Cara Milenial Memahami Sejarah G30S - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Diorama yang menggambarkan saat anggota PKI mennagkap dan menyiksa Mayjen S Parman, Mayjen Suprapto, Brigjen Sutoyo, dan Lettu Pierre Tendean, di dalam Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta Timur

Diki Zack

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 7 Agustus 2020

Senin, 5 Oktober 2020 05:54 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Cara Milenial Memahami Sejarah G30S

    Saya akan mengarahkan tulisan ini untuk kaum muda, khususnya yang tidak melewati masa Orde Baru ntuk memahami masalah PKI hari ini. Sangat penting untuk mempelajari buku-buku sejarah secara objektif, dan dalam beragam versi. Bukan sejarah yang ditulis satu pihak saja.

    Dibaca : 742 kali

    Oleh : Kevin Nobel

    Disclaimer


    Saya bukan pendukung PKI sebab mereka terlalu agresif dan memang mereka melakukan kesalahan, serta ideologi mereka terbukti gagal untuk membangun sistem kenegaraan yang baik. Dan, saya bukan pendukung pembunuhan manusia (entah itu yang dilakukan oleh PKI, kelompok "kerakyatan", ultra-nasionalis, maupun agama), sebab itu adalah hal yang jahat dan melanggar hukum moral-etika.

    Saya tidak terlalu tertarik untuk berbagian dalam perpolitikan maupun berpihak pada politik atau aliran tertentu, saya ingin berdiri secara lebih objektif dan melihat sejarah Indonesia, dan mengangkat nilai kemanusiaan. Jika kita tidak setuju terhadap pembunuhan yang dilakukan oleh beberapa oknum PKI terhadap para jenderal, maka kita juga seharusnya tidak setuju terhadap pembunuhan massal.

    Saya akan mengarahkan tulisan ini untuk kaum muda, khususnya yang tidak terlalu melewati masa-masa Orde Baru. Untuk memahami masalah PKI hari ini, sangat penting bagi Anda untuk mempelajari buku-buku sejarah yang objektif, dan yang bukan ditulis menurut satu versi pemerintah saja ataupun mendengar para petinggi-petinggi yang menyuarakan masalah PKI untuk kepentingan politik.

    Saya mengibaratkan bahwa seluruh rangkaian permasalahan G30S, bahkan sampai hari ini, seperti menjebak kita dalam sebuah hiperrealita untuk "membius dan menginstall" masyarakat Indonesia tentang kejahatan sebuah monster yang disebut PKI yang beberapa petingginya membunuh enam jenderal militer, dan mencoba untuk menutupi realita pembunuhan massal yang menelan 500 ribu–2 juta jiwa.


    Saya akan merangkum juga diskusi dari video di atas di dalam kolom tulisan ini.


    Budaya Kasta


    Bila Anda mempelajari dengan budaya kasta atau istana di Indonesia, sebetulnya itu berakar dari konteks kerajaan Hindu-Buddha. Sistem kasta seperti ini terus bertahan sampai kepada konteks masyarakat hari ini. Dulu adanya hubungan antara Brahma (agamawan), Ksatria (tentara), dan Sudra (Petani).

    Masuknya agama Islam, terjadi modifikasi dalam struktur kasta tersebut menjadi priyayi (bangsawan), santri (agamawan-tentara), abangan (petani, agama nominal). Lalu masuk ke era kolonial dan itu menjadi sistem ekonomi berbasis ras yang dibangun oleh pemerintahan VOC dan Belanda: Eropa kulit putih (pemerintah-bangsawan), Timur Asing kulit kuning (pedagang), "Pribumi" kulit gelap (petani).

    Terakhir, masuk kepada era modern, muncul berbagai sekte ideologis yang merupakan evolusi dari sistem kasta ini: nasionalis (bangsawan dan tentara), agama (kelompok Islam Santri), abangan (kelompok Islam nominal, kaum petani, dan terhitung juga kelompok komunis).

    Perhatikan baik-baik bagaimana di dalam proses perubahan sosial selama berabad-abad tersebut, terbentuk sebuah sistem kelas dan ketegangan di antaranya. Konflik antara kelompok militer-nasionalis dan petani-komunis bukanlah lain daripada sebuah konflik antara para Ksatria dan para Sudra. Itu terjadi pada tahun 1960an.

