Milik Indonesia, Bukan Sekadar Memakai, Pahami Batik, maka Mencintai - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Batik

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 2 Oktober 2020 11:23 WIB

  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Milik Indonesia, Bukan Sekadar Memakai, Pahami Batik, maka Mencintai

    Hari Batik ke-11 ini, di masa sulit pandemi corona, bagi para pengrajin dan produsen batik, kisah atau narasi di balik batik itu dibuat ternyata menjadi daya tarik luar biasa bagi para pembeli atau konsumen. Adanya narasi tentang batik, juga sangat membantu rakyat Indonesia semakin mencintai batik di negeri sendiri. Minimal setiap mengenakan batik, tahu dan paham tentang jenis dan motif batik apa yang sedang dikenakan. Bukan sekadar memakai batik dan tak memahami batik yang dikenakannya.

    Dibaca : 549 kali

    Tanggal 2 Oktober 2020 adalah Hari Batik Nasional (HBN) dan di tahun ini adalah perayaan HBN ke-11 sejak batik ditetapkan sebagai daftar Intangible Cultural Heritage (ICH) UNESCO atau Warisan Budaya Takbenda (WBTb) pada sidang UNESCO di Abu Dabhi, 2 Oktober 2009.

    Sejatinya batik telah ada di Indonesia dari zaman kerajaan, namun butuh waktu dan proses hingga pada akhirnya, batik menjadi milik Indonesia dan diakui dunia karena banyak negara yang terus mencoba mengulik batik sebagai warisan budaya mereka.

    Sebelum ditetapkan, Indonesia mengajukan ke UNESCO pada September 2008, dan pada Januari 2009, UNESCO menerima pendaftaran tersebut secara resmi dan dilakukan pengujian tertutup di Paris pada bulan Mei 2009. Akhirnya dari lima domain penilaian, batik memenuhi tiga domain, yaitu tradisi dan ekspresi lisan, kebiasaan sosial dan adat istiadat masyarakat ritus, perayaan-perayaan serta kemahiran kerajinan tradisional.

    Kini, batik sudah 11 tahun resmi menjadi milik Indonesia dan dunia mengakui. Bagaimana sikap pemerintah dan masyarakat Indonesia akan keberadaan batik Indonesia yang sudah diakui dunia?

    Apakah dalam setiap perayaan Hari Batik, hanya akan selalu diisi acara seremonial dan sekadar saling mengucapkan "Selamat Hari Batik" lalu sekadar mengenakan batik di berbagai kalangan, instansi dan institusi pemerintah? Tanpa memahami lebih dalam sejarah batik, jenis batik, hingga kita semua semakin mencintai batik di negeri sendiri? Bagaimana dengan rakyat biasa yang tak terakomodir dalam ranah instansi dan institusi pemerintah? Akankah turut merayakan Hari Batik dan turut mengenakan batik? Terlebih di tengah pandemi corona?

    Warga mancanegara sangat cinta batik

    Pada tahun 1987 hingga 1990an, saya sempat jualan batik di sela-sela kuliah. Tentunya hal ini bukan iseng atau kebetulan, tetapi memang momentum yang sangat pas.

    Sebagai mahasiswa perantau di Jakarta, agar tak merepotkan orang tua di kampung, berbagai usaha yang mendatangkan uang sambil kuliah saya jalankan, di antaranya jualan kain batik tradisional, karena saya juga terlahir dari keluarga "garmen".

    Karenanya sejak kecil, saya sudah terbiasa dengan lingkungan yang akrab dengan jahit-menjahit dan akrab dengan dunia garmen. Sementara di kampung sebelah, saya juga mempunyai saudara yang terjun langsung dalam dunia batik-membatik. Bahkan di kampung sebelah, selain saudara saya, warga di kampung tersebut juga rata-rata bekerja menjadi pembatik tradisional rumahan, dan mengerjakan satu kain batik bisa berminggu-minggu karena rumit. Setelah jadi, harga batik pun dijual cukup mahal.

    Saat perantauan saya dimulai, tanpa disadari, ternyata dalam kelas kuliah itu, ada beberapa mahasiswa dari mancanegara. Suatu hari teman dari mancanegara yang dapat beasiswa dan kuliah bareng  itu meminta saya menemani mereka untuk membeli batik ke suatu mal di Jakarta. Saat saya tanya, mengapa mau membeli batik, jawabnya mereka suka sekali batik dari Indonesia. Dalam benak mereka, ingat Indonesia ya ingat batik.

