasan industri Morowali telah berkontribusi terhadap perubahan signifikan kemajuan pada salah satu wilayah di Indonesia. 

    Saat ini, wajah Morowali pun telah berganti dan membuat para investor bersemangat untuk melakukan investasi di tempat ini. Morowali, daerah yang memiliki kekayaan berupa mineral salah satunya nikel, rupanya berhasil menyejahterakan kawasan di sekitarnya, mulai dari masyarakat, pemerintah, hingga Indonesia. Salah satunya melalui adanya Kawasan Industri Morowali yang turut berkomitmen berkontribusi pada PAD (pendapatan asli daerah) Kabupaten Morowali.

    Salah satu usaha untuk meningkatkan PAD adalah melalui kewajiban setoran pajak dan royalti. Sepanjang kawasan industri tersebut beroperasi, perusahaan tersebut telah mengikuti peraturan yang berlaku. Salah satunya dengan menyalurkan pajak dan royalti kepada negara serta pemerintah pusat yang masuk ke dalam kas negara.

    Tidak hanya sebatas komitmen meningkatkan PAD Kabupaten Morowali saja, kawasan industri Morowali telah mengubah mata rantai pasok (supply chain) dari hulu ke hilir. Dalam arti lain, Indonesia telah siap memegang kendali penuh dalam sebuah produksi yang dibutuhkan oleh banyak negara di dunia. Hal ini dulunya hanyalah mimpi belaka bagi Indonesia, namun kini telah terealisasikan dengan adanya hilirisasi.

    Jika dahulu Indonesia hanya mampu mengekspor raw material. Namun kini dari tahun ke tahun dengan adanya hilirisasi, Indonesia memberikan value added pada sebuah material yang akan menghasilkan devisa lebih bagi sebuah negara. Tak bisa menampik, hilirisasi memberikan manfaat nyata bagi Indonesia.

    Namun wajah Morowali terancam berubah kembali ke era lampau, tanpa hingar-bingar aktivitas perindustrian. Semoga saja itu tidak akan terjadi. Bukan tanpa alasan jika suatu saat nanti para investor hilang semangat untuk berinvestasi di Morowali. Bisa saja mereka memilih negara yang betul-betul ramah terhadap investasi selain di negara ini.

    Seperti yang telah diketahui bersama, Indonesia perlu menyiapkan iklim investasi yang sangat ramah kepada para investor, memangkas regulasi yang menghambat investasi, melakukan identifikasi perizinan yang tidak diperlukan serta rekomendasi berbagai pihak terkait dengan investasi. Tujuan utamanya satu, agar para penanam modal tetap berada di negara ini.

    Sebagaimana halnya tentang regulasi yang menghambat investasi. Harga patokan mineral (HPM) yang diterbitkan oleh Kementerian ESDM seakan menjadi polemik para pelaku usaha smelter. Perlu digaris bawahi, Indonesia saat ini tengah berlomba-lomba menciptakan nilai tambah pada mineral nikel. Namun dengan adanya regulasi tersebut, seolah-olah menghambat laju investasi yang ada dan yang akan datang.

    Mineral nikel kini menjadi magnet baru di dalam negeri. Selama ini, hanya nikel saja yang diharuskan untuk patuh menerapkan HPM. Salah satu buktinya adalah pembentukan satuan tugas HPM Nikel. 

    Lalu timbul beberapa opini, mengapa mineral lainnya belum begitu ketat pemberlakuan HPM seperti pada nikel? Dan, apakah tim satgas HPM khusus mineral lainnya telah ada dan dibentuk? Supaya HPM nantinya dapat merata untuk diterapkan pada mineral lainnya.

    Mengapa seolah-olah nikel menjadi sorotan dari setiap pemberitaan? Adakah yang salah dari rising star alias nikel ini? Ada apa di balik ini semua?



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.