Keteladanan, Hakikat Maulid Nabi Muhammad SAW, Bukan Cuti dan Libur Bersamanya - Analisa - www.indonesiana.id
x

Maulid Nabi Muhammad SAW

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 30 Oktober 2020 16:10 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Keteladanan, Hakikat Maulid Nabi Muhammad SAW, Bukan Cuti dan Libur Bersamanya

    Hakikat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, bukan cuti dan libur panjang, namun momentum untuk meneladani berbagai sifat dan kebaikannya. Termasuk meneladani pribadinya hingga keteladanannya dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Selain itu, keteladanan untuk membangun kehidupan yang lebih baik dan sifat amanah yang wajib menjadi panutan setiap pribadi manusia pada umumnya, dan khususnya sikap amanah bagi para pejabat publik di Indonesia. Bukan berlibur, jalan-jalan, berwisata, menghamburkan uang di tengah masyarakat kesusahan dan terpuruk serta ganasnya Covid-19.

    Dibaca : 613 kali

    Di tengah pandemi corona yang masih belum dapat dijinakkan dan terus meningkat di Indonesia, ternyata rakyat Indonesia justru terus digoda oleh kehidupan dunia yang justru diberikan ruangnya oleh pemerintah, bernama cuti dan libur bersama. Setelah sekian bulan hampir semua daerah di Indonesia diberlakukan PSBB. Bekerja, sekolah, kuliah, ibadah, dan lain sebagainya dilakukan di rumah (WFH), maka, saat pemerintah justru memberikan ruang yang saya sebut sebagai godaan karena memutuskan ada cuti bersama dan libur panjang, di sinilah kita dapat melihat wajah asli masyarakat Indonesia. Apakah cerdas dan bijak menyikapi kondisi dan situasi.

    Apakah godaan itu justru akan membuat masyarakat tetap sadar, konsisten, dan tak keluar rumah demi antisipasi dan pencegahan penularan virus corona? Atau, masyarakat justru akan memanfaatkan godaan berwujud "kebebasan" untuk berlibur, melakukan perjalanan, berwisata, bersenang-senang dll,di tengah corona?

    Masyarakat hedonis

    Di sinilah kita dapat melihat sikap masyarakat kita yang diberikan godaan, apakah akan menyikapi dengan cerdas intelegensi maupun cerdas emosi. Bila pada akhirnya, masyarakat lebih tergoda untuk memanfaatkan cuti dan libur bersama untuk berkunjung, melakukan perjalanan, wisata, dll, maka itulah masyarakat kita yang memang sulit dikendalikan untuk tidak hidup dalam suasana hedonis.

    Lebih mementingkan diri sendiri. Memaksakan diri dengan gaya hidup karena tak mau tersaingi oleh tetangga/saudara/masyarakat lain. Tak mau ketinggalan momentum cuti dan libur bersama sekadar untuk menunjukkan bahwa diri dan keluarganya adalah orang mampu atau kaya. Dan, akan ketinggalan bila tak ikut-ikutan gaya hidup masyarakat lainnya, karena masih memikirkan gengsi dan harga diri, ketimbang fakta bahwa sebenarnya kehidupannya tidak seperti yang diperlihatkan jadi orang hedon.

    Padahal, libur nasional dan cuti bersama Maulid Nabi Muhammad yang ditetapkan pada 28-30 Oktober 2020 yang diterbitkan berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan, serta Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) tentang Hari Libur dan Cuti Bersama tahun 2020 ini, bisa disebut sebagai fasilitas dari pemerintah. Dan, rakyat wajib memanfaatkannya secara bijak dan cerdas.

    Sayang, Hari libur nasional yang aslinya jatuh pada tanggal 29 Oktober 2020 (Kamis), merupakan Maulid Nabi Muhammad SAW, namun ditambah cuti bersama Maulid Nabi Muhammad pada tanggal 28 dan 30 Oktober 2020 (Rabu dan Jumat), ternyata tetap saja tak dapat disikapi dengan bijak oleh sebagian rakyat Indonesia. Terlebih, di tambah libur Sabtu dan Minggu, maka rakyat dapat menikmati liburan dan cuti bersama selama 5 hari.

