Ahli-Ahli Ini Mengklarifikasi Berbagai Hoaks Covid-19, Simak Uraiannya - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Hoaks terkait COVID-19 harus dihadapi bersama di tengah pandemi ini

CISDI ID

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 8 September 2020

Selasa, 6 Oktober 2020 05:43 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Ahli-Ahli Ini Mengklarifikasi Berbagai Hoaks Covid-19, Simak Uraiannya

    Hoaks dan teori konspirasi Covid-19 kerap beredar di masyarakat selama pandemi berlangsung. Per 8 Agustus 2020, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mencatat 1.028 hoaks terkait COVID-19 tersebar melalui berbagai media. Padahal, penanganan pandemi tidak terlepas dari penanganan informasi bohong tersebut.

    Dibaca : 728 kali

    Hoaks dan teori konspirasi COVID-19 kerap beredar di tengah masyarakat, padahal ia perlu diantisipasi untuk mencegah penyebaran virus ini. (Sumber gambar: Antara)

    Hoaks dan teori konspirasi Covid-19 kerap beredar di masyarakat selama pandemi berlangsung. Per 8 Agustus 2020, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mencatat 1.028 hoaks terkait Covid-19 tersebar melalui berbagai media. Padahal, penanganan pandemi tidak terlepas dari penanganan informasi bohong tersebut.

    Dalam Obrolan Kawal Edisi 6 yang disiarkan pada Sabtu, 29/9 di Kanal YouTube CISDI TV, Prof. Akmal Taher, mantan Kepala Bidang Penanganan Kesehatan Satuan Tugas Penanganan COVID-19, menyatakan keheranannya terhadap teori konspirasi yang terus beredar.

    Ia kemudian mengklarifikasi misinformasi mengenai definisi kematian Covid-19. Menurutnya, orang dengan komorbid yang terinfeksi Covid-19 kemudian meninggal tetap harus dimasukkan sebagai kematian akibat Covid-19. Mengecilkan angka kematian adalah langkah berbahaya yang akan menurunkan urgensi pandemi ini.

    Kebingungan Masyarakat

    Selain berita hoaks, masyarakat juga bingung karena informasi dari otoritas kerap berubah. Diah Saminarsih, Penasihat Senior Gender dan Pemuda WHO, mengakui informasi COVID-19 kerap berubah. Ini dikarenakan COVID-19 merupakan penyakit baru sehingga selalu ada update informasi. “Perubahan terjadi bukan karena adanya inkonsistensi, tetapi karena adanya bukti baru,” ujar Prof. Akmal.

    Contohnya, pada bulan Januari-Februari WHO mengatakan hanya orang sakit dan tenaga medis yang perlu mengenakan masker, namun mereka merevisi pernyataan tersebut beberapa bulan kemudian menjadi semua orang wajib menggunakan masker. Bahkan, WHO memperjelas tipe masker yang harus dipakai pada berbagai kondisi. Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan bila ada perkembangan terbaru.

    Resiko Terpapar COVID-19

    Diah juga meluruskan hoaks tentang orang tanpa gejala (OTG) dan anak-anak tidak menularkan Covid-19. “OTG itu tetap menular karena yang namanya asimtomatik itu tidak pernah betul-betul tanpa symptom. Lalu, pertanyaan apakah anak-anak menularkan atau tidak? Jawabannya, iya. Menularkan.”

    Penularan Covid-19 juga bisa terjadi dari pasien sudah meninggal. Jenazah tetap membawa virus, sehingga penerapan protokol kesehatan dalam penyucian dan penguburan jenazah itu penting. Dr. Heri Munajib dari Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama (NU) menyayangkan tindakan keluarga yang menjemput paksa jenazah probable Covid-19 karena dikhawatirkan akan menginfeksi anggota keluarga tersebut.

    Keempat narasumber juga menyepakati orang yang pernah terkena Covid-19 tetap harus berhati-hati untuk mencegah reinfeksi. Belum ada data yang pasti berapa lama orang akan kebal dari Covid-19 setelah dinyatakan sembuh, namun kasus reinfeksi ditemukan di beberapa negara. Artinya, tidak ada orang yang betul-betul aman dari virus ini. 

    Rumah Sakit ‘Meng-COVID-kan’ Pasien?

    “Ini adalah fitnah sekaligus hoaks yang sangat-sangat menyebalkan bagi tenaga kesehatan,” ungkap dr. Heri. Menurutnya, sistem kerja di Unit Gawat Darurat (UGD) memungkinkan semua pasien untuk mengetahui kemungkinan mereka membawa virus rendah, sedang, atau tinggi. Pasien dengan nilai sedang dan tinggi akan diminta melakukan tes swab. Rumah sakit tidak bisa seenaknya ‘meng-Covid-kan’ pasien yang datang.

