Di samping Jujur dan Adil, Tugas Tersulit Pemimpin ialah Mendengarkan - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Kepemimpinan. Pixabay.com

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 26 Oktober 2020 15:59 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Di samping Jujur dan Adil, Tugas Tersulit Pemimpin ialah Mendengarkan

    Kenyataan hidup rakyat itulah yang akan mampu membangunkan kesadaran pemimpin mengenai realitas kepemimpinannya, sedangkan realitas yang dibangun oleh laporan para pembantunya kerap meninabobokan. Dengan melihat dan mendengar langsung rakyatnya, tanpa diiringi kemegahan pengawalan, pemimpin dapat menangkap apa sesungguhnya harapan rakyat—yang seringkali begitu sederhana.

    Dibaca : 1.911 kali

     

    Menjadi pemimpin bukanlah tugas yang ringan dan mudah. “Memimpin itu menderita,” kata almarhum Haji Agus Salim—sosok yang dituakan oleh para perintis dan pendiri negeri ini, termasuk oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Tanggung jawabnya besar, tapi pahalanya sepadan besarnya bila mampu memimpin dengan baik dan benar—amanah, adil, jujur, dan dapat diandalkan oleh rakyatnya bila rakyat mengadu.

    Banyak pemimpin yang dekat dengan rakyat ketika tengah menapaki jenjang tangga ke atas, juga di bulan-bulan pertama ia duduk di tempat yang baru. Namun kesibukan yang luar biasa berpotensi menjebak pemimpin dalam sangkar emas, yang membuatnya berjarak dan semakin berjarak dengan rakyat yang dulu mendampinginya naik jenjang. Rakyat yang dulu mengusungnya, mengelu-elukannya, dan mendukungnya semakin sulit menemuinya.

    Banyak hal, urusan, dan banyak orang berpotensi merintangi pemimpin untuk berkomunikasi langsung dengan rakyat. Mereka lebih banyak menerima laporan dari para pembantunya dengan beraneka watak dan kepentingan masing-masing. Ada pembantu yang berusaha selalu menyenangkan hatinya, ada pula yang punya hobi menambahkan bumbu-bumbu dalam laporannya agar lebih dramatis, ada pula yang menutupi keluhan rakyat agar pemimpin tidak tahu kesusahan rakyat.

    Komunikasi berantai memang sangat berisiko karena mungkin saja pesan dari rakyat dibumbui, dikurangi, disalahartikan, atau bahkan diplintir oleh para pembantu yang membawa pesan. Pembantu pemimpin juga punya asisten, dan asisten ini punya asisten lagi, begitu seterusnya hingga baru kemudian sampai kepada rakyat. Makin panjang rantai komunikasi, makin besar potensi terjadinya miskomunikasi. Pesan yang berasal dari rakyat mengalami distorsi.

    Lantaran itulah, sebagian pemimpin yang hebat senang terjun langsung melihat kondisi rakyat, tentu saja secara diam-diam. Jika diiringi banyak pengawal, pemimpin tak akan tahu keadaan yang sebenarnya, sebab para pengiringnya akan mengarahkan dia menemui orang-orang yang dapat menyenangkan hatinya. Rakyat pun menjadi segan menceritakan secara bebas keadaan hidupnya, sebab ia tahu sedang berhadapan dengan siapa.

    Penting bagi pemimpin untuk melihat secara langsung apa yang dirasakan rakyat dan untuk mendengar langsung apa harapan rakyat. Kisah Khalifah Umar bin Khattab bisa jadi inspirasi. Suatu ketika, dalam kegiatannya melihat langsung kehidupan rakyatnya, Umar mendapati seorang ibu yang tengah memasak batu di kualinya. Si ibu melakukan hal tak lazim itu untuk menghibur anak kecilnya yang lapar seolah-olah ia tengah memasak, padahal kenyataannya ia tidak memiliki bahan makanan untuk dimasak. Usaha ibu itu tidak berhasil, sebab anaknya tetap menangis.

    Umar terdiam ketika ibu itu memberitahu dengan perkataan keras bahwa sebagai pemimpin, Umar tidak bertanggungjawab terhadap rakyatnya yang kelaparan. Ibu itu tidak tahu ia sedang berhadapan dengan siapa. Umar tidak marah dan ia merasa bersalah telah menelantarkan rakyatnya. Umar lalu mendatangi lumbung negara, mengambil gandum dan mengangkatnya sendiri ke rumah ibu itu.

    Kenyataan hidup rakyat itulah yang akan mampu membangunkan kesadaran pemimpin mengenai realitas kepemimpinannya, sedangkan realitas yang dibangun oleh laporan para pembantunya kerap meninabobokan. Dengan melihat dan mendengar langsung rakyatnya, tanpa diiringi kemegahan pengawalan, pemimpin dapat menangkap apa sesungguhnya harapan rakyat—yang seringkali begitu sederhana. Janganlah terlampau banyak meminta rakyat untuk mendengar, sebab tugas pemimpin ialah lebih banyak mendengarkan, walaupun mendengarkan adalah tugas yang sulit—lebih sulit ketimbang memberi perintah. >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.