Kejanggalan Pemanggilan Pemain Timnas U-19 dan Pemilihan Pemain Garuda Select 3 - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

Janggal

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 5 November 2020 11:34 WIB

  • Olah Raga
  • Berita Utama
  • Kejanggalan Pemanggilan Pemain Timnas U-19 dan Pemilihan Pemain Garuda Select 3

    Rasanya, semakin ke sini, manajemen PSSI semakin tak seperti federasi yang sebuah organisasi. Pemanggilan TC pemain Timnas U-19 pun diyakini bukan kemauan STy. Sama halnya, terpilihnya 26 pemain Garuda Select 3 pun sudah diskenario sejak awal. Agen pemain, mafia pemain, dan berbagai kepentingan pun diyakini oleh publik sepak bola nasional masih terus lengket. Semua serba kepentingan dan titipan. Sayangnya, meski publik tahu kisah-kisah ini, publik pun tetap tak bisa berbuat apa-apa dan tetap hanya menjadi penonton. Sepak bola nasional tetap saja menjadi milik yang sedang "menguasa" yang terus memainkan intrik, taktik, dan politiknya, meski publik tahu kisah sebenarnya.

    Dibaca : 1.418 kali


    Setelah diliburkan usai menjalani TC panjang  yang menciptakan rekor dunia (2 bulan) bahkan bak turis di Kroasia, media massa di Indonesia sejak Rabu, 4/11, sibuk merilis berita pemanggilan pemain Timnas U-19 yang terutama bersumber dari Instagram PSSI.

    Namun, yang sangat cepat direspon oleh publik sepak bola nasional, bukankah Shin Tae-yong (STy) belum hadir ke Indonesia sepulang dari Kroasia? Meski STy sudah di Indonesia pun, juga sedang tidak ada kompetisi. Lalu, dari mana STy bisa mendapatkan nama-nama pemain baru yang kini terpublikasi masuk pemanggilan TC Virtual Timnas U-15 pada 5 hingga 15 November 2020?

    Malah dari 27 pemain di luar Elkan dan duo saudara pemain keturunan Jerman, tercatat hanya nama Witan dan Ahmad Rusadi yang tidak ada. Namun, seperti yang sudah pernah diungkap STy di Kroasia, Witan dan Elkan sudah masuk skuat utama. Jadi, tentu saja Witan memang sengaja tak disertakan dalam TC Virtual, meski sejatinya nama Witan tidak masuk dalam skuat Radnik Serbia. Artinya Ahmad Rusadi sudah dicoret dari tim.

    Publik pun deras bertanya, mengapa pemain lain yang nasibnya sama seperti Rusadi banyak duduk dibangku cadangan dan benar-benar dijadikan turis di Kroasia oleh STy, namanya masih masuk dalam daftar pemain yang dipanggil? Dari mana pula STy melihat kemampuan pemain yang pernah dicoret di TC sebelumnya berkembang dan kini ada di dalam daftar pemain yang dipanggil lagi? Padahal semua pemain dalam kondisi menganggur,

    Lebih dari itu, berbagai media massa nasional pun kini juga sangat getol menyiarkan berita tentang STy yang sedang membidik beberapa pemain keturunan demi ditarik masuk Timnas U-19.

    Dengan semua kisah tersebut, rasanya pemanggilan 33 pemain yang hanya sekadar untuk TC Virtual, cukup janggal. Secara logika, sepulang dari Krosia saja seharusnya banyak pemain yang dicoret dan publik pun bisa menyebut siapa saja nama pemain yang seharusnya dicoret oleh STy, bukan cuma Ahmad Rusadi.

    Lebih lucu, bisa-bisanya ada nama pemain yang sudah dicoret dalam TC sebelumnya, namanya muncul lagi, padahal publik tahu kualitas pemain ini. Dan bisa-bisanya ada pemain muka baru, yang STy sendiri dijamin belum pernah melihat aksi pemain bwrsangkutan di lapangan.

    Sepertinya, STy tidak tahu apa-apa tentang pemanggilan 33 nama pemain yang dipersiapkan untuk TC Virtual ini. Sepertinya memang ada pihak yang mengatur dan menjadikan ini sekadar penawaran buat STy. Sehingga proses Timnas U-19 pun terus diganggu oleh "mafia atau agen pemain" yang memang memiliki kepentingan pribadi, bukan untuk kepentingan sepak bola nasional.

    Sungguh, bila dianalisis, pemanggilan nama 33 pemain Timnas U-19 kali ini juga sangat terasa kejanggalannya, dan lagi-lagi semua seolah atas nama STy.

    Kejanggalan pemanggilan pemain Timnas U-19, juga setali tiga uang dengan  proses seleksi Program Garuda Select 3 yang juga sedang tidak ada kompetisi.

    Setelah melakukan serangkaian seleksi, ternyata, dari informasi yang masif beredar di media sosial, 26 pemain yang akhirnya terpilih, 19 pemain berasal dari EPA Liga 1 2019, 3 dari Piala Soeratin U-15 2019 dan 4 dari non Liga/Kompetisi PSSI.

    Tentu dengan demikian, nama EPA memang menjadi fokus, meski itu terjadi pada 2019, bukan di 2020.

    Setelah coba saya cari infomasi, ada orang tua pemain yang  anaknya mendapat panggilan seleksi Garuda Select secara resmi dengan surat dari PSSI, setelah tahu nama-nama pemain yang dipanggil, sejak awal bahkan sudah dapat menyebut hampir 10 nama pemain yang pasti akan lolos hingga proses akhir, dan ternyata terbukti.

    Namun, orang tua ini sangat berbesar hati, dan anaknya pun menerima dengan lapang dada meski telah sampai pada tahap 39 nama, saat pengumuman akhir 26 pemain yang dipilih, informasinya hanya melalui pesan whatsapp (wa) jaringan pribadi (japri).

    Luar biasa, ini Program Garuda Select 3, Program PSSI. Masa penghargaan kepada pemain yang tak terpilih hanya seperti itu. Cara ini pun sangat tak menganggap keberadaan tim/klub yang menaungi pemain. Apa susahnya membuat surat resmi untuk 39 pemain dengan keterangan terpilih dan tidak terpilih yang ditujukan kepada tim/klub yang sama ketika PSSI memanggil pemain.

    Rasanya, semakin ke sini, manajemen PSSI semakin tak seperti federasi yang sebuah organisasi. Pemanggilan TC pemain Timnas U-19 pun diyakini bukan kemauan STy. Sama halnya, terpilihnya 26 pemain Garuda Select 3 pun sudah diskenario sejak awal. Agen pemain, mafia pemain, dan berbagai kepentingan pun diyakini oleh publik sepak bola nasional masih terus lengket. Semua serba kepentingan dan titipan.

    Sayangnya, meski publik tahu kisah-kisah ini, publik pun tetap tak bisa berbuat apa-apa dan tetap hanya menjadi penonton. Sepak bola nasional tetap saja menjadi milik yang sedang "menguasa" yang terus memainkan intrik, taktik, dan politiknya, meski publik tahu kisah sebenarnya.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.