Mengenal Sistem Koloid Slime, Permainan yang Pernah Populer pada Masanya - Analisa - www.indonesiana.id
x

(Doc. ThoughCo.com)

Rizky Agassy Sihombing

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Juni 2020

Senin, 12 Oktober 2020 15:59 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Mengenal Sistem Koloid Slime, Permainan yang Pernah Populer pada Masanya

    Oleh : Rizky Agassy Sihombing Penulis adalah Mahasiswa Bilingual Pendidikan IPA Universitas Negeri Medan (UNIMED)

    Dibaca : 621 kali

    Mengenal Sistem Koloid Secara Umum

    Secara umum koloid merupakan suatu campuran antara dua atau lebih zat dimana partikel-partikel zat berukuran koloid tersebar secara merata di dalam zat lainnya. Koloid juga merupakan suatu sistem dispersi yang ukuran partikelnya lebih besar dari larutan, tetapi lebih kecil dari suspensi (campuran kasar).

    Koloid terdiri dari dua bentuk, yaitu fase terdispersi (zat yang didispersikan) dan medium pendispersi (medium yang digunakan untuk mendispersikan). Untuk ukurannya sendiri sangat kecil berkisar 1-100nm.

    Di kehidupan sehari-hari kita dapat menemukan adanya bahkan banyaknya koloid di dalam hidup kita, diantaranya dalam larutan sendiri, yakni larutan gula, larutan garam, larutan spiritus dan alkohol berkisar 70%. Sementara itu, untuk contoh koloidnya terdiri dari susu, santan, sabun, selai, mentega, mayonnaise, bahkan slime.

    Sistem koloid memiliki jenis-jenis yang berebeda mulai dari sifatnya, maupun dari berbagai contoh jenis yang ada, sistem koloid terbagi atas 8 jenis sistem yang berbeda-beda.

    Jenis-Jenis Sistem Koloid:

    1. Sistem koloid yang pertama adalah Sol, sol sendiri merupakan salah satu sistem koloid yang terbentuk dari fasa terdispersi berupa padatan dan fasa pendispersinya berupa cairan. Contoh yang dapat ditemukan dalam kedihupan sehari-hari adalah sol emas, tinta atau cat.
    2. Selanjutnya sistem koloid yang kedua adalah Sol padat, sol padat merupakan sebuah sistem koloid yang terbentuk dari fasa terdispersi berupa padatan dan fasa pendispersinya padatan. Contoh sistem koloid sol padat yang dapat kita lihat dalam kehidupan kita adalah gelas berwarna, dan intan hitam.
    3. Sistem koloid yang ketiga adalah Emulsi, nah emulsi ini dapat diartikan sebagai sistem koloid yang terbentuk dari fasa terdispersi berupa cairan dan fasa pendispersinya berupa padatan. Contoh yang dapat dilihat dalam kehidupan kita adalah susu, santan, minyak ikan.
    4. Sistem koloid yang keempat adalah Emulsi padat, emulsi padat dapat diartikan sebagai sistem koloid yang terbentuk dari fasa terdisfersi berupa cairan dan fasa pendispersinya berupa padatan. Contohnya: jelly, mutiara, keju, bahkan slime.
    5. Sistem koloid kelima adalah Aerosol padat. Sistem koloid ini terbentuk dari fasa terdispersi berupa padatan dan fasa pendispersinya berupa gas. Contohnya: asap dan debu.
    6. Sistem koloid keenam adalah Aerosol cair. Sistem koloid ini terbentuk dari fasa terdispersi berupa cairan dan fasa pendispersinya berupa gas. Contohnya: kabut, awan, dan hair spray.
    7. Sistem koloid ketujuh adalah Buih. Sistem koloid ini terbentuk dari fasa terdispersi berupa gas dan fasa pendispersinya berupa cairan. Contohnya: buih sabun, dan krim kocok.
    8. Dan sistem koloid yang terakhir adalah Buih padat. Sistem koloid ini terbentuk dari fasa terdispersi berupa gas dan fasa pendispersinya berupa padatan. Contohnya: karet busa dan batu apung.

