Saat Kritik Harus Berhadapan dengan UU ITE - Analisa - www.indonesiana.id
x

Kritik

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 7 November 2020 14:53 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Saat Kritik Harus Berhadapan dengan UU ITE

    Rasanya, kini pintu demokrasi memang hanya sekadar slogan, karena ketika rakyat beraspirasi melalui sebuah cara bernama kritik, hanya menjadi kata-kata yang numpang lewat. Bila kata-katanya salah atau melanggar ITE, maka jelas akan berurusan dengan yang menangkapi.

    Dibaca : 673 kali

    Orang yang rendah hati, luhur budi, biasanya cerdas intelegensi dan emosi, maka kritik menjadi sahabat dalam kehidupannya bukan menjadi musuhnya. (Supartono JW.07112020)

    Demokrasi di Indonesia kini mati? Itulah fenomena yang kini mengemuka di Republik ini. Bahkan, pemimpin Indonesia, Presiden Jokowi dan DPR dianggap oleh mahasiswa di berbagai daerah nusantara telah mati hati nurani karena tak lagi mendengar aspirasi dan teriakan rakyat baik menyoal UU Cipta Kerja, UU KPK, dan UU lainnya yang tak memihak rakyat.

    Saking kesalnya, malah ada ulama yang sampai menantang duel fisik kepada salah satu staf ahli di Istana Negara, karena terus mengumbar pernyataan yang menyakiti hati rakyat, diladeni secara cerdas intelektual sudah tak dapat meluluhkan pikiran dan mata hatinya yang sudah terkunci.

    Bahkan, kebebasan berpendapat yang merupakan hak setiap individu di NKRI Negara Indonesia, sejak adanya UU ITE, sejumlah aktivis dan pihak yang dianggap menentang pemerintah ditangkap dengan tuduhan pelanggaran UU ITE.

    Rasanya, kini pintu demokrasi memang hanya sekadar slogan, karena ketika rakyat beraspirasi melalui sebuah cara bernama kritik, hanya menjadi kata-kata yang numpang lewat. Bila kata-katanya salah atau melanggar ITE, maka jelas akan berurusan dengan yang menangkapi.

    Pelajaran untuk rakyat

    Mengapa kritik rakyat tak lagi didengar apa lagi dianggap oleh penguasa di negeri yang kini sedang diberikan amanah untuk memimpin karena dipilih oleh rakyat?

    Di antara sebabnya, seperti yang sudah diungkap oleh berbagai kalangan, karena kepemimpinan di periode kedua Presiden Jokowi ini, sudah tak ada beban. Tak ada beban, mau rakyat masih mencintai atau membenci karena periode berikut sudah pasti tak menjadi Presiden. 

    Jadi, inilah saatnya untuk membikin segala sesuatu berdasarkan "sesuatu" yang bukan aspirasi rakyat, karenanya meski dianggap telah mati hati nurani, tak masalah.

    Bila kini rakyat benar-benar telah menjadi saksi dari fenomena demokrasi di Indonesia yang dianggap telah mati, rakyat harus tetap sadar dan mawas diri. Rakyat tetap harus hidup dan melanjutkan kehidupan meski pemerintah dianggap tak lagi berpihak kepada rakyat.

    Pelajaran dari ini semua, siapa pun rakyat, di dalam segala tindak tanduk perikehidupannya, jangan sekali-kali anti kritik, anti saran dan masukan. Sebab, tak akan ada kehidupan manusia yang berhasil tanpa diiringi kritik, masukan, dan saran.

    Pahamilah kritik sesuai KBBI yang bermakna kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya.

    Pahamilah bahwa kritik adalah proses analisis dan evaluasi terhadap sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan.

    Sehingga, siapa pun orang yang menggeluti pekerjaan dalam bidang apa pun, wajib senantiasa bersinggungan dengan kritik. Sebab benderang bahwa kritik adalah proses analisis dan evaluasi yang dilakukan dengan cara positif seperti tanggapan dan pertimbangan atau cara negatif berupa kecaman yang tetap ada uraian mengapa ada kecaman.

