Penyebab Terjadinya Kabut dan Sifat Bendanya di Alam - Analisa - www.indonesiana.id
x

Gambar oleh jodeng dari Pixabay

eka rahma

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 Oktober 2020

Sabtu, 24 Oktober 2020 06:27 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Penyebab Terjadinya Kabut dan Sifat Bendanya di Alam

    artikel sains dengan membahas fenomena alam Kabut

    Dibaca : 643 kali

    Seperti yang kita tahu Kabut adalah uap air yang berada dekat permukaan tanah berkondensasi dan menjadi mirip awan. Hal ini biasanya terbentuk karena hawa dingin membuat uap air berkondensasi dan kadar kelembaban mendekati 100%. Tempat yang paling berkabut di dunia adalah Grand Banks di lepas pantai pulau Newfoundland, Kanada.

    Kabut ialah kumpulan tetes-tetesan air yang memiliki ukuran yang sangat kecil dan melayang-layang di udara. Kabut ini memliki kemiripan dengan awan, namun hanya saja awan tidak menyentuh permukaan tanah, sedangkan kabut sendiri menyentuh permukaan tanah atau bumi. Biasanya kabut ini bisa kita lihat didaerah yang dingin atau daerah yang tinggi.

    Lalu bagaimanakah sebenarnya kabut ini bisa terbentuk? Secara umum kabut ini dapat terbentuk saat udara yang jenuh akan uap air didinginkan dibawah titik bekunya, apabila udara berada diatas daerah perindustrian, udara itu mungkin juga mengandung asap yang bercampur kabut membentuk kabut berasap, campuran tersebut menjadikan pedas dimata dan dapat menyebabkan batuk.

    Di kota besar asap pembuangan dari kendaraan dan polutan lainnya mengandung hidrokarbon dan oksida-oksida nitrogen yang diubah menjadi kabut berasap fotokimia oleh sinar matahari. Ozon dapat terbentuk didalam kabut berasap ini menambah racun lainnya didalam udara. Kabut berasap ini mengiritasi mata dan merusak paru-paru. Seperti hujan asam, kabut berasap bisa dicegah dengan menghentikan pencemaran atmosfer.

    Kabut juga bisa terbentuk dari uap air yang berasal dari tanah yang lembab, tanaman-tanaman, sungai, danau dan lautan. Uap air ini berkembang dan menjadi dingin ketika naik ke udara. Udara ini bisa menahan uap air hanya dalam jumlah yang tertentu pada suhu tertentu juga.

    Beberapa jenis kabut yang sering dijumpai, yaitu kabut advection pada saat udara hangat melewati permukaan yang dingin. Kabut frontal terjadi saat hujan dan kabut gunung yang sering kita lihat di daerah pegunungan. Partikel-partikel kabut berdiameter lebih kecil dari 0,001 mm. Ukura partikel yag kita lihat berarti terdapat 1227 partikel kabut dalam 1 centimeter kubik.

    Agar kabut terbentuk, uap lembab harus meninggalkan udara dan mengembun. Saat udara didinginkan di bawah titik tertentu yang disebut titik embun atau titik jenuh, kabut mulai terbentuk. Terbentuknya kabut udara yang sejuk bercampur dengan udara yang lebih hangat (sebagai akibat dari aliran udara).

    Jika aliran udaranya rendah, proses pendinginan cuma berlangsung di dekat permukaan tanah dan membentuk embun. Saat aliran udara meningkat dengan pesat, proses pendinginan berlangsung di tempat yang tinggi dan membentuk awan. Jadi aliran udara yang mencampurkan udara dingin ke dalam udara yang lebih hangat harus mengalir dengan sepoi-sepoi agar kabutlah yang tercipta.

    Kabut merupakan campura dari dua zat heterogedengan tersebar di suatu medium. Dalam Ilmu Pengetahuan Alam kita menyebutnya dengan sistem koloid. Kabut yang memiliki ukuran nano karena sangat kecil membuatnya sulit dikenali dan hanya bisa dirasakan meskipun memiliki warna biasa yaitu putih. Namun, penjelasan ilmiahnya karena fase dari yang terbentuk berupa caira yang berasal dari uap air lalu berada di udara dan didispersi atau melalui media gas seperti udara sekitar. Dengan begitu, kabut terbentuk dan bisa dirasakan.

     

     

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.