Saya Bersumpah: Indonesia Itu Satu dan Satu-satunya! - Analisa - www.indonesiana.id
x

Media Cendekia

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 Oktober 2020

Kamis, 29 Oktober 2020 18:44 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Saya Bersumpah: Indonesia Itu Satu dan Satu-satunya!

    Tekad dan semangat bernilai sejarah yang diwujudkan menjadi Sumpah Pemuda ini memang bagian dari karakter ke-Indonesia-an. Ini harus selalu diwariskan dari generasi ke generasi. Ada harapan besar tentunya,  bahwa bangsa Indonesia selamanya tetap satu dalam keberagamannya sampai akhir jaman. 

    Dibaca : 1.418 kali

    ilustrasi sumpah pemuda (sumber: riauonline.co.id)

    LAGI bersemangat menasbihkan diri sebagai pemuda dan bangsa Indonesia? Wajar saja! Hari ini semua tengah dalam euforia Sumpah Pemuda. Titik kulminasi sebuah pergerakan dan tekad bulat pemuda Indonesia terhadap situasi kebangsaan kala itu. 
     
    Tekad dan semangat bernilai sejarah yang diwujudkan menjadi Sumpah Pemuda ini memang bagian dari karakter ke-Indonesia-an yang memang harus selalu diwariskan dari generasi ke generasi. Ada harapan besar tentunya,  bahwa bangsa Indonesia selamanya tetap satu dalam keberagamannya sampai akhir jaman. 
     
    Warisan yang juga tetap harus ditanamkan dan dijaga tentunya. Tidak sekadar karena kita tak mau disebut menjadi generasi bangsa yang ahistoris, atawa gampang saja melupakan sejarah berikut nilai-nilai luhurnya. 
     
    Semangat Sumpah Pemuda begitu menginspirasi sebuah persatuan yang dihalang kalangan muda Indonesia, terlebih di awal-awal sebelum terbentuknya Republik ini. Tepatnya pada 28 Oktober 1928, melalui Kongres Pemuda II yang menjadi pemicu lahirnya Sumpah Pemuda. 
     
    Dan, setidaknya pada 2009 lalu, keberadaan dan peran pemuda Indonesia lebih diteguhkan melalui Undang-Undang Nomor 40/2009 tentang Kepemudaan. Mengacu definisi yang tercantum dalam UU Kepemudaan ini, usia pemuda ternyata terbatasi rentang 16 sampai 30 tahun. 
     
    Bagi saya, ini gak penting-penting amat lah! Karena, semangat dan jiwa muda harus tetap terlekat bahkan hingga akhir hayat. Kenapa harus diam, pasrah dan berpangku tangan, jika memang kita masih kuat layaknya seorang pemuda! 
     
    Sejumlah poin penting dari UU 40/2009 ini bisa digarisbawahi, yang juga menjadi arah pembangunan kepemudaan di Indonesia. Sebut saja, kemanusiaan, kebangsaan, kebhinekaan, demokratis, partisipatif dan kemandirian. Sudahkah pemuda punya itu semua, atau memang harus selalu diperkuat lagi? Bagi penulis sederhana saja, pemuda itu mestinya punya optimisme cita-cita, daya juang, harus mandiri dan tidak justru membebani negara. 
     
    Kembali soal Sumpah Pemuda, setidaknya yang sangat bisa dimaknai dari lahirnya adalah satu tekad menjaga dan mempertahankan persatuan, solidaritas, serta kesetiaan, nasionalisme dan kecintaan kuat pada ke-Indonesia-an. Dan penulis meyakini, untuk bisa semua itu tidak harus menunggu pengakuan atau deklarasi terlebih dahulu. Tidak harus terkotak-kotak dan selalu terjebak pada simbolisme!
     
    Soal keIndonesia-an, saya tidak perlu berfaham dan dibai'at sebagai nasionalis. Saya juga tidak cukup risau, karena bukan 'santri' yang paling siap menjaga kedaulatan NKRI. Atau, menjadi aktivis sosial dan pergerakan yang pandai beretorika menyuarakan aspirasi, hingga berkeringat dan berdarah-darah. 
     
    Meneladani dan mempertahankan warisan luhur cita-cita pemuda pendahulu lebih penting, hingga turun temurun antargenerasi. Bagi saya hanya lah: Indonesia Satu dan Satu-satunya! 
     
    Republik ini memang sudah cukup lama mengalami senyap dan tertidur. Terlebih dalam masa sulit dan serba tak pasti akibat pandemi kini. Paling anyar, adalah 'Indonesia Maju' yang coba digelorakan saat 75 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Gerakan moral sudah jarang kita dengar, yang sejatinya bisa menjadi pelajaran terutama bagi milenial dan anak muda kekinian. Sebut saja, 'I Love Indonesia', 'Satu Indonesia', atau bahkan, 'Indonesia Terserah!' 
     
    Semua slogan dan gerakan moral di atas merepresentasikan kacintaan, harapan, cita-cita bahkan kekecewaan publik. Tentunya, pemuda, juga mahasiswa lah, yang paling gampang melakukannya. Terlebih, mereka juga mudah dan cepat bisa mengakses apapun yang berkembang sebagai gejala sosial atau isu-isu publik. 
     
    Jika orang sudah menyatakan 'Saya Indonesia,' maka sudah tak ada lagi ada pernyataan, Indonesia yang mana? Indonesia yang dipimpin siapa? Menunjukkan kecintaan dan kesetiaan pada Indonesia, maka tak perlu melihat asal darimana dan beratribut apa! Afiliasi dan aliansi memang perlu, tetapi jangan lantas menjadikan kita teralienasi dari sesama anak bangsa yang lain. 
     
    Singkatnya, Sumpah Pemuda sejatinya adalah janji kesetiaan dan cita-cita. Indonesia sebagi sebuah Tanah Air, punya banyak entitas bangsa, dan bahasa persatuan Bahasa Indonesia. So, cukup lah Indonesia sebagai satu dan satu-satunya! (*)
     
    Ditulis Choirul Amin, esais, founder inspirasicendekia.com.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.