    Sehingga, pada hari ini, jika Anda mendengar tentang kelompok nasionalis atau agama yang kemudian menyuarakan kembali "masalah PKI", itu tidaklah lain daripada upaya bagi kelompok ini untuk mengumpulkan massa, agar barisan massa datang kepada mereka: entah itu bagi kelompok Brahman (Santri Islam) atau kepada kelompok yang lain.

     

    Asal-usul Konflik Menuju G30S

    Saya menduga bahwa permasalahan antara kelas kasta, kelompok golongan yang dikenal juga sebagai politik aliran, dan kelompok ideologis pada saat itu sudah cukup memanas.

    Amerika sudah memantau Indonesia sejak tahun 1950an untuk mengincar sumber daya alam sekaligus pada saat itu adanya suatu kekhawatiran besar bahwa Indonesia akan menjadi komunis. Jika Indonesia menjadi komunis, maka wilayah-wilayah lain di sekitar Asia Tenggara akan menjadi komunis.

    Berikut saya paparkan kronologi singkat, yang menurut saya adalah hal yang memuncak pada tahun 1965:

    1. Pada tahun 1923, komunisme di Indonesia adalah partai pertama yang melakukan revolusi untuk melawan pemerintahan kolonial Belanda sebagai kekuatan anti-kapitalisme, namun mereka gagal. Komunisme zaman ini dicetuskan oleh Musso, dan memang mereka sudah muncul duluan sebelum munculnya konsep "KeIndonesiaan" dari Sumpah Pemuda - itulah sebabnya komunisme cenderung "pede" untuk melakukan revolusi selanjutnya.
    2. Tahun 1928, muncullah Sumpah Pemuda. Tahun 1945, muncul ideologi Pancasila. Membutuhkan waktu sekitar 17 tahun untuk menyatukan seluruh kepulauan Nusantara, dan membangun "konsep keindonesiaan".
    3. Terjadinya Perang Dingin antara Liberalisme Amerika vs Komunisme Soviet sejak Perang Dunia Kedua tahun 1945.
    4. Indonesia mengambil posisi Non-Blok untuk bersikap netral; Indonesia juga memadamkan pemberontakan PKI di Madiun pada tahun 1948. Pada saat ini, Sukarno tidak suka dengan PKI yang dibangun oleh D.N Aidit, dan Amerika merasa dekat dengan Sukarno.
    5. D.N Aidit pada tahun 1950 menyadari bahwa mereka tidak mungkin bisa menang dengan menggunakan kekuatan militer maupun dengan langkah revolusi demi tercapainya Indonesia negara komunis. Dalam waktu 10 tahunan (1950–1965), Aidit berhasil mengumpulkan asosiasi dan anggota komunis sebesar 10 juta pengikut, dari 100.000 sejak peristiwa Madiun sampai 10 jutaan, partai komunis ketiga terbesar di dunia. Akan tetapi, PKI tidak memegang posisi pemerintahan yang strategis, mereka bersifat massal (ingat bahwa kaum petani-sudra-abangan cenderung berhenti di kasta bawah saja)
    6. Pemerintahan Indonesia yang diisi oleh kelompok agama, nasionalis, dll cenderung bersifat korup. Sukarno dan Hatta hanya menjadi "simbol persatuan" (seperti Ratu Inggris), tetapi kaki-tangan administratif hanya mementingkan kebutuhan golongan identitas sendiri. Ini membuat frustasi kepada presiden dan wakil presiden.
    7. Penting: Pada tahun 1956, terjadi konflik antara Sukarno dan Hatta. Melihat bahwa partai-partai politik di Indonesia cenderung egois, maka ada dua solusi: Hatta ingin agar partai-partai ini dididik dengan sistem demokrasi yang baik namun membutuhkan waktu yang lama agar proses demokratisasi berjalan dengan lancar. Sukarno ingin agar semua partai dikuasai oleh seorang pemimpin tunggal. Akhirnya, Sukarno yang menang.
    8. Konflik Perang Dingin semakin menguat, Australia dan Malaysia, dipandang oleh Sukarno sebagai "Antek Asing". Dipenuhi dengan ketakutan, Sukarno melihat bahwa Amerika sudah mulai bergerak untuk menguasai sumber daya alam dan mematai Indonesia dari berbagai negara di sekitar Indonesia. Dan dia menyerukan semangat "Anti-Barat" sebagai kekuatan nasionalisme untuk menyatukan ketiga kasta dan kelompok ideologi menjadi satu: nasionalis (ksatria), agama (brahma), komunis (sudra).
