Pemimpin Kita Sekarang Ada di Level Mana Sesuai Ajaran Leluhur Bangsa Nusantara? - Analisa - www.indonesiana.id
x

kesadaran diri

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 3 Oktober 2020 13:18 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Pemimpin Kita Sekarang Ada di Level Mana Sesuai Ajaran Leluhur Bangsa Nusantara?

    Ayo pahami lagi "Ajaran Leluhur Bangsa Nusantara" dengan Sapta Mandala Salira-nya. Para pemimpin seharusnya menyadari apa yang mereka perbuat sangat berdampak pada bangsa dan negara ini. Pemimpin NKRI minimal individu yang levelnya di Mandala Raja atau Mandala Wening atau Mandala Wangi atau Mandala Agung atau Mandala Hyang. Bukan di leval Mandala Kasungka.

    Dibaca : 858 kali


    Di tengah pandemi corona dan krisis multidimensi di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang terus bak  benang kusut, rasanya akan sangat sulit diurai dan entah sampai kapan akan enyah dari bumi pertiwi ini.

    Sejatinya pangkal dan penyebab masalah mengapa di NKRI, krisis multi dimensi ini terus terjadi sangat mudah diidentifikasi. Sebagai sebuah bangsa dan negara, maka identifikasi Indonesia jelas terdiri dari wilayah (daratan dan lautan), rakyat (penduduk), dan pemimpin, yang diangkat dari rakyat (penguasa).

    Lalu, kira-kira apa dan siapa yang membuat Indonesia terus berkubang dalam krisis multidimesi? Meski sudah 75 tahun merdeka, rakyat masih menderita, kemiskinan terus mendera, pengangguran terus bertambah, pendidikan terus tertinggal, ketidakadilan terus menjadi orkestra, dan hukum tajam ke bawah tumpul ke atas. Lalu kesehatan masih menjadi barang mahal, ekonomi terpuruk, kekayaan alam laut dan hutan dikuasai segelintir orang, yang miskin semakin miskin yang kaya semakin kaya.

    Bila karakter cerdas dan berbudi pekerti luhur sebagian besar rakyat Indonesia masih belum sesuai harapan, bisa diterima dengan logika karena rakyat masih miskin menderita dan jauh dari pendidikan formal. Dan, siapa yang seharusnya menjadi penjaga, pelindung, pengayom, dan pembimbing rakyat? Apakah rakyat itu sendiri atau daratan dan lautan?

    Sudah barang tentu yang mustinya menjadi penjaga, pelindung, pengayom, dan pembimbing adalah rakyat yang diberikan amanah untuk memimpin bangsa dan negara ini. Pemimpin yang seharusnya menjadi pengasuh sekaligus penasihat, memiliki sikap jujur, sederhana, tulus, berbuat sesuatu tanpa pamrih, tetapi memiliki pengetahuan yang sangat luas, dan cerdik untuk kemaslahatan rakyat.

    Sayang, sengkarut yang tak pernah habis dan terus membikin NKRI berkubang dalam krisis multudimensi, justru diciptakan oleh rakyat yang diamanahkan untuk menjadi pemimpin bangsa dan negara ini. Rakyat itu adalah para individu yang tergabung dalam partai politik, menjadi elite partai, lalu mencari suara rakyat demi dapat duduk di kursi parlemen dan pemerintahan mulai dari tingkat kota/kabupaten/provinsi, hingga duduk di singgasana orang nomor 1 di NKRI.

    Seharusnya dan sewajibnya, para individu inilah yang menjalankan amanah memimpin rakyat, bangsa, dan negara lepas dari semua sengkarut dan krisis multidimensi NKRI berkepanjangan. Mereka harus membalikkan keadaan hingga rakyat merasakan keadilan dan kemakmuran di daratan dan lautan negeri sendiri.

    Bukannya semakin hari krisis dapat mereda, sebaliknya, para individu elite partai ini bukan menjadi perwakilan rakyat dan menjalankan amanah untuk rakyat sesuai Pembukaan UUD 1945, namun mereka justru hanya mengabdi kepada partai politik dan para cukong demi kesejahteraannya. Juga mengabdi untuk diri sendiri, keluarga, dan para koleganya.

    Tanpa ada corona dan di tengah pandemi corona, sifat, tabiat, dan perilaku mereka sama saja. Terus menari-nari berpesta pora di atas penderitaan rakyat, dengan terus memproduksi Undang-Undang yang menguntungkan mereka dan terus memproduksi kebijakan yang melanggengkan kedudukan mereka, serta terus menciptakan situasi yang mengamankan mereka. Tak malu dan seolah tak sadar diri. Buta mata dan hati, serta tutup telinga dengan apa yang terus terjadi pada bangsa dan negara terutama pada penderitaan rakyat. Tak pernah mau dikoreksi padahal bukan raja.