    Budayakan menerima kritik

    Perlu diingat bahwa selama ini dalam kehidupan masyarakat, budaya menerima kritik memang masih memprihatinkan. Jangankan masyarakat yang belum mengenyam bangku pendidikan dan belum pernah menerima pelajaran tentang diskusi yang di dalamnya ada tata cara menyampaikan pendapat hingga cara mengritik yang cerdas.

    Masyarakat terdidik saja, masih sulit menerima kritik meski disampaikan dengan cara yang benar, arif, dan bijaksana karena masih rendahnya kecerdasan intelektual dan emosional seseorang.

    Di kantor-kantor baik instansi maupun institusi, banyak pemimpin yang masih tak terima bila dikritik bawahan. Hingga di rumah tangga, pemimpin keluarga pun tak mau dikritik oleh anggota keluarga yang lain.

    Lihat bagaimana dalam kehidupan masyarakat secara umum, terutama di tempat umum, jalan raya, lingkungan masyarakat, warga mudah sekali emosi tak kala ditegur, di kasih masukan, diingatkan, padahal bukan dikritik, tapi sudah bisa timbul perkelahian hingga tawuran, dan pembunuhan.

    Hadirnya media sosial, pun semakin menyuburkan kehidupan masyarakat yang anti masukan, anti saran, anti kritik, terlebih, para pemimpin kita juga terus mencekoki masyarakat pada contoh-contoh teladan anti kritik dan jago mencibir, menghujat, dan berseteru.

    Dari literasi berbagai penelitian, orang yang cerdas intelektual dan emosional biasanya akan mampu menerima dan mengelola kritik menjadi sesuatu yang sangat berharga. Bukan, sebaliknya menjadikan kritik dari orang lain atau pihak lain malah dijadikan senjata menyerang balik atau mencipta konfilk.

    Namun, bila kita menemukan orang-orang di berbagai tempat dan kegiatan perikemanusiaan dan perikehidupan akhirnya berkonflik akibat dari sebuah kritik, maka dipastikan siapa pun yang dikritik namun justru merasa diserang, diadili, hingga dipermalukan, jelas yang bersangkutan memang benar-benar wajib mericek kecerdasan intelektual dan emosionalnya, mentalnya.

    Pertanyaannya, bila pemimpin yang diberikan amanah oleh rakyat, lalu langkahnya, tindakannya, kebijakannya dikritik oleh rakyat karena rakyat telah melakukan analisis, evaluasi dan sebagainya yang kesimpulannya semua yang dilakukan tak memihak rakyat, namun kritiknya justru tidak di dengar dan diabaikan, apakah pemimpin kita sedang tak cerdas intelektual dan tak cerdas emosi? Rasanya tidak. Bila tidak, lalu apa yang kini sedang terjadi pada pikiran dan hati nurani pemimpin kita? 

    Jawabnya, rakyat pun tahu apa yang sedang terjadi. Oleh sebab itu, karena rakyat harus tetap hidup dan melanjutkan kehidupan, jadilah rakyat yang dapat menerima saran, masukan, dan kritik demi kehidupan yang lebih baik. Mulailah dari diri kita sendiri. Kritik itu cermin. Kritik itu evaluasi. Kritik itu kunci untuk berubah, berkembang, dan maju.

    Bila kini ada UU ITE, maka bagi siapa saja yang hobi atau pekerjaannya mengkritik tanpa ada argumentasi dan alasan, hanya memperkeruh suasana dan masalah hingga timbulkan perseteruan dan permusihan, hati-hati apalagi bila sampai terpublikasi di media sosial. 

    Ingat, "orang yang rendah hati, luhur budi, biasanya cerdas intelegensi dan emosi, maka kritik menjadi sahabat dalam kehidupannya bukan menjadi musuhnya."



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.