    Salah satu contoh dari penerapan sistem koloid dalam kehidupan sehari-hari adalah slime. Siapa sih diantara kita yang tidak mengenal adanya fenomena slime ini? Jadi slime itu merupakan salah satu permainan unik yang tersusun atas polimer cross-linked. Bahan dari slime ini diklasifikasikan sebagai cairan dan biasanya dibuat dengan menggabungkan larutan polivinil alkohol dengan ion borat dalam wadah pencampur yang besar.

    Slime ini seringkali menimbulkan bau yang tidak sedap, berwarna hijau, digin dan licin saat disentuh. Dalam artian lain, slime juga merupakan jenis mainan yang bentuknya mirip dengan lumpur, lengket, dan terasa agak dingin bahkan bektekstur kenyal. Slime ini biasanya dimainkan oleh anak-anak kecil bahkan remaja, cara memainkannya juga cukup mudah, dengan cara dibentuk-bentuk seperti permaian plastisin dan dapat dibentuk menjadi bentuk yang unik.

    Sejarah Permainan Slime

    Pengembangan slime untuk mulai dimainkan dimulai pada awal abad ke-20, pada tahun 1920an, Hermann Staudinger meletakkan dasar pemahaman bagi kita mengenai tentang ilmu polimer. Hermann menyarankan kepada kita bahwa adanya model baru untuk polimer, satu molekul rantai panjang dan tidak argegat (butiran yang pecah) yang dipikirkan sebelumnya.

    Sementara itu, pada tahun 1928, model baru dari polimer yang telah dirancang dan dibuat ulang oleh Meyer dan Mark, para ilmuwan ini mempelajari tentang dimensi karet alam dengan teknik X-Ray. Pada tahun 1930, model yang telah rancang oleh Staudinger diterima dan pengembangannya yang ekstensif dimulai dengan sesuai dan baik.

    Banyak pabrik telah menjual bahan bermain polimer seperti slime selama bertahun-tahun. Mainan slime ini dikenal tidak hanya untukmenghibur anak-anak dan remaja, tapi mampu memberikan efek yang baik dalam hal ketangkasan dan kreativitas. Yang paling awal dari mainan slime ini adalah material yang moldable atau mainan yang mudah dibentuk seperti pemodelan tanah liat yang sebelumnya telah ada. Kebutuhan akan bahan bermain jauh lebih baik dan bervariasi membuat  perkembangan daripada slime di tahun 1950an.

    Glow-in-the-dark pada slime  kemudian mulai diperkenalkan. Selama tahun 1980an, berbagai mainan yang berjenis slime banyak dijual dipasaran. Produk-produk ini biasanya terbuat dari bahan polivinil alkohol, guar gum, atau bahkan susu yang telah difortifikasi.

    Pada tahun 2019, masyarakat Indonesia bahkan masyarakat di luar negeri, sedang marak-maraknya bermain permainan slime ini, slime viral semenjak tahun 2019, banyak dari mereka yang mencoba untuk membuat, kemudian membuat video tutorial, bahkan ada dari mereka yang mencoba untuk menjual model slime yang unik, yang sebelumnya telah dirancang dengan baik dan nyaman digunakan oleh masyarakat. Berbagai bentuk slime juga bermacam-macam, sesuai dengan keinginan para pembuat slime.

    Banyak dari kita juga yang belum tahu cara membuat permainan slime ini, padahal kalau diperhatikan sebenarnya pembuatan slime ini sangat mudah, dan tidak membutuhkan budget yang begitu banyak, nah berikut ini dipaparkan bagaimana cara membuat permainan slime yang sederhana, dan biasanya yang biasanya orang umum lakukan:

    Cara Membuat Permainan Slime Sederhana

    Dilihat dari berbagai artikel bahkan bacaan yang ada, berikut ini merupakan cara pembuatan permainan slime yang sederhana:

    Sebelum membuat slime, ada baiknya jika kita mengenal bahan-bahan yang akan digunakan dalam membuat slime ini.

