Investasi Hulu Migas untuk Negeri - Analisa - www.indonesiana.id
x

Citra Cita

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Januari 2020

4 hari lalu

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Investasi Hulu Migas untuk Negeri


    Dibaca : 156 kali

     

    Tetap lajunya sektor bisnis, salah satunya bergantung pada investasi. Begitulah skema hukum alam' bisnis. Makin banyak investasi yang masuk, maka makin meningkat wilayah bisnis bakal dikelola. Dan target kerja pun akhirnya tidak mangkrak.

    Jika pekerjaan tidak mangkrak sebab investasi bergulir, potensi keuntungan dari bisnis dikelola akan ada. Kalau bisnis untung, ada kesejahteraan. Jadi begitulah alurnya. Skema bisnisnya. Yang telah jadi hukum alam tadi. Dalam sub-sektor hulu migas juga berlaku hukum alam tadi. Apalagi, bisnis hulu migas adalah primadona di Tanah Air.

    Primadona karena pasti sebagai andalan utama pendapatan negara --yang ditetapkan dalam APBN setiap tahunnya. Ditambah lagi: Indonesia dikenal sebagai negeri yang kaya emas hitam. Sejak dulu. Banyak KKKS asing sangat berminat mengelola hulu migas nasional. Sejak dulu.

    Kendati begitu, untuk saat ini bukanlah kerja yang mudah mengajak investor berinvestasi di Indonesia. Khususnya di industri hulu migas. Dengan kondisi saat ini, penyebaran wabah virus Covid-19 yang belum juga usai. Bukan hanya melanda Indonesia. Berdampak pada krisis kesehatan dan ekonomi setiap negara. Termasuk Indonesia.

    Faktor lainnya, harga minyak mentah sedang rendah. Sebab kaitannya dengan situasi pagebluk virus Covid-19 tadi. Namun SKK Migas --sebagai penanggungjawab kegiatan industri hulu migas-- kiranya tidak patah arang. Harus diakui.

    SKK Migas tidak menyerah terhadap situasi. Buktinya: investasi hulu migas hingga September 2020 telah sebanyak 63,33 persen dari target yang ditetapkan.

    Setara dengan nilai materi USD 7,03 miliar. Target investasi dipatok SKK Migas yakni USD 11,1 miliar pada tahun 2020. Jadi sekitar 37 persen lagi target investasi yang perlu dikejar SKK Migas. Atau sekitar USD 4 miliar lagi.

    Harus diakui, itu capaian kerja luar biasa dilakukan SKK Migas. Dengan situasi pagebluk telah 7 bulan terjadi di Indonesia --khususnya terhadap krisis ekonomi yang terjadi.

    Artinya, ada keseriusan kerja dilaksanakan SKK Migas. Meski ada tantangan yang tidak mudah harus dilalui. Tapi SKK Migas tak menjadikannya alasan untuk merealisasikan tanggung jawabnya --setidaknya mendekati. Bila SKK Migas diapresiasi, wajar. Malah memang seharusnya.

    Dengan melihat pada situasi capaian investasi hulu migas hingga akhir September 2020. Dengan situasi kini yang sedang tidak menentu. Bisa saja target investasi hulu migas seluruhnya terwujud seperti ditetapkan SKK Migas. Jika mencermati semangat kerja SKK Migas untuk Indonesia.*



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.









    Oleh: Napitupulu Na07

    4 hari lalu

    Sepuluh Aturan Emas Pengelolaan Risiko Banjir (10 Golden Rules of Flood Risk Management)

    Dibaca : 403 kali

    Dalam Undang Undang No 17 tahun 2017 tentang Sumber Daya Air (SDA), pada Bagian Keempat Pasal 35, pengertian “Pengelolaan Banjir” adalah “Pengendalian Daya Rusak Air”. Pasal 35 ayat (1) Pencegahan Daya Rusak Air dilakukan secara menyeluruh yang mencakup upaya pencegahan, penanggulangan, dan pemulihan; Ayat (3) Pencegahan Daya Rusak Air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk mencegah terjadinya bencana yang diakibatkan Daya Rusak Air. Penjelasan Pasal 35 ayat (3) Yang dimaksud Daya Rusak Air antara lain, berupa: a. banjir (banjir adalah peristiwa meluapnya air melebihi palung sungai atau genangan air yang terjadi pada daerah yang rendah dan tidak bisa terdrainasikan – SNI 2415-2016); b. erosi dan sedimentasi; c. tanah longsor; d. banjir lahar dingin; e. perubahan sifat dan kandungan kimiawi, biologi, dan fisika Air; g. terancam punahnya jenis tumbuhan dan/atau satwa; h. wabah penyakit; i. tanah ambles; j. intrusi, dan/atau; k. perembesan. Beberapa kecenderungan (trend) “Pengelolaan Risiko Banjir” yang berkembang di Eropa, China dan Australia ditulis oleh Sayer et.al 2012 sebagai 10 Golden Rules of Flood Risk Management. Saudara Ir. Slamet Budi Santoso Dipl. HE (Pengamat: persungaian terkait banjir, kekeringan dan pencemaran) telah menyadur tulisan Sayer et.al 2012 tersebut, dan sekaligus mengaitkannya dengan kondisi dan praktek penanganan Banjir di Indonesia. Melihat tantangan permasalahan Banjir ke depan yang semakin berat dan meluas akibat masifnya alih fungsi tutupan lahan dan hutan DAS hulu, ditambah perubahan iklim; Penulis menilai pemahaman Aturan Emas terkait Risiko Banjir ini penting sebagai referensi bagi para akademisi, tenaga ahli dan pengamat banjir di Indonesiana.