Terbaru! Area Bekas Tambang Rupanya Dapat Dimanfaatkan Jadi Bisnis Lagi - Analisa - www.indonesiana.id
x

Tania Adin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 31 Juli 2020

4 hari lalu

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Terbaru! Area Bekas Tambang Rupanya Dapat Dimanfaatkan Jadi Bisnis Lagi

    Keberadaan area bekas tambang seringkali menjadi polemik karena hingga saat ini masih belum ada inovasi untuk pemanfaatannya. Jika hal ini dapat dimanfaatkan, tentunya lahan tersebut akan kontinu menjadi area bisnis dengan jenis terbaru. 

    Dibaca : 1.249 kali

    Keberadaan area bekas tambang seringkali menjadi polemik karena hingga saat ini masih belum ada inovasi untuk pemanfaatannya. Jika hal ini dapat dimanfaatkan, tentunya lahan tersebut akan kontinu menjadi area bisnis dengan jenis terbaru. 

    Fenomena ini akhirnya direspon oleh Himpunan Alumni Fakultas Peternakan (Hanter) dengan Himpunan Alumni IPB University Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Kalimantan Timur. Pada Sabtu (10/10/2020), mereka mengadakan seminar yang mengangkat tema mengenai pemanfaatan area bekas tambang, salah satunya pemanfaatan untuk lahan peternakan. 

    Prof. Dr. Luki Abdullah, Dosen Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP) IPB University, menyampaikan lahan bekas tambang rupanya dapat dimanfaatkan untuk peternakan. Diharapkan, inovasi ini nantinya mampu menjadi solusi pemulihan ekonomi daerah setempat. 

    “Area bekas tambang nikel dan emas memang membutuhkan waktu lama untuk menghilangkan residu pada hijauan pakan. Jika bekas tambang batu bara relatif lebih aman untuk ditanam tanaman pakan,” ujarnya.

    Meskipun demikian, masih ada karakter pembatas pada area bekas lahan untuk menanam. Karakter pembatas tersebut adalah pH rendah, bahan organik rendah, kapasitas tukar kation rendah, dan daya menggenang air yang ekstrim. Menurutnya, daya air ini nantinya bisa sangat tinggi namun juga bisa tidak ada air sama sekali. 

    Luki memaparkan, perlu adanya upaya pembenahan tanah agar dapat mendekati karakteristik lahan yang sesuai untuk tanaman. Upaya pembenahan tersebut dapat dilakukan dengan inokulasi mikroba tanam, pengapuran, pemupukan anorganik tanah dan menambah bahan organik atau sumber karbon organik. Untuk bahan organik berasal dari pupuk kandang, kompos, atau asam humat.

    “Apabila area bekas tambang sudah dilakukan perbaikan tanah, ada lima spesies tanaman pakan yang dapat ditanam. Spesies tersebut adalah Pennisetum purpureum, Mott dwarf pennisetum (odot), Panicum maximum cv. Mombasa, dan Mulato,” papar Luki. 

    Ir. Dadang Sudaryana yang merupakan anggota HA IPB University juga sepakat bahwa area bekas tambang dapat dimanfaatkan untuk peternakan dengan konsep mini ranch. 

    “Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kalimantan Timur telah meneliti di tiga kabupaten pada tiga lokasi bekas tambang batubara. Hasilnya, lahan dapat digunakan untuk budidaya peternakan dengan konsep mini ranch atau khusus ternak sapi potong dan pedaging,” ungkapnya. 

     

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.









    Oleh: Napitupulu Na07

    4 hari lalu

    Sepuluh Aturan Emas Pengelolaan Risiko Banjir (10 Golden Rules of Flood Risk Management)

    Dibaca : 401 kali

    Dalam Undang Undang No 17 tahun 2017 tentang Sumber Daya Air (SDA), pada Bagian Keempat Pasal 35, pengertian “Pengelolaan Banjir” adalah “Pengendalian Daya Rusak Air”. Pasal 35 ayat (1) Pencegahan Daya Rusak Air dilakukan secara menyeluruh yang mencakup upaya pencegahan, penanggulangan, dan pemulihan; Ayat (3) Pencegahan Daya Rusak Air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk mencegah terjadinya bencana yang diakibatkan Daya Rusak Air. Penjelasan Pasal 35 ayat (3) Yang dimaksud Daya Rusak Air antara lain, berupa: a. banjir (banjir adalah peristiwa meluapnya air melebihi palung sungai atau genangan air yang terjadi pada daerah yang rendah dan tidak bisa terdrainasikan – SNI 2415-2016); b. erosi dan sedimentasi; c. tanah longsor; d. banjir lahar dingin; e. perubahan sifat dan kandungan kimiawi, biologi, dan fisika Air; g. terancam punahnya jenis tumbuhan dan/atau satwa; h. wabah penyakit; i. tanah ambles; j. intrusi, dan/atau; k. perembesan. Beberapa kecenderungan (trend) “Pengelolaan Risiko Banjir” yang berkembang di Eropa, China dan Australia ditulis oleh Sayer et.al 2012 sebagai 10 Golden Rules of Flood Risk Management. Saudara Ir. Slamet Budi Santoso Dipl. HE (Pengamat: persungaian terkait banjir, kekeringan dan pencemaran) telah menyadur tulisan Sayer et.al 2012 tersebut, dan sekaligus mengaitkannya dengan kondisi dan praktek penanganan Banjir di Indonesia. Melihat tantangan permasalahan Banjir ke depan yang semakin berat dan meluas akibat masifnya alih fungsi tutupan lahan dan hutan DAS hulu, ditambah perubahan iklim; Penulis menilai pemahaman Aturan Emas terkait Risiko Banjir ini penting sebagai referensi bagi para akademisi, tenaga ahli dan pengamat banjir di Indonesiana.