Sulawesi Tengah Naik Panggung ke Pasar Global Berkat Mineral - Analisa - www.indonesiana.id
x

Meri Ana

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 31 Juli 2020

4 hari lalu

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Sulawesi Tengah Naik Panggung ke Pasar Global Berkat Mineral

    Bolehkah kita berbangga hati, bahwa pulau yang berbentuk huruf K di Indonesia yakni Sulawesi, terdapat kawasan industri yang menggebrak inovasi perekonomian Indonesia. Adalah kawasan industri Morowali yang terletak di Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah dan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada tahun 2015. 

    Dibaca : 1.291 kali

    Bolehkah kita berbangga hati, bahwa pulau yang berbentuk huruf K di Indonesia yakni Sulawesi, terdapat kawasan industri yang menggebrak inovasi perekonomian Indonesia. Adalah kawasan industri Morowali yang terletak di Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah dan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada tahun 2015. 

    Bergerak di sektor industri pertambangan dan pemurnian sumberdaya mineral, kawasan industri Morowali kini menjadi teladan bagi program hilirisasi pemerintah Indonesia. Hilirisasi merupakan program pengolahan mineral dari barang mentah hingga menjadi barang jadi. Dengan hilirisasi, ada pemberian nilai tambah bagi barang mentah karena diolah menjadi barang jadi. Sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

    Tentunya, dengan hilirisasi tersebut devisa yang didapatkan menjadi bertambah. Sebab, dari barang mentah seperti bijih nikel atau bijih besi ketika dijual masih berharga rendah, lalu oleh smelter diolah menjadi barang jadi yang lebih menghasilkan devisa lebih.

    Dari hilirisasi tersebut, Morowali bahkan mengalami lonjakan pertumbuhan ekonomi hingga 67,82 persen (2015) dan 13,18 persen (2016). Sedangkan Angka Pendapatan Asli Daerah (PAD) Morowali juga terkatrol dari Rp 25,30 miliar (2014) menjadi Rp84,40 miliar (2015) beriring pembukaan pabrik di kawasan industri Morowali.

    Selain fokus pada pengolahan nikel, kawasan industri Morowali juga menghasilkan barang jadi berupa stainless steel. Pemberian nilai tambah pada mineral hingga menjadi stainless steel ini membuat Morowali menghasilkan nilai tambah yang signifikan. Pada 2018, industri ini berhasil meraup 71,9 Triliun, sedangkan 2019 sejumlah 91,6 Triliun, dan 2020 sebesar 185,9 Triliun. Diproyeksikan, di tahun 2021 dan 2022 nantinya produksi stainless steel dapat menghasilkan 153,7 Triliun dan 226,9 Triliun.

    Tak hanya itu, dari diproduksinya stainless steel ini pajak yang diterima mencapai 4-5 Triliun bagi negara, sedangkan PAD untuk daerah juga naik dari tahun ke tahun. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral Indonesia, PAD yang dihasilkan di tahun 2019 adalah 2019,7 miliar dan tahun 2020 adalah 218,4 miliar. Sedangkan proyeksi pada tahun 2021 diperkirakan mencapai 227 miliar dan 2020 adalah 246,3 miliar. 

    Dapat dikatakan, kawasan industri Morowali telah berhasil menjadikan Indonesia sebagai global supply chain yang merupakan mimpi lama yang diidam-idamkan Indonesia. ‘Tak pernah terbayang sebelumnya oleh para pahlawan Indonesia di masa lalu, bahwa kini Indonesia telah menjadi rising star di dunia global berkat sebuah mineral yang terkandung di ‘Tanah Air’, yaitu nikel. 

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.









    Oleh: Napitupulu Na07

    4 hari lalu

    Sepuluh Aturan Emas Pengelolaan Risiko Banjir (10 Golden Rules of Flood Risk Management)

    Dibaca : 401 kali

    Dalam Undang Undang No 17 tahun 2017 tentang Sumber Daya Air (SDA), pada Bagian Keempat Pasal 35, pengertian “Pengelolaan Banjir” adalah “Pengendalian Daya Rusak Air”. Pasal 35 ayat (1) Pencegahan Daya Rusak Air dilakukan secara menyeluruh yang mencakup upaya pencegahan, penanggulangan, dan pemulihan; Ayat (3) Pencegahan Daya Rusak Air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk mencegah terjadinya bencana yang diakibatkan Daya Rusak Air. Penjelasan Pasal 35 ayat (3) Yang dimaksud Daya Rusak Air antara lain, berupa: a. banjir (banjir adalah peristiwa meluapnya air melebihi palung sungai atau genangan air yang terjadi pada daerah yang rendah dan tidak bisa terdrainasikan – SNI 2415-2016); b. erosi dan sedimentasi; c. tanah longsor; d. banjir lahar dingin; e. perubahan sifat dan kandungan kimiawi, biologi, dan fisika Air; g. terancam punahnya jenis tumbuhan dan/atau satwa; h. wabah penyakit; i. tanah ambles; j. intrusi, dan/atau; k. perembesan. Beberapa kecenderungan (trend) “Pengelolaan Risiko Banjir” yang berkembang di Eropa, China dan Australia ditulis oleh Sayer et.al 2012 sebagai 10 Golden Rules of Flood Risk Management. Saudara Ir. Slamet Budi Santoso Dipl. HE (Pengamat: persungaian terkait banjir, kekeringan dan pencemaran) telah menyadur tulisan Sayer et.al 2012 tersebut, dan sekaligus mengaitkannya dengan kondisi dan praktek penanganan Banjir di Indonesia. Melihat tantangan permasalahan Banjir ke depan yang semakin berat dan meluas akibat masifnya alih fungsi tutupan lahan dan hutan DAS hulu, ditambah perubahan iklim; Penulis menilai pemahaman Aturan Emas terkait Risiko Banjir ini penting sebagai referensi bagi para akademisi, tenaga ahli dan pengamat banjir di Indonesiana.