Selingkuh = Selingan Indah Keluarga Utuh? - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi perceraian. Pixabay.com

Junaidi, M. Psi psikolog

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Oktober 2020

Selasa, 13 Oktober 2020 09:57 WIB

  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Selingkuh = Selingan Indah Keluarga Utuh?

    Penyebab perceraian salah satunya adalah perselingkuhan. perselingkuhan terjadi disebabkan komunikasi yang tidak berjalan dengan baik antara suami dan istri

    Dibaca : 492 kali

    Beberapa waktu yang lalu, di tempat praktek pribadi saya, datang seorang ibu berinisial S usia 34 tahun, menangis dan menceritakan tentang hal yang baru saja terjadi. Ia menyampaikan bahwa suaminya selingkuh dengan sahabat terdekatnya. Ia marah, sedih, benci, bingung, putus asa dan merasa bahwa dunia sudah hancur, tidak ada harapan bagi diri dan anak-anaknya yang telah dikhianati oleh suami.

    Rumah tangga yang sudah dibina selama 12 tahun ini sia-sia dan tidak ada gunanya. Ia menyampaikan bahwasanya sumber permasalahan utama adalah kurangnya komunikasi diantara mereka. Mereka jarang sekali berdiskusi dan mengobrol tentang rumah tangga, keduanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing, padahal saat ini seharusnya tidak terjadi, karena suami berkerja dari rumah.

    Ia juga sibuk dengan kegiatan di rumah termasuk membantu kegiatan tugas belajar daring anak-anaknya. Sementara pengakuan suami melakukan itu karena iseng, ini yang membuatnya semakin hancur. Saat ini yang terpikir olehnya adalah berpisah dengan suami, walaupun ia tahu bahwa perceraian akan merugikan anak-anaknya tapi itulah pilihan yang harus segera dia ambil.

    Di lain waktu, saya juga pernah kedatangan seorang ibu berinisial D usia 27 tahun pekerjaan pegawai pemerintahan telah melakukan selingkuh dengan rekan kerjanya. Ia menyampaikan bahwasanya semua berawal dari seringnya mereka makan siang bersama, saling curhat tentang diri dan keadaaan keluarga masing-masing. Ketika bersama rekan kerjanya ia menikmati karena bisa berkomunikasi yang tidak ia dapat dari suaminya. Bahkan mereka pernah sampai melakukan layaknya hubungan suami istri di hotel.

    Saat ini ia bingung sebab hubungan dengan rekan kerjanya ketahuan oleh suaminya. Dia merasa menyesal, bersalah, berdosa dan pasrah dengan apa yang terjadi bahkan suaminya menggugat cerai pernikahan mereka. Ia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Ia merasa telah berkhianat dan  menghancurkan apa yang telah dibina dengan suaminya selama ini. 

    Kasus perselingkuhan saat ini banyak sekali terjadi di masyarakat, baik yang terekspose di media maupun tidak. Bahkan sampai berakhir pada perceraian di pengadilan. Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung, angka perceraian di Indonesia khususnya yang beragama Islam pada tahun 2019 mencapai 480.618 kasus. Angka tersebut mengalami peningkatan setiap tahun sejak tahun 2015 yang sebesar 394.246 kasus, 2016 sebanyak 401.717 kasus, 2017 sejumlah 415.510 kasus, 2018 sebanyak 444.358 kasus, dan di tahun 2020 per Agustus jumlahnya sudah mencapai 306.688 kasus. (https://bimasislam.kemenag.go.id).

    Berangkat dari judul diatas tentu akan menjadi banyak perdebatan di kalangan masyarakat, baik yang menyetujui maupun yang tidak menyetujui. Tergantung darimana kacamata yang digunakan apakah dari sipelaku atau korban atau juga masyarakat yang melihat akan hal itu. Kalau dibahas tentu tidak akan dapat diselesaikan karena semua berangkat dari niat dan alasan masing-masing menyikapinya.

    Namun secara umum yang menjadi salah satu penyebab utama perceraian adalah komunikasi yang tidak efektif diantara kedua pasangan tersebut. Seperti yang disampaikan konsultan pernikahan Teresa Atkin yang dikutip dari situs online Tempo tentang 4 penyebab perceraian terbanyak adalah masalah komunikasi.

    Sebagaimana kita ketahui bahwa setiap orang yang menikah pasti menginginkan rumah tangga yang mereka bina dapat berjalan dengan baik seperti yang diharapkan yaitu sakinah, mawaddah’ warahmah. Secara umum dapat penulis artikan sebagai damai, tenang dan tentram dalam merajut cinta dan kasih sayang nan sejuk dan abadi.