    Pada akhirnya, masyarakat yang memaksakan diri, biasanya hanya berpikir di depan, tak memikirkan belakangnya. Semisal, yang penting jalan, berlibur, dan setelahnya bingung untuk kehidupan lanjutan terutama dari segi keuangan. Buntutnya, berbagai kewajiban tagihan menunggak, untuk makan pun susah.

    Keteladanan Nabi Muhammad SAW

    Fasilitas yang saya sebut godaan dari pemerintah dengan pemberian cuti dan libur bagi masyarakat, bila disikapi dengan bijak, seharusnya dengan kondisi seperti sekarang, akan sangat bijak bila semua masyarakat memanfaatkannya untuk tetap diam di rumah. Namun, siapa yang sebenarnya memang layak memaksakan diri untuk melakukan perjalanan dan wisata karena ada kesempatan cuti dan libur?

    Jawabnya, tentu masyarakat yang masih bekerja baik di pemeritahan maupun swasta. Lalu, masyarakat yang memiliki uang, memiliki kendaraan, dll, yaitu golongan masyarakat menengah ke atas.

    Pertanyaannya, lebih banyak mana antara masyarakat yang bekerja formal baik di pemerintahan maupun swasta, golongan menengah ke atas dengan masyarakat Indonesia pada umumnya?

    Ternyata, pada libur hari pertama, Rabu (28/10) dari berbagai laporan dan berita, ribuan kendaraan meninggalkan ibu kota dan membikin tol macet. Hal ini bahkan disebut melebihi catatan seperti Libur Hari Raya.

    Hari ke-2 libur yang tepat dengan jatuhnya Maulid Nabi, Kamis, 29/10, jalan tol pun masih dipadati kendaraan yang menuju daerah. Kepadatan pun terjadi di Stasiun Kereta Api, di Bandara, Pelabuhan. Siapa masyarakat yang memadati jalan tol, Stasiun Kereta, Bandara dll?

    Lalu, kira-kira bagaimana dengan hari ke-3, 4, dan 5 yang tentu saja akan ada arus balik? Bagaimana dengan rest area yang tentu juga akan dipadati pemudik? Bagaimana dengan tempat pariwisata? Bagaimana dengan kunjungan antar sanak keluarga yang lintas daerah? Semua sangat rentan dengan saling menularkan atau ditulari virus corona.

    Bila setelah cuti dan libur bersama, kasus dan klaster corona kembali meningkat, siapa yang menjadi penular? Siapa yang memfasilitasi terjadinya penularan karena membiarkan masyarakat bebas "berkeliaran" antar daerah?

    Kasihan rakyat jelata. Sejak corona hadir di Indonesia, hidup terus terpuruk. Hanya menjadi "penonton" gaya hedonis orang kaya, pemerintah, dan masyarakat lain. Dan, selalu jadi korban ketidakadilan, ketidaksejahteraan, plus korban penularan virus corona dari orang-orang yang bergaya "kaya".

    Seharusnya, Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, tidak dimanfaatkan untuk ditambah cuti dan libur di tengah pandemi corona. Tapi apa mau dikata, inilah pemerintahan kita sekarang. Selalu ada saja celah yang dapat dijadikan momentum, yang bisa jadi memang karena ada "kepentingan".

    Semoga, setelah cuti dan libur bersama, kasus dan klaster corona tidak signifikan meningkat, karena semua masyarakat tertib dengan protokol kesehatan dengan menyiapkan diri untuk tidak menjadi penular atau tertular corona.

    Selain itu, semoga momentum cuti dan libur Maulid Nabi Muhammad SAW ini menjadi kesadaran mayarakat untuk tidak bergaya hidup hedonis dan memaksakan diri.

    Sebab, hakikat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, bukan cuti dan libur panjang, namun momentum untuk meneladani berbagai sifat dan kebaikannya. Termasuk meneladani pribadinya hingga keteladanannya dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

    Selain itu, keteladanan untuk membangun kehidupan yang lebih baik dan sifat amanah yang wajib menjadi panutan setiap pribadi manusia pada umumnya, dan khususnya sikap amanah bagi para pejabat publik di Indonesia. Bukan berlibur, jalan-jalan, berwisata, menghamburkan uang di tengah masyarakat kesusahan dan terpuruk serta ganasnya Covid-19.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.