    1. Bahan dasar dalam pembuatan slime adalah lem, boleh menggunakan lem kertas, PVAC, dan sebagainya. Disini kita juga bisa menggunakan bedak, tepung maizena, sabun cair, dan detergen. Namun biasanya masyarakat pada umumnya menggunakan lem sebagai alat dasar pembuatan slime ini
    2. Bahan yang selanjutnya adalah air bersih, pewarna makanan (sesuai keinginan kita), dan minyak baby.
    3. Bahan yang tidak boleh dilupakan adalah bahan yang membuat tekstur kenyalnya, yaitu slime activator. Yang bisa didapatkan di toko slime. Disini jika susah ditemukan, kita bisa bahannya diganti dengan Gom, obat sariawan yang memiliki kandungan boraks di dalamnya, yang dapat ditemukan di apotek terdekat.

    Setelah bahan pembuatan slime ini dipersiapkan, kita masuk kepada langkah pembuatannya:

    1. Siapkan sebuah wadah yang dapat dijadikan sebagai tempat pencapuran bahan-bahan yang telah tersedia
    2. Masukkan air dan semua bahan dasar sambil diaduk-aduk secara merata
    3. Setelah itu, masukkan pewarna makanan kedalam campuran bahan dasar tadi
    4. Tambahkan slime activator dan aduk secara merata
    5. Tambahkan juga minyak baby agar tidak terlalu lengket.
    6. Setelah itu, permainan slime sudah dapat kita mainkan, mudah bukan cara pembuatannya.

    Selain dalam pembuatannya yang tergolong mudah, ternyata permainan slime ini memiliki dampak positif yang sangat baik buat perkembangan anak-anak bahkan remaja, selain memiliki dampak positif yang baik bagi kita, ternyata permainan slime ini dapat juga menjadi bumerang/sosok yang sangat tidak baik bagi diri kita, berikut merupakan dampak positif dan dampak negatif dalam permainan slime:

    Dampak Positif Permainan Slime

    Permainan slime ini mampu memberikan efek positif yang sangat baik untuk anak-anak dan juga terhadap remaja, berikut merupakan dampak positif permainan slime:

    1. Membuat Perasaan Kita Menjadi Lebih Bahagia

    Bermain slime mampu membantu tubuh kita untuk menghasilkan hormon endrofin, hormon endrofin sendiri dapat menimbulkan dan membuat hati kita menjadi jauh lebih bahagia. 

    1. Menenangkan Perasaan dan Menyalurkan Emosi

    Saat kita bermain slime, kita juga mampu melampiaskan emosi kita yang sedang tidak terkontrol dengan bermain slime. Sensasi yang diterima oleh tangan saat memegang, menarik, dan meremas slime dapat membuat anak lebih tenang.

    1. Melatih Kreativitas dan Membuat Kita Lebih Kreatif

    Kreativitas yang dapat dilakukan dalam memainkan permainan slime ini adalah dengan cara ketika kita mencampur bahan-bahan yang telah dipersiapkan, kemudian disini kita dituntun untuk dapat membuat model-model slime yang berbeda-beda pula, sesuai dengan keinginan kita. Disinilah kreativitas kita dapat dilatih dan membuat kita menjadi sosok yang lebih kreatif.

    1. Melatih Motorik Bagi Anak

    Ketika kita meremas dan memainkan slime, mampu membantu kita melatih motorik dalam diri, dengan gerakan jari dan tangan saat kita meremas membuat motorik kita jauh lebih baik dari sebelumnya.

    1. Melepaskan Kecanduan Penggunaan Gawai

    Manfaat atau dampak positif yang dapat dirasakan oleh anak-anak, bahkan remaja adalah melepaskan kita dari kecanduan penggunaan gawai.

    Seiring berkembangnya zaman, banyak anak-anak bahkan remaja, menggunaan gawai dalam jangka waktu yang tidak wajar, padahal ada hal positif lain yang dapat dilakukan selain menggunakan gawai dalam jangka waktu yang lama, salah satunya adalah membuat dan memainkan slime.

