Orangtua yang Merasa Berjasa Bertanya: 'Orang Muda, Jasamu Apa?' - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Kepemimpinan. Pixabay.com

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 30 Oktober 2020 16:15 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Orangtua yang Merasa Berjasa Bertanya: 'Orang Muda, Jasamu Apa?'

    Yang justru aneh ialah mengapa anak muda milenial, yang dianggap suka dimanjakan dan senang bermanja-manja serta mager itu, kok sampai mau berpanas-panas di jalanan dan berteriak-teriak walaupun suaranya tidak didengarkan oleh yang diteriaki? Pasti ada yang tidak beres.

    Dibaca : 1.353 kali

     

    Sejarah selalu berulang: para orang tua mengajak anak-anak muda melakukan refleksi ke masa lampau. Masa lampau itu bisa menarik, terlebih bila heroik, tapi masa lalu juga kerap berusaha keras dilupakan manakala pahit. Nostalgia memang tak selalu menyenangkan, sebab tidak bisa diulang. Karena itulah, orang tua senang bernostalgia, tapi yang dikenang biasanya dipilih-pilih, misalnya yang romantis, yang heroik, dan sejenisnya.

    Refleksi itu bagus dalam konteks mengambil hikmah dari perjalanan hidup agar di masa mendatang hidup jadi lebih baik. Namun, ketika orang tua menghadapi orang muda, yang terjadi adalah refleksi yang nostalgis akan jasa-jasa masa lampau mereka untuk kemudian diikuti dengan pertanyaan retoris: “Anak muda, apa jasamu? Jangan cuma bisa teriak-teriak saja di jalanan.” Menonjolkan heroisme jadi bagian yang tak terhindari ketika para orang tua berbicara ihwal peran mereka di masa lalu. 

    Perilaku semacam itu barangkali memang mengiringi kebanyakan orang yang bertambah usia, apakah yang sedang menjadi tokoh masyarakat, atau masih jadi figur penting, dan apa lagi yang sudah tidak berada di panggung lagi. Orang tua semacam ini, termasuk kita yang bertambah tua, membutuhkan tempat bercerita, sebab dongeng masa lampau yang heroik itu yang bisa mereka wariskan. Yah, istilahnya, demi menjaga kelangsungan semangat perjuangan.

    Orang yang semakin tua cenderung lebih dihinggapi oleh kenangan perjuangan, dan karena itu para orang tua senang memberi nasihat ini dan itu kepada yang muda. Sesekali mengajukan tantangan, “Kamu, anak muda, ayo, apa kontribusimu bagi bangsa? Jangan maunya dimanja-manja orang tua saja.” Orang tua beranggapan, anak muda zaman sekarang tidak berjuang; bisanya hanya berteriak-teriak saja, kalau gak di medsos, ya di jalanan. Orang tua ini, maaf, kalau tidak lupa ya pura-pura tidak tahu bahwa anak-anak muda turun ke jalan karena ada alasan kuat yang membuat mereka tak sanggup lagi hanya duduk bertopang dagu atau sibuk memainkan tombol hape saja.

    Sayangnya, ketika berkisah tentang masa lampau yang heroik itu, orang tua umumnya enggan dikritisi. Orang tua lebih senang jika nasihatnya didengar tanpa perlu dipertanyakan, misalnya kenapa kok begini, kenapa bukan begitu? Pokoknya terima saja. Ketika apa yang disebut sebagai jasa itu dikritisi oleh yang muda, yang tua tersinggung dan menganggap anak muda tidak mengerti apa arti perjuangan. Hayo, siapa yang paham arti perjuangan?

    “Zaman dulu saya hanya tidur tiga jam setiap malam, memikirkan nasib bangsa ini. Sekarang kamu hidup enak, ada internet, ada telepon genggam, ada televisi 24 jam, ada youtube, ada tok tik apa tik tok itu...” Namun orang tua lupa bahwa di masa tuanya ia juga hidup nyaman, serba dilayani, dan masih bisa menikmati ber-zoom-an dengan anak cucu saat ulang tahun. Heran juga, mengapa orang tua ini tidak minta dilahirkan di zaman milenial biar tidak merasakan susahnya cari bus kota sepulang kerja malam hari di zaman dulu.

    Maka, refleksi yang seyogyanya bisa bermakna lantas berubah jadi ceramah yang membosankan, sebab ceramah ini tidak boleh dikritisi, harus diterima mentah-mentah, mesti dianggap sebagai kebenaran tanpa cacat. Banyak orang tua merasa dirinya paling benar, enggan mendengar barang secuil kritik dari anak muda—apa lagi dari anak muda milenial. “Apa sih anak milenial, hidupnya manja....” Kadang-kadang anak muda memang manja, tapi itu hasil didikan siapa? Yang suka manja pun bukan hanya yang lahir di zaman internet, di zaman dulupun setali tiga uang.

    Nah, yang justru aneh ialah mengapa anak muda milenial, yang dianggap suka dimanjakan dan senang bermanja-manja diri serta mager itu, kok sampai segitunya mau berpanas-panas di jalanan dan berteriak-teriak walaupun suaranya tidak didengarkan oleh yang diteriaki? Pasti ada sesuatu yang tidak beres sehingga anak-anak muda ini bangkit dari tempat tidur dan nekat turun ke jalan di saat pandemi masih mencekam. Mereka sudah tahu kok bahwa bakar-bakar halte itu tidak baik, dan mereka niscaya tidak melakukannya, sebab mereka mengerti apa yang baik dilakukan dan yang tidak. Lagi pula, mereka lebih suka bakar-bakaran sate, steak, ayam pedas, atau sei sapi...>>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.