    Penyintas Covid-19 ini juga menerangkan kenapa bisa ada orang yang mendapat hasil false negative (hasil negatif padahal sedang terinfeksi) pada tes rapid. Ketika hasil tes swab berbeda, bukan berarti rumah sakit ‘meng-COVID-kan’ pasien, namun karena golden standard untuk diagnosa Covid-19 adalah tes swab PCR, tekan dr. Heri.

    Menjawab pertanyaan kenapa hasil tes swab memakan waktu lama, dr. Heri bercerita di Surabaya pernah sampai ada 60.000 antrian sampel. Menurutnya, jumlah alat untuk mengetes PCR masih sangat terbatas dibandingkan jumlah sampel yang harus diperiksa, belum lagi permasalahan lain seperti tenaga kesehatan di lab yang terinfeksi virus Covid-19 serta persediaan reagen untuk melakukan tes PCR.

    Perkembangan Vaksin Covid-19 

    Chief Executive Lipotek Ines Atmosukarto, menyatakan kekagumannya karena hanya dalam 9 bulan sejak virus ini ditemukan, per 25 September ada 10 vaksin yang memasuki uji klinis fase 3. “It’s amazing. Kayaknya belum pernah dalam sejarah pengembangan vaksin ada yang begitu cepat.”

    Meski demikian, peneliti vaksin ini juga bernyatakan masyarakat harus tetap bersabar hingga vaksin-vaksin tersebut lolos uji klinis fase 3. “Ada tanggung jawab besar karena vaksin apapun yang akan melewati uji klinis dan mendapat izin beredar, itu akan diberikan massal. Tidak mungkin dan tidak boleh kita melewati tahap-tahap pengujian.” Ines tidak yakin bahwa akhir tahun 2020 sudah akan ada vaksin yang siap beredar.

    Bersebrangan dengan Ines, Prof. Akmal memiliki pandangan yang lebih positif walaupun tidak menjanjikan apa-apa. Menurutnya, apabila semua berjalan lancar, mungkin saja vaksin tersedia akhir tahun 2020. Pemerintah Indonesia sudah mulai mengurus proses di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dari sekarang, sehingga ketika hasil keluar vaksin bisa segera diproduksi massal. “Justru yang (tahap) critical sekarang, karena ‘kan mulai tahap evaluasinya sekarang.”

    Produksi awal vaksin diperkirakan sekitar 20-30 juta, apabila setiap orang butuh dua dosis, jumlah orang yang mendapatkan vaksin di awal hanya setengah dari jumlah tersebut. Dilansir dari Koran Tempo (1/10), pemerintah menetapkan enam kelompok prioritas yang akan mendapatkan vaksin. Prof. Akmal menghimbau agar masyarakat tidak memiliki ekspektasi tinggi akan segera mendapatkan vaksin.

    Empat Hoaks

    Sebagai penutup diskusi, dr. Heri mengklarifikasi empat hoaks. Pertama, menggunakan bagian putih masker di luar saat tidak sakit dan menggunakan bagian biru masker di luar saat sakit. Salah, yang benar adalah selalu menggunakan bagian biru di luar. Kedua, masker kain hanya bisa dipakai empat kali. Salah, yang benar adalah masker bedah maksimal digunakan 4 jam.

    Ketiga, pakai masker membuat sesak nafas karena menghirup karbon dioksida. Salah, karena manusia bisa beradaptasi dan ketika menggunakan masker akan tetap menghirup oksigen. Keempat, menembakkan termometer infrared ke kening membuat kerusakan otak. Salah, justru termometer infrared di-setting untuk mengecek suhu melalui kening. Menembakkan termometer infrared ke lengan malah tidak efektif.

     

    Tentang CISDI

    Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) adalah organisasi masyarakat sipil yang mendukung terwujudnya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) melalui pembangunan kesehatan dan pelibatan kaum muda dalam pembangunan kesehatan. CISDI melakukan kajian isu prioritas berdasarkan pengalaman mengelola program penguatan pelayanan kesehatan primer di daerah sub-urban dan DTPK, riset dan analisa kebijakan kesehatan, kampanye perubahan sosial, serta keterlibatan dalam diplomasi kesehatan di tingkat nasional dan global. Program penguatan pelayanan kesehatan primer yang CISDI ampu, Pencerah Nusantara, diadopsi oleh Kementerian Kesehatan sebagai program nasional Nusantara Sehat, pada tahun 2015 yang diharapkan mampu memperkuat pelayanan kesehatan primer di lebih dari 5.000 daerah DTPK. CISDI juga aktif mengadvokasi kebijakan dalam isu-isu prioritas lainnya seperti pengendalian tembakau, peningkatan status gizi masyarakat, dan pelibatan kaum muda dalam pembangunan kesehatan.

     

    Penulis

    Ardiani Hanifa Audwina

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.