    Selain memiliki dampak atau manfaat yang sangat baik bagi kita, ternyata permainan slime ini mampu menjadi bumerang atau mampu menjadi sosok yang menyeramkan bagi kita, berikut merupakan dampak negatif yang dirasakan apabila salah dalam penggunaan / bermain slime:

    1. Menimbulkan Luka Bakar

    Salah satu bahan pembuatan slime ini adalah boraks, borakslah yang dapat menyebabkan luka bakar jika disentuh secara berkala. Awalnya, kita akan merasakan panas. Namun, semakin lama kita melakukan kontak dengan zat kimia ini, efeknya juga bisa semakin parah.

    1. Gangguan Saluran Pernafasan

    Boraks juga dapat menggangu saluran pernafasan kita apabila terhirup melalui udara secara terus menerus.

    1. Membuat Rentan Terhadap Penyakit

    Berbagai kasus yang terjadi akibat daripada permainan slime ini, salah satunya adalah kasus tentang beberapa anak yang jatuh sakit karena mereka keracunan slime pun bermunculan. Menimbulkan efek batuk, sakit kepala, sakit tenggorokan, dan efek yang tidak baik lainnya.

    Maka dari itu, kita harus lebih berhati-hati lagi dalam melakukan sesuatu, kita juga harus tetap waspada bahkan memikirkan kedepannya mengenai efek yang dapat ditimbulkan dari apa yang akan kita lakukan, untuk anak-anak sendiri peran orangtua atau orang dewasa disini sangat dibutuhkan, orang tua atau orang dewasa harus tetap mengawasi anaknya dalam bermain slime ini, jangan sampai mereka salah menggunakan permainan slime ini, bahkan sampai menelan slime ini. Untuk remaja, tetap waspada juga terhadap penggunaan bahan-bahan kimia yang berbahaya bagi tubuh kita.

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.









    Oleh: Napitupulu Na07

    4 hari lalu

    Sepuluh Aturan Emas Pengelolaan Risiko Banjir (10 Golden Rules of Flood Risk Management)

    Dibaca : 391 kali

    Dalam Undang Undang No 17 tahun 2017 tentang Sumber Daya Air (SDA), pada Bagian Keempat Pasal 35, pengertian “Pengelolaan Banjir” adalah “Pengendalian Daya Rusak Air”. Pasal 35 ayat (1) Pencegahan Daya Rusak Air dilakukan secara menyeluruh yang mencakup upaya pencegahan, penanggulangan, dan pemulihan; Ayat (3) Pencegahan Daya Rusak Air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk mencegah terjadinya bencana yang diakibatkan Daya Rusak Air. Penjelasan Pasal 35 ayat (3) Yang dimaksud Daya Rusak Air antara lain, berupa: a. banjir (banjir adalah peristiwa meluapnya air melebihi palung sungai atau genangan air yang terjadi pada daerah yang rendah dan tidak bisa terdrainasikan – SNI 2415-2016); b. erosi dan sedimentasi; c. tanah longsor; d. banjir lahar dingin; e. perubahan sifat dan kandungan kimiawi, biologi, dan fisika Air; g. terancam punahnya jenis tumbuhan dan/atau satwa; h. wabah penyakit; i. tanah ambles; j. intrusi, dan/atau; k. perembesan. Beberapa kecenderungan (trend) “Pengelolaan Risiko Banjir” yang berkembang di Eropa, China dan Australia ditulis oleh Sayer et.al 2012 sebagai 10 Golden Rules of Flood Risk Management. Saudara Ir. Slamet Budi Santoso Dipl. HE (Pengamat: persungaian terkait banjir, kekeringan dan pencemaran) telah menyadur tulisan Sayer et.al 2012 tersebut, dan sekaligus mengaitkannya dengan kondisi dan praktek penanganan Banjir di Indonesia. Melihat tantangan permasalahan Banjir ke depan yang semakin berat dan meluas akibat masifnya alih fungsi tutupan lahan dan hutan DAS hulu, ditambah perubahan iklim; Penulis menilai pemahaman Aturan Emas terkait Risiko Banjir ini penting sebagai referensi bagi para akademisi, tenaga ahli dan pengamat banjir di Indonesiana.