Langsung Dukung Gibran dan Bobby, Partai Gelora Tak Menunjukkan Geloranya - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Anis Matta di Samarinda, Sabtu, 25 Mei 2019. TEMPO/Sapri Maulana

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 2 November 2020 06:14 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Langsung Dukung Gibran dan Bobby, Partai Gelora Tak Menunjukkan Geloranya

    Ketika Anis Matta dan Fahri Hamzah mendeklarasikan Partai Gelora, orang banyak bertanya-tanya, apakah partai baru ini membawa gagasan baru, semangat baru, dan kepedulian baru yang berpihak kepada rakyat banyak? Atau sama saja dengan partai-partai yang sudah ada saat ini? Nyatanya...

    Dibaca : 7.851 kali

     

    Jumlah partai politik di Indonesia sudah cukup banyak. Peserta pemilu tahun lalu mencapai 14 partai, namun tidak seluruh partai dapat menempatkan wakilnya di Senayan. Jumlah itu sudah membikin rakyat kewalahan dalam menentukan pilihan. Rakyat bertanya: apa sih perbedaan satu partai dengan partai lain?

    Coba perbandingkan apa yang berlangsung di panggung politik nasional dan di daerah. Biarpun di tingkat nasional partai tertentu terkesan berbeda haluan dengan partai lain, tapi di daerah bisa jadi mereka mengusung dan mendukung calon kepala daerah [bisa gubernur, walikota, atau bupati] yang sama. Bahkan di tingkat nasional, seusai pileg dan pilpres yang ingar bingar, partai yang semula berseberangan kemudian bergabung dengan kabinet presiden terpilih. Rakyat banyak dibuat bingung, apa sebenarnya tujuan dan kemauan para politikus ini? Apakah pokoknya yang penting bisa ikut berkuasa dan memerintah?

    Meskipun begitu, masih saja ada politikus yang mendirikan partai baru. Partai baru yang sudah berdiri dan absah secara hukum ialah Partai Gelora, yang dimotori oleh mantan Presiden PKS Anis Matta dan sejawatnya, Fahri Hamzah. Amien Rais dikabarkan juga akan mendirikan partai baru. Kedua ide partai baru ini agaknya muncul oleh sebab yang serupa: ketidakpuasan terhadap sikap politik kawan-kawan elite mereka di partai lama. Karena aspirasi tidak ditampung, sebagian politikus memilih keluar dan membentuk partai baru.

    Memang tidak ada larangan membentuk partai baru, namun pertanyaannya: adakah yang baru dari partai baru ini? Begitulah, ketika Anis Matta dan Fahri Hamzah mendeklarasikan Partai Gelora, orang banyak bertanya-tanya, apakah partai baru ini membawa gagasan baru, semangat baru, dan kepedulian baru yang berpihak kepada rakyat banyak? Atau sama saja dengan partai-partai yang sudah ada saat ini?

    Sebagian rakyat mungkin tidak peduli lagi ada atau tidak ada partai baru. Menurut mereka, elite partai dan politikus lainnya hanya peduli pada rakyat saat masa pemilihan umum. Rakyat dijadikan sumber legitimasi kekuasaan. Ketika musim pemilu lewat, politikus asyik dengan komunitas politikus sendiri. Namun, sebagian rakyat lainnya barangkali masih menaruh harapan bahwa partai baru akan mampu membawa angin segar yang menggairahkan kehidupan rakyat banyak.

    Kenyataannya, langkah perdana Gelora tidak menciptakan kesan mendalam pada rakyat yang sangat berharap. Mengapa? Sejak pagi-pagi, elite partai baru ini sudah menyatakan dukungan kepada Gibran dan Bobby, anak dan menantu Presiden Jokowi, yang maju ke pilkada walikota Solo dan Medan. Mendukung atau tidak mendukung memang hak politik politikus dan partainya. Namun, pilihan tersebut memudarkan harapan rakyat kepada Partai Gelora. Kenyataannya, tidak ada yang baru dari partai ini dalam hal semangat dan kepedulian kepada pengembangan demokrasi yang sehat.

    Partai Gelora terlihat tidak punya ide baru dalam memandang hubungan antara demokrasi dan kekuasaan. Dukungan kepada kedua anak muda itu menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara Gelora dan partai lainnya dalam menyikapi isu politik kekerabatan. Sebelum mendirikan Gelora, Fahri Hamzah mengritik majunya Gibran ke pilkada walikota Solo saat ayahnya masih menjadi presiden. Namun kini, setelah Gelora resmi berdiri, Fahri Hamzah bersikap sebaliknya.

    Partai Gelora, sebagaimana partai-partai lain, tampak lebih mementingkan kedekatan atau berada di lingkaran-dalam kekuasaan ketimbang memperjuangkan demokrasi yang sehat demi kemaslahatan rakyat banyak untuk jangka panjang. Gelora tampaknya lebih suka menarik perhatian partai koalisi pemerintahan agar memperoleh panggung untuk tampil. Namun, langkah perdana ini membuat rakyat banyak langsung memperoleh kesan bahwa Gelora bukanlah partai yang membawa semangat baru, ide baru, maupun kepedulian baru bagi rakyat.

    Apabila langkah mendukung anak dan menantu Presiden itu dianggap oleh elite Partai Gelora sebagai taktik politik, maka sungguh itu bukan taktik yang tepat untuk meraih perhatian dan dukungan rakyat. Namun, barangkali memang dukungan koalisi pemerintahanlah yang sedang diharapkan oleh elite Gelora dengan harapan partainya lekas mekar dan berkembang. Rakyat banyak tinggal kecele ternyata kehadiran partai baru barangkali hanya akan menambah keriuhan panggung politik yang tidak berdampak signifikan bagi perbaikan nasib rakyat banyak. Sebagai partai baru, semangat kebaruan dan pembaruan Partai Gelora ternyata tidak tampak bergelora.  >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.