Demo UU Ciptaker: Klaster Covid-19 dan Tugas Panjang Indonesia Pulihkan Ekonomi - Analisa - www.indonesiana.id
x

Chika Lestari

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 31 Juli 2020

Rabu, 14 Oktober 2020 07:16 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Demo UU Ciptaker: Klaster Covid-19 dan Tugas Panjang Indonesia Pulihkan Ekonomi

    Jika klaster demo UU Ciptaker ini nantinya menambah banyaknya jumlah positif COVID-19 maka ini akan menjadi tugas panjang bagi pemerintah untuk memulihkan sektor kesehatan serta memulihkan perekonomian yang masih minus tajam karena pandemi.

    Dibaca : 311 kali

    Mobilisasi massa dari segala arah terjadi pada 6-8 Oktober 2020 lalu. Terlalu lugu rasanya apabila ini adalah murni gerakan rakyat secara murni. Jika anda berpikir bahwa ini mobilisasi yang terencana, anda membutuhkan bukti yang valid dan kuat.

    Demonstrasi sebagai bentuk penyampaian aspirasi tidak pernah menjadi masalah dan merupakan hak dari setiap masyarakat, tak terkecuali di Indonesia yang merupakan negara demokrasi. Namun, hal ini menjadi berbeda ketika pandemi Covid-19 sedang melanda. Demonstrasi yang biasanya dilakukan di ruangan terbuka dan berjubel, kini peserta harus mematuhi protokol kesehatan dikarenakan pandemi masih menghantui Indonesia. 

    Salah satu contoh adalah aksi demonstrasi menolak UU Cipta Kerja (Ciptaker) yang berlangsung nasional di sejumlah kota di Indonesia. Termasuk di Jakarta yang mendapat sorotan Satgas Covid-19. Sebab, kerumunan massa yang terdapat saat aksi berpotensi menularkan virus Covid-19. 

    Juru Bicara Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito, menyatakan bahwa demo sebagai bentuk penyampaian aspirasi tersebut kini harus sesuai dengan protokol kesehatan. 

    “Penyampaian aspirasi ini harus betul-betul diikuti dengan kesadaran yang penuh terhadap pentingnya pencegahan penularan Covid-19 karena virus ini masih ada di sekitar kita,” ujarnya pada Kamis (8/10).

    Dari segi medis, buruh dan mahasiswa yang mengikuti demo UU Ciptaker juga mengatakan bahwa kondisi pandemi saat ini masih mencekam di Indonesia. Aksi penolakan UU Ciptaker dengan turun ke jalanan berpotensi memunculkan klaster baru Covid-19. 

    “Demo dalam kondisi pandemi yang belum terkendali, potensial meningkatkan penularan. Maka dari itu, lindungi pendemo, bagikan masker. Jangan lakukan kekerasan,” jelas Pakar Epidemiologi FKM UI, Pandu Riono. 

    Lantas, Airlangga Hartarto selaku Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia, menjelaskan pula jika penularan Covid-19 tidak kunjung berhenti maka akan membutuhkan waktu cukup panjang untuk memulihkan ekonomi.

    “Situasi sekarang adalah sedang pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Jadi ini berpotensi untuk menyebarkan Covid-19. Oleh karena itu, dalam PSS sudah jelas aturannya dan pemerintah sudah berbicara dengan aparat untuk melakukan tindak tegas,” ungkapnya. 

    Airlangga menegaskan kembali, jika klaster demo UU Ciptaker ini nantinya menambah banyaknya jumlah positif Covid-19 maka ini akan menjadi tugas panjang bagi pemerintah untuk memulihkan sektor kesehatan serta memulihkan perekonomian yang masih minus tajam karena pandemi.

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.









    Oleh: Napitupulu Na07

    4 hari lalu

    Sepuluh Aturan Emas Pengelolaan Risiko Banjir (10 Golden Rules of Flood Risk Management)

    Dibaca : 392 kali

    Dalam Undang Undang No 17 tahun 2017 tentang Sumber Daya Air (SDA), pada Bagian Keempat Pasal 35, pengertian “Pengelolaan Banjir” adalah “Pengendalian Daya Rusak Air”. Pasal 35 ayat (1) Pencegahan Daya Rusak Air dilakukan secara menyeluruh yang mencakup upaya pencegahan, penanggulangan, dan pemulihan; Ayat (3) Pencegahan Daya Rusak Air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk mencegah terjadinya bencana yang diakibatkan Daya Rusak Air. Penjelasan Pasal 35 ayat (3) Yang dimaksud Daya Rusak Air antara lain, berupa: a. banjir (banjir adalah peristiwa meluapnya air melebihi palung sungai atau genangan air yang terjadi pada daerah yang rendah dan tidak bisa terdrainasikan – SNI 2415-2016); b. erosi dan sedimentasi; c. tanah longsor; d. banjir lahar dingin; e. perubahan sifat dan kandungan kimiawi, biologi, dan fisika Air; g. terancam punahnya jenis tumbuhan dan/atau satwa; h. wabah penyakit; i. tanah ambles; j. intrusi, dan/atau; k. perembesan. Beberapa kecenderungan (trend) “Pengelolaan Risiko Banjir” yang berkembang di Eropa, China dan Australia ditulis oleh Sayer et.al 2012 sebagai 10 Golden Rules of Flood Risk Management. Saudara Ir. Slamet Budi Santoso Dipl. HE (Pengamat: persungaian terkait banjir, kekeringan dan pencemaran) telah menyadur tulisan Sayer et.al 2012 tersebut, dan sekaligus mengaitkannya dengan kondisi dan praktek penanganan Banjir di Indonesia. Melihat tantangan permasalahan Banjir ke depan yang semakin berat dan meluas akibat masifnya alih fungsi tutupan lahan dan hutan DAS hulu, ditambah perubahan iklim; Penulis menilai pemahaman Aturan Emas terkait Risiko Banjir ini penting sebagai referensi bagi para akademisi, tenaga ahli dan pengamat banjir di Indonesiana.