    9. Sambil terjadinya inflasi ekonomi yang mencapai 600%, konflik antara kelompok nasionalis dan komunis semakin tegang. Nasionalis memandang komunis sebagai kelompok Marxist yang menginginkan "Revolusi Rusia", dan memang mereka sangat agresif dan melakukan "Land Reform" padahal adalah mengambil tanah milik para petinggi negara dan ulama, dan cenderung bersikap anti-agama. Komunis memandang nasionalis sebagai kelompok kapitalis-Amerika yang ingin menjajah Indonesia dengan kekuatan uang dan senjata. Walaupun konflik antarkelompok politik ini menjadi begitu memanas, saya memandang adalah kesalahan Sukarno yang memanfaatkan konflik ini untuk kepentingan pribadinya agar tetap "populer dan karismatik", menguasai angkatan bersenjata dan massa masyarakat sebagai pemimpin negara.
    10. Sebelum malam 30 September 1965, beberapa petinggi komunis mulai curiga bahwa cepat atau lambat, mereka akan digeser dan digantikan oleh seorang pemimpin nasionalis dan cenderung anti-komunis, yaitu Ahmad Yani. Sukarno sudah tua dan tidak selamanya bisa melindungi PKI. Jika mereka menunggu, mereka akan kalah. Sehingga, mereka mengambil langkah pertama yaitu untuk menyerang dulu. Tujuannya, menurut John Roosa, adalah untuk menangkap para jenderal dan membawanya kepada Sukarno dan menjelaskan bahwa mereka ini akan "menghabisi PKI", lalu Sukarno akan bersimpati kepada PKI dan memilih pemimpin di antara kelompok "Sudra" ini. Militer juga mengetahui hal ini, mereka menunggu sampai gerakan komunis mengambil suatu hal yang salah, dan menjadikan itu dalil untuk "menghabisi" lawan politiknya. Amerika mendukung militer-nasionalis-ksatria, Soviet dan RRC mendukung petani-komunis-sudra.
    11. Pada malam 30 September 1965, betul bahwa para petinggi komunis ini melakukan penculikan. Aidit, Supardjo, dan beberapa tokoh lainnya terlibat. Namun, tim penculikan ini gagal, mereka tidak mampu menangkap para jenderal dengan baik (ya tentu, mereka hanyalah petani), dan akhirnya membunuh mereka. Kelompok militer-nasionalis kemudian mengambil hal itu sebagai dalil bahwa kesalahan beberapa petinggi komunis dan pelaku penculikan adalah kesalahan seluruh pengikut partai komunis. Dengan menggunakan radio, kelompok militer kemudian memakai radio untuk menyebarkan informasi bahwa terjadi pengkhianatan komunis yang ingin melukai presiden (ya padahal PKI ga mungkin menyerang Sukarno, itu andalannya).
    12. Akhirnya, "monster" baru diciptakan, yaitu PKI. Kesalahan beberapa manusia dijadikan sebuah dalil bahwa ratusan ribu dan jutaan manusia yang diduga dan disebut "PKI" jugalah monster. Kelompok agama (brahma) merasa bahwa dengan membunuh PKI adalah sebuah perang suci dan ibadah. Kelompok nasionalis (ksatria) merasa bahwa dengan membunuh PKI adalah sebuah pengabdian kepada negara dan bentuk patrioritsme. Di saat yang sama, masyarakat Indonesia dipenuhi rasa takut terhadap monster PKI, dan akhirnya mengakui bahwa mereka butuh "juruselamat yang baru", yakni pemerintahan Orde Baru.
    13. Sukarno ditahan, pendukung Sukarno akhirnya ditumpas. Banyak sekali jiwa yang hilang dalam proses politik yang terjadi di Indonesia pada tahun 1965.
    14. Seandainya komunis yang menang, mungkin genosida yang diimplementasikan melalui sistem pemerintahan dan militer tidak terjadi, tetapi revolusi "merah" di Indonesia yang berdarah juga akan menelan banyak nyawa. Dan Indonesia akan terpecah juga, Jawa dan Bali yang kental dengan sistem kasta Hindu dan pertanian akan condong menjadi komunistik, Sumatra kental dengan agama-Islam, Indonesia Timur juga berpecah dan tidak terlalu terikat dengan komunisme. Jadi, baik komunis maupun nasionalis ada salahnya di sini, dua-duanya menggunakan kekerasan.

