Libur Panjang Lagi, Ancaman Positif Corona Kembali Melonjak; Tak Belajar dari Kasus Sebelumnya? - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Liburan bersama keluarga (Foto: Shutterstock)

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 28 Oktober 2020 06:36 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Libur Panjang Lagi, Ancaman Positif Corona Kembali Melonjak; Tak Belajar dari Kasus Sebelumnya?

    Apakah hanya DKI yang harus siap-siap menghadapi ancaman lonjakan kasus corona karena buah libur panjang? Tentu seluruh daerah lain di Indonesia juga harus siap-siap menyambut ancaman itu. Harusnya pemerintah pusat belajar dari kasus liburan sebelumnya, lho.

    Dibaca : 1.194 kali

    Libur dan corona


    Meski pandemi corona masih merajalela, ternyata libur panjang masih ada. Kali ini akibat keputusan cuti bersama akhir Oktober 2020 oleh pemerintah pusat tak dikaji ulang. Padahal dari pengalaman sebelumnya, setelah libur panjang, kasus positif corona melonjak.

    Akibatnya, seperti diberitakan berbagai televisi dan media massa, jelang libur panjang 27 Oktober-1 November, Stasiun Pasar Senen, pada Senin, 26/10, sudah dipadati calon penumpang. Bahkan terjadi antrean panjang calon penumpang untuk menjalani rapid test Covid-19.

    Bagaimana dengan antrean calon penumpang di bandara, terminal, pelabuhan di berbagai wilayah Indonesia? Mereka yang akan bergerak dari dan antar daerah atau negara demi mengunjungi sanak saudara karena libur panjang?

    Antrean itu menunjukkan masyarakat tetap tak peduli dengan virus corona yang masih terus meningkat. Juga bukti bahwa sebagian masyarakat tetap memaksakan diri, meski mungkin tak memiliki dana cukup, untuk sekadar jalan-jalan di tengah situasi yang sulit.

    Artinya, masyarakat masih banyak yang tak mementingkan keluarganya, orang lain, dan terutama juga tak sayang pada diri sendiri. Karena mereka memaksakan diri berlibur atau mengunjungi keluarga di tengah pandemi dan ekonomi sulit.

    Di sini nampak, mana masyarakat yang cerdas dan paham mana yang wajib didahulukan seperti menyoal kebutuhan primer atau sekunder. Yang tak habis pikir mengapa pemeritah tak mencoba mencegah masyarakat bergerak antar daerah atau negara karena diberikan kesempatan libur panjang?

    Saya kutip dari Kompas.com, Senin, 26/10, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyampaikan pernah meminta pemerintah pusat mengevaluasi kembali penetapan cuti bersama Maulid Nabi Muhammad SAW. Pasalnya, pemerintah memutuskan 28 Oktober dan 30 Oktober 2020 sebagai cuti bersama Maulid Nabi Muhammad SAW dan akan ada libur panjang selama lima hari, yaitu pada 28 Oktober hingga 1 November 2020.

    Apa alasan Anies meminta pemerintah mengevaluasi menyoal libur panjang ini? Sebab, untuk mengantisipasi lonjakan kasus Covid-19 pasca liburan. Usulan mengevaluasi libur panjang ini sudah dilakukan tiga minggu lalu. Dalam rapat pertemuan dengan gugus (tugas percepatan penanganan Covid), dia menganjurkan untuk mempertimbangkan soal liburnya.

    Sayang, pemerintah pusat tetap menetapkan cuti bersama pada 28 dan 30 Oktober. Sejatinya aneh, seharusnya pemikiran mengevaluasi libur panjang ini dilakukan tanpa mendengar masukan pihak lain. Pemerintah pusat semestinya dapat berpikir sendiri dan bijak. Namun, jangankan berpikir untuk mengevaluasi atau membatalkan libur panjang demi tak bertambahnya klaster corona, ini dikasih masukan oleh kepala daerah saja tetap tak bergeming. Tetap dengan keputusannya untuk libur panjang.

    Nyawa rakyat ternyata tetap tak lebih penting dari liburan. Dan, liburan ini, juga yang akan memanfaatkan tentu rakyat yang berduit. Siapa mereka?

    Karena keputusan libur/cuti bersama ini sudah tak dapat digugat. Maka buktinya sudah nyata, stasiun Kereta sudah dibanjiri calon penumpang.

    Apa yang kini harus dilakukan oleh Pemprov DKI, yang saya sebut selalu ketiban sial dan jadi kambing hitam dari persoalan corona? Terlebih akan kena getah dari efek liburan panjang lagi?

    Anies menyebut, Pemprov DKI hanya bisa mengantisipasi lonjakan kasus Covid-19 pasca libur panjang dengan memastikan ketersediaan tempat tidur isolasi dan ICU di 98 rumah sakit rujukan. Juga menyiapkan antisipasi semua side effect-nya. Harus siap jumlah tempat tidur, kemudian kegiatan testing dan tracing karena pengalaman masa libur panjang sesudahnya suka ada lonjakan kasus Covid-19.

    Apakah hanya DKI yang harus siap-siap ada ancaman lonjakan kasus corona karena buah dari libur panjang? Tentu seluruh daerah lain di Indonesia juga harus siap-siap menyambut lonjakan kasus corona ini. Harusnya pemerintah belajar.dari kasus liburan sebelumnya, lho.

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.