Investasi Asing Tidak Penting dan Bermanfaat bagi Indonesia? - Analisa - www.indonesiana.id
x

Chika Lestari

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 31 Juli 2020

4 hari lalu

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Investasi Asing Tidak Penting dan Bermanfaat bagi Indonesia?

    Sayangnya, hal ini sepertinya masih belum berlaku di Indonesia. Sebab, di negara ini masih banyak penghambat dalam menghadirkan investor.

    Dibaca : 1.307 kali

    Semenjak kepemimpinan Presiden Jokowi, pemerintah Indonesia menggelontorkan segala macam regulasi dalam rangka membuka keran investasi dari berbagai arah. Hal ini dilakukan untuk mengakomodasi cita-cita Nusantara menuju kemajuan di segala bidang, termasuk sektor pertambangan dan pemurnian atau smelter.

    Bukan tanpa alasan, potensi cadangan yang besar dan peluang industri hilir penggunaan nikel yang masih dibutuhkan, Indonesia adalah pilihan yang menarik untuk dilakukan pengembangan investasi pada sektor pertambangan nikel.

    Selain itu, dengan adanya investasi yang masuk ke negara, tentu devisa negara akan bertambah, serta lapangan kerja terbuka semakin luas, dan transfer of knowledge, skill, & technology  juga terjadi antar pekerja asing dengan pekerja lokal. Hal ini akan menjadi value lebih bagi Indonesia untuk menggapai puncak negara yang lebih maju. 

    Salah satu kunci negara untuk dapat lebih selangkah lebih maju adalah membuka pintu seluas-luasnya bagi investor. Berdasarkan riset Y&R dan Wharton School dari University of California, beberapa negara seperti Singapura, Malaysia, Filipina berhasil menjadi negara yang diminati oleh investor untuk menanamkan modalnya. 

    Pun baru-baru ini berdasarkan laporan Bank Dunia 2019, negara The Golden Stars yakni Vietnam berhasil memboyong investor dari berbagai negara, salah satunya China. Menurut World Economic Forum, terdapat tiga faktor yang membuat Vietnam berhasil menjadi negara jujugan investor. Satu, Vietnam berkomitmen dengan globalisasi ekonomi. Kedua, penyederhanaan regulasi secara spektakuler. Ketiga, investasi besar-besaran di Sumber Daya Manusia (SDM). Upaya kerja keras ini berbuah manis, sebab pertumbuhan Penanaman Modal Asing (PMA) Vietnam selama tahun 2019 mencapai US$16,74 miliar atau tumbuh 69,1 persen secara tahunan. 

    Dengan berhasilnya negara dalam memboyong investasi masuk dan menanamkan modalnya, tentu akan bermuara pada kesejahteraan masyarakat, perekonomian yang stabil, dan masa depan negara yang lebih baik. 

    Sayangnya, hal ini sepertinya masih belum berlaku di Indonesia. Sebab, di negara ini masih banyak penghambat dalam menghadirkan investor. Seperti sentimen negatif dan opini-opini yang menyudutkan, salah satu contoh adalah opini terhadap Morowali yang dicap tidak berkontribusi sama sekali terhadap negara. 

    Di satu sisi, bertahap Morowali telah membuktikan bahwa mereka berhasil mewujudkan mimpi Indonesia menjadi semakin nyata, yakni menjadi nickel global supply chain atau rantai pasok nikel dunia. 

    Jika demikian, apakah keberadaan investasi asing tidak penting bagi negara ini? Apakah kita harus tutup pintu rapat-rapat agar investasi tidak masuk ke Indonesia? Dan, apakah kita harus mengusir para investor asing yang investasinya sedang berlangsung saat ini?

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.









    Oleh: Napitupulu Na07

    4 hari lalu

    Sepuluh Aturan Emas Pengelolaan Risiko Banjir (10 Golden Rules of Flood Risk Management)

    Dibaca : 400 kali

    Dalam Undang Undang No 17 tahun 2017 tentang Sumber Daya Air (SDA), pada Bagian Keempat Pasal 35, pengertian “Pengelolaan Banjir” adalah “Pengendalian Daya Rusak Air”. Pasal 35 ayat (1) Pencegahan Daya Rusak Air dilakukan secara menyeluruh yang mencakup upaya pencegahan, penanggulangan, dan pemulihan; Ayat (3) Pencegahan Daya Rusak Air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk mencegah terjadinya bencana yang diakibatkan Daya Rusak Air. Penjelasan Pasal 35 ayat (3) Yang dimaksud Daya Rusak Air antara lain, berupa: a. banjir (banjir adalah peristiwa meluapnya air melebihi palung sungai atau genangan air yang terjadi pada daerah yang rendah dan tidak bisa terdrainasikan – SNI 2415-2016); b. erosi dan sedimentasi; c. tanah longsor; d. banjir lahar dingin; e. perubahan sifat dan kandungan kimiawi, biologi, dan fisika Air; g. terancam punahnya jenis tumbuhan dan/atau satwa; h. wabah penyakit; i. tanah ambles; j. intrusi, dan/atau; k. perembesan. Beberapa kecenderungan (trend) “Pengelolaan Risiko Banjir” yang berkembang di Eropa, China dan Australia ditulis oleh Sayer et.al 2012 sebagai 10 Golden Rules of Flood Risk Management. Saudara Ir. Slamet Budi Santoso Dipl. HE (Pengamat: persungaian terkait banjir, kekeringan dan pencemaran) telah menyadur tulisan Sayer et.al 2012 tersebut, dan sekaligus mengaitkannya dengan kondisi dan praktek penanganan Banjir di Indonesia. Melihat tantangan permasalahan Banjir ke depan yang semakin berat dan meluas akibat masifnya alih fungsi tutupan lahan dan hutan DAS hulu, ditambah perubahan iklim; Penulis menilai pemahaman Aturan Emas terkait Risiko Banjir ini penting sebagai referensi bagi para akademisi, tenaga ahli dan pengamat banjir di Indonesiana.