Liem Sioe Liong, dari Futching ke Mancanegara - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Cover Buku Liem Sioe Liong - Dari Futching ke Mancanegara

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 26 Oktober 2020 16:05 WIB

  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Liem Sioe Liong, dari Futching ke Mancanegara

    Masa kecil Liem Sioe Liong yang melarat, masa merintis bisnis sampai dengan membangun konglomerasi.

    Dibaca : 762 kali

    Judul: Liem Sioe Liong – Dari Futching ke Mancanegara

    Penulis: Sori Ersa Siregar dan Kencana Tirta Widya

    Tahun Terbit: 1988

    Penerbit: Merdeka Sarana Usaha                                                                        

    Tebal: 254

    ISBN: 979-8054-16-4

     

    Buku ini berkisah tentang sejarah Liem Sioe Liong dari sejak masa kecilnya di Desa Ngu Na, Kecamatan Hai Kou, Futching sampai dengan masa dimana Sioe Liong menjadi taipan handal level dunia. Sumber penulisan buku ini adalah artikel-artikel dan berita-berita dari berbagai media dan wawancara dengan orang-orang dekat Liem. Liem sendiri masih enggan untuk diwawancara mengenai hidupnya.

    Masyakarat luas di Indonesia hanya mengenal Liem Sioe Liong sebagai konglomerat besar. Namun tidak banyak yang tahu bagaimana masa kecilnya, dan masa muda saat ia merintis usaha dari Kudus, Jawa Tengah. Membaca buku ini membuat saya tahu mengapa Liem bisa berhasil di dunia bisnis. Jika selama ini banyak yang mempersepsikan Liem berhasil karena kedekatannya dengan kekuasaan Orde Baru, buku ini memberikan informasi yang lebih jelas mengapa ia berhasil.

    Liem Sioe Liong lahir di sebuah desa dari keluarga petani biasa. Sekolahnya tidak selesai karena ia harus menggantikan abangnya yang merantau ke Jawa. Abangnya menjadi kepala keluarga karena ayahnya meninggal. Tetapi abangnya tidak tahan dengan kondisi keluarganya yang miskin. Kondisi di desa semakin sulit. Peperangan demi peperangan terus berlangsung di wilayah dimana keluarga Liem bermukim. Liem yang setia menjadi petani, akhirnya memutuskan untuk ikut merantau ke Jawa demi memperbaiki kehidupan ekonomi keluarga.

    Pada tahun 1938, dengan menumpang Kapal Java China Japan Line (JCJL), ia menyusul abang dan pamannya sudah sudah lebih dulu merantau ke Jawa. Dengan dukungan dari organisasi masyarakat Tionghoa Chung Hoa Tsung Hui dan perkumpulan masyarakat Futching, mulai berdagang di Kudus, Jawa Tengah. Liem dikenal sebagai seorang pemuda yang rajin bekerja dan hidup hemat. Orang-orang yang mengenal Liem muda di Kudus memberi kesaksian tentang betapa rajinnya anak mud aini berdagang.

    Perjalanan karier Liem Sioe Liong di bidang perdagangan tidaklah mulus. Pada jaman Jepang, dimana para pedagang Tionghoa sangat dibatasi geraknya, Liem mengalami kebangkrutan. Para penghutang yang belum membayar kepadanya pada ngemplang tidak mau bayar. Alhasil modal Liem habis. Ia sampai harus menjual minde (buah pohon saman/trembesi) yang dikumpulkan dan digorengnya. Namun semangat yang tak kenal lelah membuatnya mampu bertahan.

    Hubungannya dengan pemerintah terjadi secara tidak sengaja. Saat itu ada “orang penting” dari Jakarta yang harus sembunyi di Kudus karena akan ditangjap Belanda. Sang politisi yang ternyata adalah mertua Sukarno (ayah dari Fatmawati) disembunyikan di rumah Liem. Liem melayani tamunya dengan sangat baik. Sejak itu Liem mulai dikenal oleh kalangan pemerintah dan tentara. Hasan Dinlah yang mengenalkan Liem dengan kalangan tentara.

    Ketika tentara republik mulai dibenahi, Liem mendapat order untuk menyediakan segala keperluan tersebut. Liem memasok bahan pangan, seragam dan tanda-tanda pangkat yang dibutuhkan oleh tentara. Kudus tersiolasi karena tidak menjadi bagian yang menjadi wilayah Belanda saat Jepang meninggalkan Indonesia. Itulah sebabnya perusahan rokok di Kudus kesulitan mendapatkan cengkeh. Cengkeh didatangkan dari Madagaskar dan Maluku. Sebagai wilayah yang tidak diduduki Belanda, maka suplai cengkeh ke Kudus tersendat bahkan macet. Liem dengan jalur pertemanannya yang luas, berhasil mendatangkan cengkeh ke Kudus.

