Pak Redjeki, "Yang Mulia" Penghadang Covid-19 di Kelurahan Kebon Bawang - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

Kepemimpinan di tingkat RW menjadi kunci melawan pandemi COVID-19

Pencerah Nusantara

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Agustus 2020

Rabu, 7 Oktober 2020 07:13 WIB

  • Peristiwa
  • Berita Utama
  • Pak Redjeki, "Yang Mulia" Penghadang Covid-19 di Kelurahan Kebon Bawang

    Bapak M Redjeki, kerap disapa dengan anekdot ‘Yang Mulia’ adalah sosok yang hangat dan humoris. Ia tidak hanya bertugas sebagai Ketua Rw 02 Kelurahan Kebon Bawang, tetapi juga Anggota Satgas Covid-19 Tingkat RW. Dalam pertempuran melawan Covid-19, ia sudah berkontribusi banyak melalui edukasi keliling RW setiap harinya.

    Dibaca : 460 kali

    Kepemimpinan di tingkat RW juga merupakan bentuk upaya mencegah penyebaran pandemi di tengah masyarakat. (Sumber gambar: Dok. Pencerah Nusantara)

     

    “Kalau seseorang terkena Covid-19 lalu diasingkan, bagaimana kalau Anda yang kena? Apa Anda mau diperlakukan begitu?” tantang Bapak M. Redjeki, Ketua RW 02 Kelurahan Kebon Bawang yang juga Anggota Satgas Covid-19 Tingkat RW. 

    Bapak M Redjeki, kerap disapa dengan anekdot ‘Yang Mulia’ adalah sosok yang hangat dan humoris. Dalam pertempuran melawan Covid-19, ia  sudah berkontribusi banyak melalui edukasi keliling RW setiap harinya. “Setiap saya bertemu orang yang tidak memakai masker, saya akan mengingatkan dengan sopan. Kalau remaja, ya, omongannya saya sesuaikan, kalau anak-anak pun begitu.” Ia juga kerap melibatkan Kader Dasa Wisma, PKK, dan Jumantik dalam setiap usaha edukasi. 

    Edukasi juga dilakukan melalui masjid. Masjid Baiturrahman yang terletak di RT.04 RW.02 Kelurahan Kebon bawang terkenal karena kepatuhannya terhadap protokol kesehatan. Bapak M. Redjeki, oleh sebab itu, gemar menjadikan masjid ini sebagai tempat edukasi bersama warga sekitar. 

    Lingkungan RW 02 Kelurahan Kebon Bawang sangat padat dengan penduduk. Melihat masyarakat berkerumun di sore hari sangatlah biasa. Respon mereka ketika ditegur sangat beragam, mulai dari acuh sampai patuh. Karakteristik masyarakatn juga beragam ketika mendapat informasi tentang Covid-19. Sebagian dari mereka paham urgensi memakai masker, namun terlampau jenuh karena banyaknya pemberitaan Covid-19 yang tidak kunjung selesai. 

    Selain melalui edukasi, ‘Yang Mulia’ juga kerap mengecek data kasus positif Covid-19 di RW-nya. Ini penting untuk mengetahui apakah warga terinfeksi merupakan penduduk yang menetap atau singgah saja di wilayah RW-nya. Permasalahan data kerap terjadi di lapangan, contohnya seorang warga positif Covid-19 yang dianggap beralamat di Kelurahan Kebon Bawang, namun ketika dilakukan pengecekan ternyata sudah setahun lalu warga tersebut berpindah alamat. 

    Cara berargumen Pak Redjeki juga patut diacungi jempol. Ketika ada warganya yang bebal dan berkata, "Pak RW udahlah! Mau pakai masker atau nggak  hidup dan mati di tangan Allah”. Ia lantas menjawab, “Hidup dan mati memang di tangan Allah, tetapi mengapa kamu kalau menyebrang lihat kanan kiri? ‘Kan katanya hidup di tangan Allah?” Seketika pemuda usia 17 tahun itu diam membeku dan terpaksa memakai maskernya kembali. 

    Pak RW juga memberikan warga obat dari uang di kantongnya sendiri. Atas dasar kemanusiaan, ia ingin warga sehat selalu. Ia bercerita pernah memberi tiga botol vitamin merk LIPI. Harga vitamin itu memang tidak seberapa, namun hal itu menampilkan kepekaan seorang pemimpin. Meski terkenal ramah, Pak Redjeki kerap vokal bicara dalam rapat koordinasi dengan Kelurahan. Ia memberi tips dan trik untuk melawan argumen warga  yang bebal dan sulit diberitahu perihal penanganan COVID-19.

    Pemimpin, bagi kami bukan hanya terwujud dalam gelar dan jabatan, namun juga kedekatan kultural dengan warga. Pemimpin yang dekat dan menghormati warga, juga akan dihormati oleh warga. “Demi Allah saya bersumpah masker adalah bagian dari diri saya.” Pak Rejeki adalah definisi pemimpin yang menjalankan omongan. Ia paham bahwa nyawa manusia tidak bisa ditukar uang. Ia sempat berkata “,bagaiman ekonomi bangkit, kalau kita tidak sehat?” Menurutnya, tidak ada tawar menawar mengenai nyawa manusia. Angka kematian bukan statistik semata, namun juga memiliki sejarah di belakagnya. Satu nyawa yang hilang bisa jadi hilangnya tulang punggung satu keluarga.

              

    Tentang Pencerah Nusantara COVID-19

    Pencerah Nusantara adalah inovasi untuk mengurangi kesenjangan pelayanan publik di bidang kesehatan untuk mewujudkan Indonesia sehat dan sejahtera. Pencerah Nusantara adalah gerakan penguatan pelayanan kesehatan primer (puskesmas) yang terdiri dari tim pemuda multi-profesi kesehatan yang ditempatkan di puskesmas dengan masalah kesehatan untuk bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan. Pencerah Nusantara COVID-19 hadir membantu puskesmas di wilayah Jakarta dan Bandung dan menguatkan puskesmas menghadapi pandemi COVID-19 selama periode enam bulan penempatan. Sejak tahun 2015, model intervensi puskesmas berbasis Tim Pencerah Nusantara diadopsi Kementerian Kesehatan sebagai Nusantara Sehat.  

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.