     

    Siapa Dalangnya?

    Saya kira, dalam masalah pembunuhan PKI dan terbentuknya Orde Baru, itu tidak ada dalangnya. Berbeda dengan pembunuhan massal di Jerman pada tahun 1940an, di mana dalangnya jelas-jelas adalah Hitler, Eichmann dan Himmler yang menewaskan 11 juta manusia. Permasalahan G30S tidak ada dalang yang jelas, tetapi banyak sekali yang terlibat (itulah sebabnya kasus ini tetap menjadi misteri dan "lubang hitam" sejarah).

    1. Secara internasional, pastinya Amerika, Inggris, Cina, Rusia, Belgia, Australia juga terlibat. Khususnya Amerika, bila Anda membaca declassified documents, yang baru dibuka pada tahun 2015.
    2. Secara nasional, konflik antara kelompok identitas sudah terjadi bahkan sebelum masa kemerdekaan. Komunisme sudah hadir dan mencoba untuk merealisasikan negara ideal yang juga berebutan posisi dengan kelompok agama (brahma) dan nasionalis (ksatria).
    3. Saya duga kritik terhadap Sukarno adalah dia menjadi narsistik dan megalomania, yang memanfaatkan dua kekuatan yang saling bertegangan (nasionalis dan komunis) untuk kepentingannya sendiri. Ibaratnya, orang tua mengajarkan anak untuk saling bertarung lalu yang menang akan menjadi "trophy-boy". Hal ini terjadi ketika Sukarno "cerai" dari Hatta yang sebetulnya bisa mengajarkan dia bagaimana mendisiplinkan "anak-anaknya" dengan sistem demokratisasi partai yang lebih baik.
    4. Mengkritik komunis, saya memandang bahwa memang dari awal mereka kelompok yang paling agresif. Pemberontakan pertama pada tahun 1923 melawan Belanda, tahun 1948 melawan republik di Madiun, tahun 1965 melawan militer di G30S. Revolusi, yang pastinya mencucurkan darah, ternyata selalu lekat dengan bentuk agresivitas.
    5. Mengkritik militer dan agama (Anda bisa ngecek sendiri siapa yang terlibat pada saat itu), saya memandang bahwa jika kita semua percaya bahwa nyawa manusia itu berharga dan memiliki nilai moral, maka kesalahan beberapa orang yang menjadi "penyuruh kudeta" adalah yang perlu dihukum, tidak perlu sampai melakukannya kepada ratusan ribu dan jutaan orang hanya untuk menghabisi lawan politik. Terlebih lagi, jika sampai hari ini, mereka belum mau mengakui kesalahan yang ada dan belum mau meluruskan sejarah.
    6. Terakhir, dalang itu semua bisa juga kita. Mungkin Anda merasa bahwa itu adalah salahnya PKI, atau salahnya Orde Baru, whatever. Tetapi kenyataannya adalah jika kita hidup di masa itu, bisa saja kita menjadi pelaku kejahatan yang sama. Orang yang merasa paling suci atau merasa tidak perlu melakukan tanggung jawab adalah mereka yang pertama kali mengangkat senjata untuk mengambil nyawa manusia.

     

    Mengenai Kekerasan

    “Eichmann was declared sane by six psychiatrists, he had a normal family life and observers at his trial described him as very average. Given that there appears to be nothing particularly unusual about Eichmann, we must face the uncomfortable possibility that his behavior was the product of the social situation in which he found himself, and that under the right circumstances we may all be capable of monstrous acts.” (Obedience to Authority)

    Sehingga, jika Anda adalah bagian dari kelompok nasionalis, bisa saja Anda membunuh seorang anggota PKI dengan dalil "aku sedang latihan menjadi pengabdi negara dan patriot". Atau, jika Anda adalah bagian dari kelompok agama, Anda merasa bahwa, "itu adalah ibadah kepada Tuhan dengan membunuh dan mengalirkan darah PKI".