    Jaringan perdagangan yang dibangun Lie mini juga dipakai untuk menyelundupkan barang-barang yang dibutuhkan oleh militer pada masa Agresi Belanda II tahun 1948. Namun Liem menyangkal bahwa ia pernah memasok senjata kepada militer Indonesia. Berkat kedekatannya dengan tentara dan keluwesannya bergaul, Liem bisa berkenalan dengan Kolonel Suharto dari Divisi Diponegoro. Kolonel Suharto yang kemudian diangkat menjadi Kepala Staf Territorium IV menunjuk Liem sebagai pemasuk kebutuhan Divisi Diponegoro di Semarang. Sejak itu Liem sangat dekat dengan Suharto yang kemudian menjadi Presiden Republik Indonesia.

    Bisnis Liem dari sejak Orde Lama dan semasa Orde Baru di Indonesia berfokus kepada bisnis pangan, sandang dan papan. Di bidang pangan, Liem mendirikan PT Bogasari Flour Mills yang memonopoli gandum di wilayah Indoneisa Barat. Di bidang sandang, Liem mula-mula mengimpor tekstil dari Shanghai dan kemudian mendirikan pabrik Muliatex di Kudus. Sedangkan di bidang papan, Liem mendirikan Pabrik Semen Tiga Roda, selain bisnis di bidang property. Selain dari bidang utama tersebut, Liem juga mengembangkan bisnis di berbagai bidang termasuk Bank, kendaraan bermotor, industry makanan dan sebagainya. Konglomerasi Liem tidak saja berkutat di dalam negeri, tetapi juga merambah ke luar negeri, baik di ASEAN, Asia bahkan mendunia, termasuk di Amerika Serikat dan China. Dlaam rangka perluasan konglomerasi, Liem mengakuisisi perusahaan yang sudah ada seperti Hagemeyer atau mendirikan perusahan baru seperti First Pasific dan sebagainya.

    Mengapa bisnis Liem Sioe Liong berhasil? Saya menemukan dua hal utama yang membuat Liem berhasil, selain memang dia mempunyai kesempatan. Kedua hal tersebut adalah Liem bisa memilih partner yang tepat dalam berbisnis. Contohnya saat Liem masuk ke sektor property, ia berpartner dengan Ciputra, yang memang dikenal sebagai raja properti. Kedua, Liem pandai memilih joki yang tepat untuk mengelola bisnisnya. Ia memilih Mochtar Riyadi untuk membenahi BCA sehingga BCA menjadi bank swasta terbesar dalam waktu yang sangat singkat. Liem memilih Subronto Laras untuk mengelola bisnis otomotive (Suzuki).

    Meski Liem memilih partner dan joki yang tepat, pengelolaan bisnis secara keseluruhan masih dikuasai oleh keluarga. Artinya keputusan-keputusan penting masih dilakukan oleh keluarga. Buku ini membahas mengapa Konglomerasi bisnis Liem tetap mempertahankan kepemilikan keluarga dan tidak seperti ASTRA yang sudah menggunakan manajemen barat (profesional). Meski masih menggunakan manajemen keluarga, tetapi Group Salim sudah menggunakan manajemen profesional. Anthony Salim menjelaskan tentang hal ini kepada Fikri Jufri dalam sebuah wawancara sebagai berikut: “Dalam perusahaan sebensar kelompok Liem Sioe Liong, family tidak cukup untuk memegang semuanya. Di sini kami sudah memecahkan faktor kepemilikan dan manajemen.”

    Menyadari bahwa konglomerasinya memerlukan manager-manager yang tangguh dalam jumlah banyak, Liem mendirikan Yayasan Prasetya Mulya. Melalui Institute Prasetya Mulya, kelompok Liem membuka peluang bagi anak-anak muda dan mereka yang sudah bekerja untuk belajar secara intensif di Institute ini. Institute Prasetya Mulya cukup besar memberi kontribusi kepada munculnya manager-manager baru di Indonesia.

    Buku ini cukup memberikan gambaran Liem Soei Liong dari sisi bisnisnya. Masih banyak aspek kehidupan Liem yang perlu dipelajari sehingga kita bisa memahami Sudono Salim (nama Indonesia Liem Soei Liong) dengan lebih lengkap. Semoga biografi beliau segera terbit. Biografi yang memuat aspek kehidupan beliau dengan lebih lengkap.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.