    Jadi, inilah NKRI hingga kini. Ada daratan dan lautan sebagai wilayahnya, ada rakyat sebagai penduduknya, dan ada rakyat yang diamanahkan menjadi pemimpin bangsa dan negara, namun pemimpin ini menjelma menjadi penguasa bak raja.

    Ajaran Leluhur Bangsa Nusantara

    Pertanyaannya, pernahkah para pemimpin sekarang membaca Ajaran Leluhur Bangsa Nusantara (ALBN)?

    Seandainya para pemimpin kita di parlemen dan pemerintahan mulai dari tingkat kabupaten, kota, provinsi, hingga pusat pernah membaca ALBN, maka yakin mereka minimal akan malu dan tahu diri dengan apa yang selama ini telah diperbuatnya dan tak amanah dipercaya rakyat. Dari berbagai literasi, menyoal ALBN ini telah ditulis dan terpublikasi di berbagai sumber dan media.

    Saya kutip dari sundalandgeografi.blogspot.com Januari 2017, ada Ajaran Leluhur Bangsa Nusantara, yaitu Sapta Mandala Salira (Tujuh Kesadaran dalam Diri): (1) Mandala Kasungka, (2) Mandala Seba, (3) Mandala Raja, (4) Mandala Wening, (5) Mandala Wangi, (6)Mandala Agung dan (7) Mandala Hyang.

    Lalu kesadaran diri seperti apakah Sapta Mandala Salira itu?

    Pertama adalah MANDALA KASUNGKA dalam tingkatan ini seseorang masih memikirkan tentang sex, syahwat nafsu, gaya hidup, kekuasan serta segala yang bersifat "kebinatangan". Merupakan kualitas manusia yang "terendah" .

    Kedua adalah MANDALA SEBA tingkatan ini dimana seseorang masih memikirkan tentang diirnya sendiri.

    Ketiga adalah MANDALA RAJA tingkatan ini hanya dapat tercapai jika seseorang memikirkan tentang kebajikan dan kebajikan. 

    Keempat adalah MANDALA WENING dalam tingkatan ini hanya dapat tercapai jika seseorang telah memikirkan tentang kasih sayang.

    Kelima adalah MANDALA WANGI tingkatan ini hanya dapat tercapai jika seseorang telah memikirkan tentang kebenaran.

    Keenam adalah MANDALA AGUNG hanya dapat tercapai tercapai jika seseorang telah memikirkan tentang kehidupan bangsa dan negara.

    Ketujuh adalah MANDALA HYANG dalam tingkatan ini mungkin seseorang di tingkat kewalian yang dapat tercapai jika seseorang telah memikirkan kesemestaan.

    Sejatinya ada penjelasan lebih detail menyoal Sapta Mandala Salira tersebut, namun jangankan bagi pemimpin bangsa ini, rakyat jelata saja pasti sudah paham maksud dari garis besar Sapta Mandala Salira itu. Dan, rakyat jelata pun tentu dapat mengidentifikasi dirinya, masuk dalam kategori individu/orang/manusia jenis mana?

    Lebih dari itu, rakyat jelata pun dapat menilai dan memberikan angka rapor bagi para pemimpin NKRI sekarang masuk dalam kategori Sapta Mandal Salira yang mana sesuai dengan apa yang selama ini telah diperbuat untuk dirinya, partainya, cukong, serta bagaimana amanah untuk rakyat!

    Sebagai tolok ukur, yang terbaru Pilkada tetap harus jalan. Presiden bahkan tak mau mendengar dan tak mau dikoreksi oleh rakyat, meski berbagai alasan logis penolakan dikemukakan. Namun, Liga 1 dan Liga 2 Sepak bola Indonesia harus dikorbankan dan dihentikan dengan alasan corona, padahal sepak bola adalah olah raga yang kini sudah menjadi gantungan hidup rakyat Indonesia.

    Sementara di berbagai bidang, apa yang dilakukan oleh para pemimpin bangsa ini terus menambah benang kusut, sengkarut, dan krisis multidimensi.

    Jujur, bagi para pemuja, pendukung, dan pengikut para pemimpin kita sekarang, secara hati nurani, tentu juga dapat menilai kira-kira para junjungannya itu masuk kategori Sapta Madala Salira yang mana? Karena rakyat jelata pun dapat mengucap bahwa pemimpin kita sekarang seperti apa.

    Ayo pahami lagi Ajaran Leluhur Bangsa Nusantara dengan Sapta Mandala Saliranya. Bila para pemimpin tak juga menyadari apa yang kini sedang mereka perbuat dan sangat berdampak pada bangsa dan negara ini, terutama pada penderitaan rakyat, maka semoga akan lahir pemimpin baru dari rakyat yang bukan individu yang memiliki kesadaran di level Mandala Kasungka dan Mandala Seba. Namun, pemimpin baru NKRI minimal individu yang levelnya Mandala Raja atau Mandala Wening atau Mandala Wangi atau Mandala Agung atau Mandala Hyang.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.