    Dengan memproyeksikan seorang "musuh dan monster", dan Anda sebagai "juruselamat", sangat mudah sekali kita melakukan kekerasan. Seandainya kita bukan kelompok agama maupun nasionalis pun, kita juga bisa melakukan kekerasan kepada orang lain. Silakan nonton video di atas.

     

    Mengapa PKI Dituduh Bangkit Kembali

    Singkat ceritanya adalah setelah PKI ditumpas oleh Orde Baru, Orde Baru perlu "mencari musuh bersama" yang baru, yaitu kelompok Islam. Janganlah heran mengapa banyak kelompok agama (brahma) hari ini yang begitu kecewa dengan Pancasila dan negara sebab mereka dulunya di-bully oleh Orde Baru. Sekarang, Orde Reformasi dipersepsi sebagai Perpanjangan Orde Baru, atau Neo-Orba, yang bagi mereka harus dibalasdendamkan dengan konsep kenegaraan yang berbeda (salah satunya khilafah).

    Untuk melakukan hal itu, mereka butuh mendapatkan jumlah massa yang besar. Dan ketakutan adalah suatu alat yang murah, cepat, dan berkuasa untuk menarik banyak orang kepada kelompok mereka, sehingga mereka menuduh bahwa pemerintah hari ini PKI (ini biasanya dilakukan oleh oknum keagamaan yang hadir pada masa ultranasionalisme Orde Baru):

    1. PKI adalah monster dan musuh "Islam" (saya pakai tanda petik untuk menunjukkan bahwa ada kelompok tertentu yang klaim seperti itu)
    2. Jika pemerintah adalah "PKI"
    3. Maka pemerintah adalah monster dan musuh "Islam"
    4. Monster harus dihancurkan
    5. Maka kelompok "agamaku" adalah juruselamat dan pemerintah adalah monster yang harus dihancurkan

    Pola ini tidaklah berbeda dengan suatu semangat revolusi. Apa yang diinginkan oleh kelompok "kerakyatan" dan "agama" untuk melawan kelompok "nasionalis" adalah sebuah mengulangan sejarah kembali. Sebagaimana komunis dulunya mau melakukan revolusi untuk menumpas "jenderal-jenderal kapitalis" yang bagi mereka adalah monster, maka sekarang kelompok keagamaan juga mau melakukan revolusi untuk menumpas "pki-kafir-kapitalis-dll" yang bagi mereka juga adalah "si dajal".

    Penggunaan hoax, kekerasan, dan ketakutan adalah sebuah pola lama yang digunakan dalam proses perpolitikan Indonesia. Dan jangan salah, bukan mereka yang monster yang melakukan kekerasan, manusia biasa yang merasa dirinya paling benar dan suci - adalah mereka yang melakukan kekerasan besar.

    Dan saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada Rufus Panjaitan atas diskusinya yang sangat membantu saya untuk memahami masalah G30S.

    Semoga bermanfaat.

    Tautan Lain:

    1. Jawaban Kevin Nobel untuk Dari banyaknya versi sejarah G30S/PKI, versi mana yang paling mendekati kebenaran?
    2. Jawaban Rufus Panjaitan untuk Apa yang sebenarnya terjadi di balik peristiwa G30S/PKI? Apakah benar seperti yang digambarkan oleh Orde Baru, atau ada kisah yang lebih dalam dari itu?
    3. Jawaban Kevin Nobel untuk Apa fakta ilmiah yang paling sulit kamu terima?
    4. Kebetulan saya baru berdiskusi dengan Ibu Dr. Soe Tjen Marching dari University of London, yang diselenggarakan oleh platform pendidikan di Twitter, Logos. Ayahnya merupakan salah satu korban G30S, dan beliau menulis buku "Dari Dalam Kubur" untuk menceritakan salah satu pengalaman dari korban.

     

     

     

    Sumber : https://id.quora.com/Bagaimana-pendapat-kalian-mengenai-peristiwa-G30S-PKI-Apa-pendapat-kalian-sebagai-generasi-muda-dalam-rangka-menangkal-isu-isu-tentang-PKI-dewasa-ini/answer/Kevin-Nobel

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.