    Namun seiring berjalannya waktu, pasti ada saja berbagai masalah yang menimpa rumah tangga dan menguji kesetiaan suami istri di dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Ibarat kapal yang sedang berlayar di tengah gelombang lautan luas. Salah satu masalah yang paling sering dihadapi dan dialami adalah perselingkuhan.

    Berdasarkan data bimasislam tadi kita lihat ditahun 2020 hingga bulan Agustus 2020 jumlahnya sudah mencapai 306.688 kasus. Kenapa hal ini bisa terjadi? seharusnya terjadi penurunan kasus perceraian, yang mana kita ketahui sejak kasus pandemi berlangsung kondisi rumah tangga akan jauh lebih baik, semua keluarga berada dirumah, apakah belajar dirumah, bekerja dari rumah, dan pemerintah membatasi aktivitas diluar rumah. Seharusnya komunikasi dapat jauh lebih baik dari masa sebelumnya.

    Dengan pembatasan yang dilakukan pemerintah, baik itu bekerja, belajar bahkan beribadah. Diharapkan adalah kualitas rumah tangga akan lebih meningkat. Aktifitas akan lebih banyak dirumah baik itu dengan anak maupun pasangan. Bila tidak cukup kreatif didalam melakukan inovasi-inovasi aktivitas dan komunikasi tentu saja dapat menimbulkan kejenuhan dan kebosanan terutama pasangan. Ini yang menjadi salah satu penyebab munculnya perselingkuhan yang dapat memicu terjadinya perceraian.

    Berbagai cara dapat dilakukan agar mengurangi kejenuhan yang dialami oleh pasangan. Misalnya dengan meningkatkan komunikasi yang efektif dirumah, saling menghargai, saling mendengarkan dan menjadi teman curhat yang selama ini jarang dilakukan karena kesibukan masing-masing. Menciptakan suasana dan kegiatan-kegiatan baru yang dapat dilakukan bersama-sama dengan pasangan, seperti mengubah suasana kamar tidur, menanam bunga atau sayur-sayuran dihalaman rumah. Beternak hewan peliharaan bersama mengurusnya dan masih banyak lagi kegiatan yang dapat dilakukan bersama-sama. 

    Menurut Carl Hovland, Janis & Kelley, komunikasi adalah suatu proses di mana seseorang menyampaikan stimulus (biasanya dalam bentuk  kata-kata) dengan tujuan mengubah atau membentuk perilaku orang-orang lainnya. Hal yang sama juga disampaikan oleh Bernard Berelson & Gary A. Steiner, bahwa komunikasi merupakan suatu proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian, dan lain-lain melalui penggunaan simbol-simbol seperti kata-kata, gambar, angka-angka, prilaku dan lain-lain.

    Bahkan Hovland, memberikan penekanan bahwa tujuan komunikasi adalah mengubah atau membentuk perilaku. Definisi Berelson dan Steiner, menekankan bahwa komunikasi adalah proses penyampaian, yaitu penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian, dan lain-lain.

    Dari beberapa pendapat ahli diatas dapat kita simpulkan bahwa komunikasi sangat penting untuk dilakukan terutama didalam rumah tangga dengan tujuan meningkatkan kualitas hubungan sesama anggota keluarga terutama pasangan. Meskipun menjalin komunikasi efektif tidaklah mudah, namun bukan berarti Anda dan pasangan tidak bisa melakukannya, caranya tentu saja dengan mengetahui bagaimana cara melakukan komunikasi suami istri secara efektif. Tentu saja yang diharapkan adalah komunikasi tersebut mampu menghasilkan perubahan sikap baik pada diri sendiri maupun pasangan kita. Jika selama ini kita merasa bahwa pasangan tidak mengerti apa yang dimaksud dan diinginkan, ini dapat menjadi tanda bahwa komunikasi efektif belum terjadi.

    Ada beberapa hal penting yang dapat dilakukan didalam komunikasi efektif seperti saling terbuka dan berbicara satu sama lain, kurangi salah paham, saling percaya dan jujur, jadilah pendengar yang baik, kuatkan keintiman dan kedamaian.

    Diharapkan dengan melakukan komunikasi yang efektif didalam rumah tangga tentunya keharmonisan dapat ditingkatkan baik dengan pasangan maupun dengan anak-anak. Sehingga kasus perselingkuhan yang marak terjadi yang mengakibatkan perceraian dapat ditekan dan diturunkan.

     

       Referensi :

    • Murtiadi, dkk. 2015. Psikologi Komunikasi. Yogyakarta : Psikosain
    • Rakhmat, Jalaluddin. 2016. Psikologi Komunikasi, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
    • Supratman, Lucy Pujasari. 2016. Psikologi Komunikasi. : Deepublish
    • kemenag.go.id (diunduh tanggal 11 Oktober 2020)

    gaya.tempo.co (diunduh tanggal 11 Oktober 2020)



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.