    Dan, ternyata mereka sangat menyukai batik jenis tradisional. Meski harganya mahal, teman-teman dari mancanegara itu tetap saja membeli batik tradisional. 

    Mengapa mereka tetap membeli batik tradisional meski harganya mahal? Sebelum mereka memutuskan membeli, ternyata teman-teman saya ini cukup puas dengan penjelasan dari pihak Gerai Batik menyoal "narasi" batik tradisional itu dibuat. Jadi, wajar mengapa batik tradisional harganya mahal dan teman saya pun paham sejarah dan jenis batik itu, makanya tetap membeli karena sesuai dengan proses dan kualitas dan sejarah batik itu mengapa diberi nama-nama yang unik.

    Pada, kesempatan lain, akhirnya saya pun menawarkan kerjasama dengan teman-teman ini, bila mau batik tradisional, saya pun dapat menyiapkan dan saya ambil langsung dari pengrajinnya dari daerah saya.

    Hasilnya, kurun tiga tahunan, saya menjadi penyambung dari pengrajin batik tradisional di daerah saya dengan teman-teman dari mancanegara yang selalu membeli batik hasil buatan pengrajin asli, meski tetap dengan harga standar. Dan, di situlah saya semakin memahami tentang batik dan bangga dengan batik ini, karena teman-teman dari mancanegara saja sangat menyukai batik asli Indonesia buatan tangan dari pengrajin di daerah saya baik untuk dipakai sendiri, untuk keluarganya, saudaranya dan rekan sejawatnya, bukan untuk dijual lagi, lebih menjadi kolektor batik. 

    Kisah puluhan tahun tersebut saya alami bahkan puluhan tahun sebelum batik ditetapkan sebagai warisan budaya Indonesia oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009 dan warga mancanegara saja sangat suka dan mencintai batik tradisional Indonesia.

    Mengapa mereka mencintai dan mau memiliki batik tradisional Indonesia bahkan dengan merogoh kocek yang tidak sedikit? Kuncinya ada pada karena mereka memahami sejarah dan latar belakang batik itu dibuat hingga memahami jenis-jenisnya.

    Pahami batik, maka mencintai

    Untuk itu, khususnya bagi para pengrajin dan produsen batik, dan umumnya bagi pemerintah dan rakyat Indonesia, setelah batik sah diakui dunia sebagai warisan Indonesia, wajib dilakukan upaya yang tak henti agar batik semakin di cintai oleh orang Indonesia, bukan sekadar merayakan Hari Batik dan mengenakan batik, namun tak memahami kedalaman menyoal batik itu sendiri.

    Harus ada upaya untuk selalu mensosialisasikan menyoal batik ini dari sisi pengertian, sejarah, ciri, jenis, motif, dan proses pembuatan. Dengan demikian, rakyat Indonesia secara umum akan semakin mencintai batik, mengenakannya dan tahu sejarah dan makna dari batik yang dikenakannya.

    Semisal, rakyat jadi semakin memahami karena ada penjelasan, semisal dari sisi pengertian, batik adalah kain bergambar dan peroses pembuatannya secara khusus yang di gambar atau menerakan motif ke suatu kain yang masih kosong, dan kemudian melaui proses khusus sehingga mempunyai ciri khas pada kain tersebut. 

    Selanjutnya ada sejarah teknik batik sejak  zaman kerajaan Majapahit, ada ciri-ciri batik seperti tradisional, modern. Ada motif batik tradisional, motif modern, hingga bagaimana cara pembuatannya.

    Hal-hal ini saat dijelaskan oleh para penjual batik kepada para pembeli, seperti yang saya lakukan kepada pembeli, teman-teman dari mancanegara, mereka semakin suka dan tertarik.

    Karena itu, di Hari Batik ke-11 ini, di masa sulit pandemi corona, bagi para pengrajin dan produsen batik, kisah atau narasi di balik batik itu dibuat ternyata menjadi daya tarik luar biasa bagi para pembeli atau konsumen.

    Adanya narasi tentang batik, juga sangat membantu rakyat Indonesia semakin mencintai batik di negeri sendiri. Minimal setiap mengenakan batik, tahu dan paham tentang jenis dan motif batik apa yang sedang dikenakan. Bukan sekadar memakai batik dan tak memahami batik yang dikenakannya.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.